PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

WARNA PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAHKU

Oleh: Tutus Setiawan

Sejak lahir manusia dianugerahi hak-hak dasar oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setiap orang harus menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak tersebut. Dan barang siapa melanggar hak orang lain, itu berarti melanggar ketentuan Tuhan. Salah satu hak yang dimiliki manusia adalah hak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Di Indonesia, hak pendidikan bagi warga negara diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.”

Dalam beberapa tahun belakangan ini, pendidikan mendapat perhatian lebih dari pemerintah Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dengan naiknya anggaran pendidikan, yaitu 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di samping itu, pemerintah juga memberi perhatian khusus terhadap pendidikan bagi kaum difable. Hal ini direalisasikan dengan dicanangkannya program inklusi di sekolah-sekolah umum. Dengan adanya program inklusi, kaum difabel dapat mengenyam pendidikan sebagaimana orang normal.

Mengenyam pendidikan setinggi-tingginya adalah cita-cita semua orang. Tidak terkecuali diriku yang penyandang tunanetra. Kekurangan pada indera visual tak menyurutkan semangatku untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Hampir selama 9 tahun aku menuntut ilmu di sekolah luar biasa, hingga akhirnya di tahun 1997 aku melanjutkan pendidikan di sekolah menengah umum.

Sekolah Menengah Umum (SMU) Bhayangkari 2 merupakan SMU terakhir yang menjadi pilihanku, setelah beberapa SMU sebelumnya menolakku menjadi siswanya. Dewan guru yang ada di sekolah-sekolah tersebut mengatakan mereka tidak siap mengajar siswa tunanetra, selain tidak ada fasilitas khusus bagi tunanetra. Berbagai penjelasanku tak menggoyahkan keputusan mereka. Di SMU Bhayangkari 2 pun, dewan guru sebenarnya masih ragu-ragu dalam menerimaku. Namun aku dapat meyakinkan mereka dengan janji bahwa bila aku tak dapat mengikuti proses belajar-mengajar selama 1 catur wulan, maka aku akan mengundurkan diri.

Di SMU Bhayangkari 2 inilah untuk pertama kalinya aku berinteraksi dengan orang “awas” (berpenglihatan) secara penuh, karena sebelumnya aku hanya bergaul dengan komunitas tunanetra. Sebagai SMU yang baru pertama kali menerima siswa tunanetra, tentu banyak penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan oleh para guru, terutama mengenai sistem pengajaran di kelas. Pada awal mengikuti proses belajar-mengajar, aku sering memberi petunjuk pada guru-guru yang memberikan penjelasan di depan kelas hanya dengan menunjuk tulisan yang ada di papan tulis tanpa menyebutkan tulisan apa itu. Akan tetapi petunjuk itu kusampaikan dengan kata-kata yang sopan sehingga mereka mau mengerti.

Setiap guru mempunyai metode yang berbeda dalam mengajarku di kelas. Untuk pelajaran tertentu yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti Matematika, Fisika, dan Kimia, guru tak segan-segan langsung membimbingku secara individual. Bahkan untuk materi yang berupa gambar, beliau langsung memperagakannya dengan cara mengarahkan jari telunjukku membentuk gambar yang dimaksud. Ada pula guru yang mendiktekan materi secara langsung sehingga aku bisa mengikutinya. Namun ada juga guru yang menyampaikan materi dengan menuliskannya di papan tulis. Menghadapi tipe guru yang semacam ini, aku biasanya meminta tolong pada teman sebangku untuk membacakannya. Selain itu aku selalu membawa tape kecil untuk merekam setiap pelajaran di kelas, dan sesampainya di rumah, rekaman itu kudengarkan sambil sambil kucatat hal-hal yang kuanggap penting.

Bila aku mendapat pekerjaan rumah dari guru, aku mengerjakannya dengan menggunakan mesin ketik “awas”. Namun bila tugas harus diserahkan saat itu juga di kelas, maka aku minta tolong kepada teman sebangku untuk menuliskannya di buku tugasku. Itupun setelah tugasnya sendiri selesai lebih dulu. Terkadang guru juga memintaku maju ke depan kelas untuk menuliskan jawabanku di papan tulis. Untung aku pernah mengenal huruf “awas”, jadi kutulis saja meskipun tulisanku naik turun. Dan setelah itu biasanya teman-teman sekelas menyorakiku karena mereka menganggap aneh tunanetra yang bisa menulis “awas”.

Dalam beberapa mata pelajaran yang banyak membutuhkan penglihatan, aku sering mengalami kesulitan. Misalnya ketika praktikum. Pada saat praktikum, aku hanya bisa mendengarkan penjelasan dari guru tanpa bisa mengikuti praktiknya. Guru hanya bisa menunjukkan beberapa jenis alat yang ada di laboratorium untuk kuraba. Begitu pula dengan pelajaran Komputer. Belum adanya program screen reader di Surabaya pada waktu itu, menyebabkan aku kesulitan dalam mengoperasikan komputer. Bila ada pelajaran Komputer, aku mencatat teorinya saja. Bila tiba waktu praktik, aku hanya bisa melakukan hal-hal yang ringan, seperti mengetik di program Microsoft Word; meskipun aku tak dapat mengoreksi sendiri tulisanku di layar komputer.

Berbeda lagi pada saat pelajaran Olahraga. Dengan keterbatasan yang kupunyai, aku hanya bisa melakukan praktik Olahraga sesuai dengan kemampuanku saja. Sebelum pelajaran Olahraga dimulai, guru meminta para siswa untuk melakukan pemanasan. Pemanasan dilakukan dengan senam kecil. Supaya aku bisa mengikutinya, biasanya guru membimbingku dengan memberi pengarahan gerakan apa yang sedang dilakukan. Bila aku mengalami kesulitan, maka beliau langsung mendekatiku lalu menyuruhku meraba gerakan tubuhnya, dan aku menirunya. Setelah senam selesai, guru memerintahkan semua siswa untuk berlari mengelilingi lapangan. Beliau melarangku untuk ikut berlari. Tetapi aku menolaknya. Aku meyakinkan kepada beliau bahwa aku mampu melakukan hal tersebut. Karena aku terus memaksa, beliau akhirnya mengizinkanku. Aku berlari dengan cara memegang lengan salah seorang teman. Guruku terus mengawasiku dengan berlari tak jauh dariku. Semenjak itu aku diperbolehkan ikut berlari bersama siswa yang lain, bahkan terkadang beliau sendiri yang menggandengku. Sedangkan untuk permainan seperti bola voli, basket, atau sepak bola aku tak bisa mengikutinya. Aku hanya duduk-duduk atau berdiri di tepi lapangan menunggu mereka selesai.

Permasalahan muncul saat aku menghadapi ulangan harian. Aku meminta izin kepada kepala sekolah untuk membawa relawan pembaca, tetapi beliau tidak memperbolehkannya. Begitu pun saat aku berkata hendak membawa mesin ketik “awas”, beliau tak mengizinkan pula. Beliau hanya mengatakan bahwa para guru telah mempunyai cara sendiri agar aku dapat mengerjakan ulangan harian di kelas.

Dan memang benar, masing-masing guru mempunyai teknik yang berbeda dalam memperlakukanku ketika ulangan harian. Ada guru yang langsung membacakan soal dan menuliskan jawabanku di kertas yang tersedia. Ada pula guru yang mendiktekan soalnya, lalu aku menjawab dalam huruf Braille. Dan setelah ulangan selesai, aku dipanggil ke kantor guru untuk membacakan jawabanku. Yang lebih ekstrim lagi, ada salah seorang guru memberikan ulangan lisan di depan kelas, setelah semua siswa mengumpulkan hasil ulangannya. Jadi semua siswa dapat mendengarkan jawabanku. Semula aku memang grogi, akan tetapi lama-kelamaan terbiasa juga. Beberapa guru lain mempunyai metode yang berbeda, yaitu menyuruh teman sebangkuku untuk mendiktekan soal sekaligus menuliskan jawabanku. Konsekwensinya, aku berbagi jawaban dengan yang lain. Tetapi tak mengapa, kuanggap saja itu sebagai imbalan karena dia sudah membantuku. Maka tak heran bila teman-teman banyak yang berebut duduk di bangkuku ketika ada ulangan.

Untuk ulangan subsumatif dan sumatif, kepala sekolah mempunyai kebijakan lain. Beliau mengizinkan aku untuk membawa relawan pembaca. Dalam pelaksanaan ulangan pun tempatku terpisah dari siswa yang lain. Jika siswa lain mengerjakan soal di kelas, maka aku bersama pembaca mengerjakan soal di kantor guru. Di ruangan ini kepala sekolah menugasi seorang guru untuk mengawasi sekaligus menjagaku.

Tiap kali guru membagikan hasil ulangan, nilai yang kuperoleh tidak kalah dibanding teman-teman sekelas lainnya. Bahkan pada waktu penerimaan rapor catur wulan I, wali kelas mengatakan bahwa aku mendapat ranking pertama. Hal ini tentu sangat membuatku bahagia. Kedua orang tuaku juga merasa bangga. Para guru merasa salut terhadap segala usaha yang kulakukan selama mengikuti pembelajaran di kelas.

Dalam pergaulan, di awal masa sekolah aku memang mengalami sedikit hambatan. Sikapku yang agak pemalu menyebabkan tak banyak teman yang dekat denganku. Namun seiring dengan bergulirnya waktu, sedikit demi sedikit aku dapat mengubah sikapku. Kecanggunganku bergaul dengan orang “awas” mulai kutepiskan jauh-jauh. Aku berusaha memahami karakter teman-temanku sekelas. Aku selalu berusaha ikut aktifitas mereka selagi bisa.

Trik yang kupakai tersebut membuahkan hasil, satu per satu teman dapat aku dekati. Ditambah dengan kemampuanku di bidang massage, aku pun dapat semakin mengakrabkan diri dengan mereka. Hanya dengan sekedar memijat tangan, kepala dan sebagian punggung, mereka tak segan-segan membantuku bila kuperlukan. Bila teman sebangkuku absen, tanpa diminta, secara bergantian mereka bersedia mendiktekan atau menulis untukku. Tidak hanya itu, mereka pun sering mengantarku pulang ke rumah. Tidak jarang juga mereka mengajakku ke rumah mereka, baik untuk belajar kelompok maupun sekedar mengobrol.

Sebagai siswa, aku juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Bahkan aku bersama beberapa teman sekelas dipercaya memegang Seksi Bakat Minat. Kesempatan ini tak kusia-siakan begitu saja. Aku berusaha memanfaatkan kedudukanku untuk menambah wawasan dan pergaulanku. Aku merasa bersyukur, karena orang-orang yang ada disekitarku menganggap aku sama dengan yang lain tanpa melihat kekurangan yang kumiliki.

Di SMU Bhayangkari 2 ini aku merasa senang. Karena di sinilah aku dapat mengembangkan kemampuanku. Selain itu aku bersyukur sebab sepeninggalku, SMU ini ternyata masih bersedia menerima penyandang tunanetra lain. Bahkan segala kemudahan juga mereka berikan kepada para siswa penyandang tunanetra.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013