PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

TUNANETRA YANG "AWAS"

Oleh: Rila Wirawan

Keluarga yang edukatif akan mencetak individu yang mandiri dan berkualitas. Mandiri dalam pergaulan dengan keluarga, lingkungan sekitar, maupun lingkungan formal seperti sekolah dan sebagainya. Berkualitas dalam arti mampu menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga diterima sebagai bagian dari komunitas yang ada. Kemandirian dan kualitas seseorang adalah prasyarat tumbuhnya rasa percaya diri sebagai modal utama keberhasilan individu mengaktualisasikan diri dalam masyarakat. Rasa percaya diri inilah yang sebenarnya dibutuhkan dalam pergaulan sehari-hari. Ini berarti, tumbuhnya rasa percaya diri berawal dari keluarga yang edukatif.

Namun agaknya kondisi semacam itu masih sulit terwujud dalam keluarga dengan orang tua yang berpendidikan di bawah rata-rata. Lebih parah lagi jika ada anggota keluarga yang menyandang kecacatan seperti ketunanetraan. Fakta menunjukkan bahwa tunanetra yang berasal dari keluarga yang demikian, pada umumnya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Rasa kasihan dari orang tua dan anggota keluarga lain, proteksi yang berlebihan, atau mungkin sebaliknya rasa malu keluarga atas keberadaan tunanetra, dan sebagainya, merupakan contoh perwujudan suasana keluarga yang tidak edukatif. Perlakuan-perlakuan semacam inilah yang membuat tunanetra menjadi seorang yang rendah diri; rasa percaya dirinya sulit berkembang. Jika demikian adanya, seorang tunanetra akan mengalami apa yang disebut dengan maladjustment, suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu menyesuaikan diri sehingga sulit diterima sebagai bagian (anggota) dari komunitasnya.

Seperti halnya keluarga, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan pengejawantahan keluarga yang secara sistematis diharapkan dapat mencetak anak didik menjadi individu yang mandiri dan berkualitas, baik secara intelektual maupun mental spiritual. Jika itu diperoleh, rasa percaya diri anak didik akan berkembang dengan baik, yang pada akhirnya akan menciptakan suasana pergaulan yang lebih sehat, baik antara anak-anak didik itu sendiri maupun antara anak didik dengan pendidik. Terlebih lagi bila sekolah itu memang dipersiapkan menjadi lembaga pendidikan inklusif, yaitu lembaga pendidikan umum yang menerima penyandang cacat sebagai anak didiknya di samping anak didik umum (bukan penyandang cacat). Di sekolah seperti ini, tunanetra bisa mendapat kesempatan yang lebih besar untuk menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga pada umumnya tunanetra bisa menjadi lebih eksis di kalangan teman-teman sekolahnya.

Mari kita cermati kesamaan antara lembaga pendidikan inklusif dengan lembaga pendidikan integrasi, yaitu adanya penyatuan/pembauran antara siswa penyandang cacat dengan siswa didik umum dalam satu lembaga pendidikan. Tunanetra yang banyak mengalami problem di sekolah biasanya memiliki beraneka-ragam pengalaman yang unik, baik pengalaman dalam belajar maupun pengalaman dalam pergaulan sosial. Dari pengalaman-penghalaman mereka, dapat ditarik suatu kesimpulan yang sangat bermanfaat bagi penyelesaian berbagai permasalahan tunanetra generasi berikutnya, khususnya persoalan penerimaan orang “awas” (berpenglihatan) terhadap tunanetra yang menempuh studi di sekolah umum (bukan Sekolah Luar Biasa, SLB).

Berikut ini adalah salah satu pengalaman Penulis dalam mengikuti proses belajar di lembaga pendidikan umum, baik Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) maupun perguruan tinggi. Penulis adalah seorang tunanetra total yang melanjutkan studi ke sekolah umum selepas dari SLB/A (SLB khusus tunanetra) setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Surabaya. Kisah ini terjadi di tahun 80an, tepatnya antara tahun 1980-1988. Meskipun cerita ini hampir usang, makna bersosialisasi di sekolah bersama dengan orang “awas” masih terekam utuh sebagai pedoman pengajaran tunanetra dalam pergaulan.

Di kala itu Wandi, panggilan akrab Penulis di kalangan teman sebaya, sempat merasa bingung, tak tahu bagaimana harus bersikap terhadap teman sekelas yang begitu banyak. Maklumlah, teman sekelas Wandi sebelumnya di SLB hanya berkisar tiga sampai enam orang saja, tak pernah lebih dari itu. Di sekolah yang baru, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri 1 Surabaya, Wandi berada di antara sekian puluh teman sekelas; apalagi ia adalah tunanetra satu-satunya di sekolah itu. Suatu pemandangan aneh dan asing di mata teman-temannya pada waktu itu: seorang tunanetra bersekolah di sekolah umum. Lebih menarik lagi bagi mereka ketika melihat Wandi menulis dan membaca materi pelajaran. Keunikan-keunikan mereka lihat dalam cara Wandi belajar dan bergaul; bak tontonan menarik yang perlu disaksikan.

Wandi terus melangkah. Ia harus segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru. Untung ada beberapa guru senior yang telah lama mengenal tunanetra. Mereka membantu Wandi bersosialisasi dengan teman-teman sekelas dan kelas lain, serta guru-guru. Ternyata sekolah Wandi sudah pernah menerima tunanetra sebelumnya. Wandi merasa sangat terbantu dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah yang baru. Berangkat dari sinilah rasa percaya diri Wandi sedikit demi sedikit tumbuh. Ia merasa menjadi bagian dari teman-temannya. Timbullah rasa tanggung jawab akan eksistensinya di kalangan teman-teman sekelas. Jika telah demikian adanya, maka rasa solidaritas dalam berteman akan muncul seiring dengan terbentuknya kelompok-kelompok belajar yang berubah-ubah menurut kepentingan pada waktu itu.

Dalam dinamika pergaulan dengan teman sekelas, Wandi banyak mengalami kejadian yang unik dan sulit terlupakan. Oleh wali kelas, Wandi diberi tempat duduk paling depan, padahal siswa perempuanlah yang banyak memenuhi tempat duduk di depan. Alhasil, Wandi duduk sebangku dengan siswa perempuan. Teman sebangku inilah yang banyak membantu Wandi, khususnya dalam membacakan dan menerangkan ilustrasi yang ditulis guru di papan tulis. Dengan kondisi demikian, mayoritas teman laki-laki menjauh darinya karena Wandi dianggap kelompok siswa perempuan. Menyadari adanya tanda-tanda ketidakharmonisan ini, Wandi berusaha mencoba bergaul dengan kelompok siswa laki-laki meski mulanya agak rikuh. Ia pun beritikad untuk mengikuti ekstrakurikuler yang mayoritas pesertanya siswa laki-laki. Semua cara ia lakukan demi menetralkan suasana pergaulan dengan semua teman tanpa terkecuali.

Ada kalanya pujian beberapa guru atas dirinya menjadi beban mental tersendiri bagi Wandi untuk menjaga persepsi guru. Dari sini timbul kemauan Wandi belajar lebih giat lagi untuk meraih prestasi belajar di atas rata-rata. Motivasi untuk meraih prestasi berkembang pesat, terlebih lagi ketika kesuksesan itu akhirnya tercapai di akhir setiap jenjang kelas; rasa percaya diri pun semakin mantap.

Ditunjang oleh keterampilan bermain musik, Wandi pun memperoleh teman yang cukup banyak. Banyaknya teman inilah yang mengantarkan Wandi menjadi seorang yang supel dan humoris dalam bergaul; sampai-sampai ia lupa akan ketunanetraannya. Ia sadar bahwa dirinya sebagai anggota komunitas mempunyai kekurangan, sebagaimana halnya teman-teman yang lain juga mempunyai kekurangan meski berbeda-beda. Rasa percaya diri pun semakin terpupuk subur dalam setiap pergaulan sosial.

Alkisah, Wandi mulai menempuh studi di perguruan tinggi. Ia mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karena jurusan ini sudah tidak asing lagi terhadap penyandang cacat, Wandi merasa nyaman kuliah hingga meraih gelar kesarjanaan. Ada satu hal yang hingga kini sangat berkesan dan menginspirasi dalam hidupnya. Wandi merasa bersyukur memiliki keterampilan bermain musik. Lagi-lagi berkat keterampilan inilah Wandi mendapat banyak teman; termasuk mendapatkan teman di awal kuliah, mengingat tak ada teman satu sekolah Wandi yang mengambil jurusan ini. Ia pun sempat berpikir: betapa pentingnya bagi tunanetra untuk membekali diri dengan keterampilan yang bermanfaat untuk orang “awas”.

Dari kisah masa remaja Wandi, banyak hal yang dapat dipetik hikmahnya dan dijadikan salah satu referensi pendidikan tunanetra dalam meraih prestasi, khususnya untuk menumbuhkembangkan rasa percaya diri dalam pergaulan sosial di berbagai lingkungan. Hal yang pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang tunanetra berawal dari lingkungan keluarga. Sikap edukatif orang tua dan anggota keluarga yang lain akan membuat seorang tunanetra menjadi individu yang mandiri dan berkualitas sebagai prasyarat tumbuhnya rasa percaya diri. Rasa percaya diri inilah yang dibutuhkan dalam pergaulan sosial hingga tunanetra mampu membuktikan eksistensinya dalam masyarakat.

Kisah studi seorang Wandi mengisyaratkan betapa pentingnya keberadaan lembaga pendidikan inklusif dalam mempermudah tunanetra menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan yang baru. Sikap dan perilaku guru yang berpengalaman dalam menghadapi penyandang cacat sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Penyelenggara pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai sebuah keluarga besar yang edukatif, mengingat latar belakang kehidupan siswa yang bervariasi. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta suasana pergaulan sekolah yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi para siswa, khususnya siswa tunanetra yang notabene membutuhkan interaksi dengan orang sekitar dalam mengaktualisasikan diri.

Pada kasus-kasus tertentu, sebaiknya ditempatkan satu orang siswa tunanetra pada setiap kelas/jenjang, dengan maksud untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab teman-teman yang “awas” untuk menolong. Dengan hanya satu orang tunanetra di setiap kelas/jenjang, maka perhatian teman-teman akan lebih terfokus dibandingkan bila ada lebih dari satu tunanetra di setiap kelas/jenjang.

Selain rasa percaya diri, seorang tunanetra yang belajar bersama dengan orang “awas” di sekolah/lembaga pendidikan umum harus juga membekali dirinya dengan satu atau lebih keterampilan yang dapat dirasakan manfaatnya bagi orang di sekitarnya. Dengan begitu, terwujudlah hubungan yang saling membutuhkan. Tunanetra tidak lagi akan dipandang sebagai beban bagi orang lain, melainkan sebagai bagian dari kelompok sosial. Tunanetra juga akan mempunyai posisi yang sejajar dengan orang lain yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Meminta atau pun mengharapkan pertolongan hanya pada satu orang “awas” adalah kelemahan banyak tunanetra yang telah merasa cocok dengan seorang pendamping saja. Untuk menghindari kejenuhan yang pada akhirnya dapat merenggangkan persahabatan, serta untuk menumbuhkan solidaritas orang lain, dan memperluas cakrawala pergaulan, Penulis alias Wandi alias Rila Wirawan menyarankan tunanetra agar mengurangi ketergantungannya pada satu orang, dan membuka peluang bagi orang lain yang juga senang membantu. Orang yang selalu dimintai pertolongan akan merasa bebannya lebih ringan, sementara orang yang lain akan merasa lebih dibutuhkan. Dengan demikian, kita telah ikut berusaha menyeimbangkan suasana pergaulan di kalangan orang “awas”. Jadilah tunanetra yang “awas” dan awasilah orang “awas” yang tunanetra. Artinya, tunanetra harus merasa dan menjadi anggota dari komunitas orang “awas”. Dekati orang “awas” yang masih tak acuh pada tunanetra.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013