PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

TERSELEKSI

Oleh: Agus Rusmana

Jum’at, 1 Agustus 1986. Hari itu sangatlah mendebarkan bagiku. Pasalnya, esok akan diumumkan hasil tes SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Malam itu, jantungku semakin berdebar. Aku resah. Hatiku bertanya-tanya, apakah aku akan lulus atau tidak. Tentu saja aku sangat berharap akan lulus. Anganku melambung ke angkasa ketika aku membayangkan besok kudapati kabar aku lulus. Tapi aku juga cemas membayangkan jika ternyata aku tidak lulus.

Keesokan harinya, petugas asrama dengan santai bertanya tentang bagaimana perasaanku jika lulus atau tidak lulus. Aku tidak dapat menjawab dengan pasti. Lalu petugas asrama itu dengan bijak menghiburku jika aku tidak lulus. Dia juga mengarahkanku seandainya ternyata aku lulus.

Menjelang siang, ibuku sengaja datang dari rumah sambil membawa Harian Umum Pikiran Rakyat yang dibelinya dalam perjalanan. Sambil berdebar-debar, berharap-harap cemas, dan tidak sabar, kami mencari-cari nomor peserta SPMB-ku.

Alhamdulillah, ternyata no. SPMB 286-24-09638 terpampang dalam surat kabar itu. Aku lulus. Tidak terlukiskan kegembiraanku dan juga kebahagiaan ibuku waktu itu. Begitu pula petugas asrama turut merasakan kegembiraan kami.

Pada hari yang telah dijadwalkan oleh Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru, aku datang ke kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 (kini namanya diganti Universitas Pendidikan Indonesia, UPI).

Benar kata orang-orang itu. Seandainya saja aku tidak segera datang, kemungkinan aku akan mengalami kesulitan; banyak persyaratan yang harus kupenuhi. Aku datang didampingi oleh seorang teman yang dengan setianya membantuku. Dia bukan orang baru dalam hal menolongku. Dia telah terbiasa melakukan reading service di kalangan orang-orang seperti aku.

Masa Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) dimulai. Aku berada dalam barisan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Sunda). Hari itu adalah Ospek Jurusan. Satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri. Begitu pula aku. Ada kehangatan tersendiri ketika aku memperkenalkan diri. Beberapa orang Panitia Ospek dan Mahasiswa Baru mencecarku dengan pertanyaan. Mereka bertanya tentang kehadiranku di sana, tentang kisahku mengikuti tes SPMB, tentang caraku mengikuti kegiatan belajar-mengajar baik di masa lalu maupun masa yang akan datang. Terutama mahasiswa baru, mereka begitu antusias bertanya dan mendengarkan jawabanku. Mereka sangat awam dengan keterpaduan penyandang cacat, dalam hal ini tunanetra dengan kalangan umum. Aku merasakan betapa pentingnya menyosialisasikan masalah ini. Aku berusaha menjelaskannya pada mereka. Bahkan sesekali aku memperagakan apa yang mereka tanyakan seperti menulis di papan tulis. Sungguh, ini merupakan pengalaman luar biasa bagiku. Senang rasanya, bisa berbagi ilmu dengan yang lain.

Hari-hari berikutnya, aku ikuti Ospek tingkat Institut. Di sini kudapati lagi serbuan pertanyaan yang nyaris senada dengan ketika aku mengikuti Ospek Jurusan. Ada-ada saja pertanyaan mereka. Dari hal-hal umum hingga ke urusan pribadi, mereka pertanyakan. Di saat santai, tak sedikit dari mereka yang mengerubuti aku. Di kala itulah, mereka lebih leluasa memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik. Di antaranya, mereka bertanya bagaimana aku menyisir rambut, bagaimana aku mandi, bagaimana aku memilih pakaian, dan lain-lain. Tak bosan-bosannya aku menjawab pertanyaan mereka, meskipun ada juga sedikit rasa kesal ketika harus menjawab pertanyaan yang agak konyol.

Panitia pelaksana Ospek beberapa kali menemui aku. Mereka menawarkan berbagai dispensasi kegiatan jika aku merasa berkeberatan dengan program mereka. Kukira ini adalah niat baik mereka. Tapi di lain sisi, aku pun ingin menunjukkan pada mereka bahwa orang seperti aku harus mampu dan mau mengikuti kegiatan seperti itu. Diakui atau tidak, ada citra buruk yang melekat pada diri penyandang cacat selama ini. Asumsi kebanyakan orang, penyandang cacat identik dengan sesuatu yang merepotkan, ingin dimanja, tidak bisa berbuat apa-apa, dan ingin dikasihani. Aku ingin mengikis habis semua itu. Kuikuti semua kegiatan yang ada dalam program Ospek, mulai dari baris-berbaris, mengumpulkan benda-benda unik, berolahraga, hingga meniti jembatan sempit yang hanya terbuat dari sebatang bambu tua. Yah, sempat juga aku melakukan kesalahan, bahkan terjatuh, terutama di medan yang rumit dan masih asing. Tapi hal ini cukup menyenangkan hatiku. Mengikuti kegiatan yang unik memang salah satu kegemaranku. Tidak sia-sia aku berlama-lama mengikuti latihan Pramuka dulu. Tempaan pengalaman yang didapat dari kepramukaan menyisakan kenangan yang indah dan manis dalam hidupku. Dari dunia Pramukalah aku memperoleh jiwa petualang yang handal. Kegiatan Ospek ini pun tak akan kulupakan. Pergaulan yang hangat, persahabatan yang akrab, serta pengalaman yang unik terpatri kokoh dalam sanubariku.

Masa Ospek berlalu, berganti kegiatan Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dalam kegiatan ini pun, kondisiku tak jauh berbeda. Masih ada saja pertanyaan-pertanyaan eksklusif untuk diriku terutama dari mahasiswa yang tidak satu jurusan. Mereka mempunyai perhatian terhadap eksistensiku di kampus ini.

Dua pekan sudah aku mengenali kampus ini. Ruangan demi ruangan, kantor jurusan, kantor fakultas, sudah aku pelajari. Situasi yang ramah, udara yang asri, memperdalam cintaku kepada sang kampus. Di kampus ini terdapat beberapa gedung bernilai sejarah, seperti Bumi Siliwangi. Posisinya yang strategis, memungkinkan kampus ini mudah dijangkau siapapun. Di depan kampus, terdapat terminal angkutan antar kota dan dalam kota. Itulah yang menyebabkan Jl. Dr. Setiabudhi nyaris tak pernah tidur.

Masa perkuliahan pun tiba. Kegamanganku baik terhadap lingkungan maupun terhadap teman baru semakin berkurang. Rasa percaya diriku bertambah seiring dengan bermunculannya teman yang menyatakan rasa simpati mereka padaku. Obsesiku untuk meraih teman sebanyak-banyaknya boleh dibilang tercapai. Setiap harinya, tak kurang dari dua orang teman mendampingiku, baik untuk membacakan buku sumber maupun membacakan tulisan yang ada di papan tulis. Aku tahu mereka bukan hanya mempunyai niat yang tulus untuk membantuku, tapi juga mempunyai rasa penasaran untuk mengenal dan mempelajari huruf Braille. Beberapa di antara mereka ada yang dengan serius mempelajarinya. Bermacam-macam komentar mereka; ada yang mengatakan senang, pusing, antik, dan ada pula yang menyatakan bersyukur.

Pada suatu hari, aku merasa begitu penasaran dengan Over Head Projector (OHP) yang dipergunakan oleh dosen. Aku bertanya tentang alat itu pada beberapa teman. Ternyata bukan hanya aku saja yang masih awam dengan alat itu. Aku jadi semakin tergelitik untuk mempelajarinya. Dengan rasa percaya diri seadanya, aku mencoba mengutak-atik benda itu. Mereka hampir serempak menyeruku agar jangan coba-coba melakukannya, terutama ketika aku akan memasukkan kabel listrik ke stopkontak. Mereka begitu mengkhawatirkan keselamatanku. Tapi aku tak peduli. Kupikir apa jadinya kalau seorang calon guru tidak menguasai cara kerja sebuah benda yang sangat dibutuhkannya. Untuk mengikis kekhawatiran mereka terhadap keselamatanku, kusampaikan pemikiranku kepada beberapa teman. Akhirnya, dengan didampingi seorang asisten dosen, aku berhasil mempelajari cara kerja OHP. Semenjak itu, kepercayaan dan rasa simpati mereka semakin bulat saja kepadaku.

Semester demi semester kujalani dengan sempurna. Para dosen dan teman-temanku dengan menjunjung rasa solidaritas yang cukup tinggi senantiasa melibatkanku dalam semua kegiatan, mulai di tingkat jurusan, antar fakultas hingga di luar kampus. Salah satu kegiatan yang kerap kuikuti adalah Turnamen Catur. Di bidang ini aku boleh berbangga hati karena hasilnya cukup memuaskan.

Di ujung masa studiku, aku merasa terharu oleh kesetiaan seorang teman; ia tidak akan merampungkan perkuliahannya kalau tidak bersamaan denganku. Benar saja, segala keperluanku untuk merampungkan studi, dibantunya. Aku dan teman setiaku itu berhasil menyelesaikan studi bersama-sama pada tanggal 10 Agustus 1991 dengan hasil sangat memuaskan”. Keberhasilan ini bukan saja membanggakan hatiku, tetapi juga kedua orang tuaku. Mereka sangat bersyukur atas keberhasilanku itu. Betapa tidak, karena dari 200 ribuan peserta SPMB, hanya 12% saja yang dinyatakan terseleksi lulus pada tahun 1986.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013