PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

PENGALAMANKU DI SEKOLAH INKLUSIF

Oleh: Ahmad Maskuri

Pada tahun 1991, tepatnya tanggal 16 Juli 1991, saya memasuki pendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) V Maguaharja yang merupakan sekolah ”terpadu”. Tetapi karena belum ada guru pembimbing khusus untuk mendampingi siswa tunanetra belajar, maka siswa tunanetralah yang harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan proses pembelajaran di sana.

Sebelum ini, saya belajar di SLB/A YKAB (Sekolah Luar Biasa A Yayasan Kesejahteraan Anak Buta) Surakarta. Di sana saya hanya berteman dengan rekan-rekan tunanetra, sehingga ketika di Maguaharja saya harus berupaya semaksimal mungkin agar dapat bergaul dengan teman-teman ”awas” (berpenglihatan). Kalau dulu saya tinggal di asrama, sekarang saya harus tinggal sendirian di rumah kos. Pada awalnya saya merasakan kesepian, bahkan saya sempat menangis karenanya. Dalam hati timbullah keinginan: saya harus bisa berteman dengan orang ”awas”.

Pada suatu hari saya merasa sedih di rumah kos; sepi, tidak ada teman, padahal saya mempunyai tugas yang harus diselesaikan secepatnya, dan untuk dapat menyelesaikannya harus ada yang membacakan tugas itu untuk saya. Di tengah-tengah kebingungan itu, muncul bisikan: di masjid banyak teman. Maka, sore hari menjelang maghrib, saya pun pergi ke masjid. Ternyata di sana memang banyak teman-teman ”awas” yang ramah dan mau menyapa serta berbincang-bincang dengan saya. Sejak itulah, yaitu hari ketiga sejak masuk sekolah, saya pergi ke masjid setiap sore. Di samping untuk mempererat dan memperbanyak teman, saya juga ikut mengaji di sana.

Hari-hari berjalan dengan cepat; tak terasa sudah satu semester saya belajar di sana. Kegiatan belajar-mengajar di kelas saya lalui dengan lancar. Di kelas, saya selalu didampingi oleh seorang teman untuk membacakan buku-buku atau tulisan guru di papan tulis. Pada waktu penerimaan raport, saya sangat gembira karena saya bisa mendapat ranking pertama. Sejak itulah saya mempunyai pendapat dan keyakinan bahwa: jika seorang tunanetra diberi kesempatan dan dia sendiri mau berjuang dengan sungguh-sungguh, pasti tunanetra itu akan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Keyakinan itu harus terus saya buktikan; karena itu saya pun berkomitmen untuk belajar keras agar studi saya berhasil dengan baik dan memuaskan orang tua.

Setiap ada kesempatan untuk tampil di depan masyarakat, saya mempersiapkan diri secara maksimal. Pada suatu hari, saya mendapatkan tugas untuk membaca Al-Qur’an di sekolah, yaitu pada peringatan Maulid Nabi. Saya pun mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ternyata tanggapan teman dan guru-guru sangat positif. Sejak itu, mereka sering meminta saya untuk membaca Al-Qur’an di berbagai event, baik di sekolah maupun di masyarakat. Di samping itu, ada salah satu pengurus Ta’mir Masjid Jami’ Tajem datang ke rumah kos dan meminta saya mengajar seni baca Al-Qur’an di masjid tersebut. Dengan senang hati permintaan itu saya sanggupi, karena saya mempunyai prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Tahun kedua bersekolah, yaitu tahun 1992, saya mengikuti seleksi Lomba Pidato Bahasa Inggris di sekolah untuk persiapan Lomba Pidato 4 Bahasa yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya bersyukur karena terpilih sebagai utusan dari MAN V untuk mengikuti Lomba Pidato 4 Bahasa bagian Bahasa Inggris. Amanah itu terasa sangat berat karena saya harus berlomba melawan teman-teman ”awas” yang notabene belajar di pondok pesantren. Namun kemauan saya kuat untuk berjuang demi nama baik sekolah yang telah mendidik saya. Kata orang bijak: barang siapa bersungguh-sungguh, pasti dapat. Dengan komitmen seperti itu, saya pun belajar keras dan selalu berdoa kepada Allah agar diberi keberhasilan dalam mengemban amanah ini.

Di dalam kancah perjuangan, hati saya berdebar-debar. Ada sedikit rasa minder karena peserta yang tunanetra hanya saya sendiri, sementara penampilan peserta lain bagus-bagus. Saya selalu berdoa agar penampilan saya maksimal. Dan saya sangat bersyukur kepada Allah karena doa saya dikabulkan. Saya mendapat juara I dalam lomba itu. Setelah menerima hadiah dan piala, saya diangkat oleh teman-teman saya yang merasa sangat gembira. Guru-guru serta Kepala Sekolah juga memberi selamat dan mengucapkan terima kasih pada saya. Bapak Kepala Sekolah berkata, ”MAN V belum pernah mendapatkan juara. Mudah-mudahan ini awal dari keberhasilan sekolah kita.”

Pada waktu kelas III, saya mulai mengenal teman putri yang menggoda hati saya. Hari-hari saya jalani dengan lamunan-lamunan indah tentang dia. Kadang-kadang hati saya merasa sedih, tapi kadang-kadang juga gembira. Sedih karena sadar akan kondisi yang saya sandang sebagai tunanetra ini. Khawatir dia akan menolak dan membenci saya. Gembira kalau teringat kemerduan dan keindahan suaranya. Setiap akan ada pertemuan yang dia juga datangi, muncul harapan dan lamunan yang indah-indah. Jiwa ini terasa kosong, dunia terasa sepi kalau satu hari saja tidak mendengar kabar tentang dirinya. Dalam hati saya berkata: Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Apakah dia hadir memang untuk saya? Apakah di usia saya yang ke-19 ini sudah waktunya berfikir tentang cinta? Atau apakah ini hanya ujian dan godaan belaka?

Di dalam hati saya, muncul dorongan yang sangat kuat: Aku harus mengungkapkan perasaan ini kepadanya. Maka pada hari Minggu tanggal 25 Agustus 1993, saya bersilaturahmi ke rumah kosnya dan mengungkapkan perasaan itu di hadapannya. Saya ungkapkan semua dengan hati yang berdebar-debar. Namun dia hanya diam dan mendesah beberapa kali. Setelah selesai mengungkapkan semua, saya mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan, ”Bagaimana tanggapan dan jawabanmu tentang perasaanku ini?” Dia sekali lagi mendesah dan berkata, ”Saya pikir dulu”.

Sehari, dua hari, sampai seminggu, tidak ada jawaban. Setiap kali dia bertemu dengan saya, dia selalu diam seribu bahasa. Hati ini mulai gundah-gulana. Dalam suasana seperti itu, selalu saya hibur hati ini dengan petikan-petikan dawai asmara yang menjelma menjadi petikan-petikan senar gitar dan lamunan-lamunan yang terkendali. Sehingga akhirnya, terciptalah sebuah lagu berjudul Cinta dan Problemanya.

Jum’at sore 13 September 1993, seorang teman datang ke rumah kos saya dengan membawa sepucuk surat. Dia berkata, ”Mas Ahmad, saya mendapat amanah dari Mbak Ummi untuk menyampaikan surat ini kepada Mas Ahmad”.

Dengan hati berdebar, surat itu saya terima. Malam harinya saya datang ke tempat teman akrab saya untuk minta dibacakan surat itu. Dengan seksama dan hati yang berdebar-debar, saya mendengarkan ungkapan-ungkapannya. Rasanya seperti disambar petir setelah mendengar perkataannya, ”Maaf Mas, saya belum berfikir seperti itu karena kita masih belajar. Sebaiknya kita berteman saja.”

Setelah itu saya pulang dan tidak bisa tidur semalaman. Saya shalat malam sembari berdoa minta petunjuk dan penerang agar terlepas dari kegelapan ini. Setelah itu saya bertekad bahwa saya harus melupakannya tanpa membencinya. Setiap kali ingat dirinya, selalu saya alihkan dengan mengingat Allah. Kondisi seperti itu berjalan selama satu bulan, sampai akhirnya saya bisa melupakan perasaan itu. Kini, meskipun setiap hari bertemu, perasaan itu tidak muncul lagi. Bahkan tidak ada rasa cemburu ketika dia mempunyai pacar yang juga teman akrab saya.

Hati ini merasa sedih ketika menerima raport semester V. Sejak semester I sampai IV, saya selalu mendapat ranking pertama. Tapi kali ini saya turun ke ranking kedua. Saya pun bertekad: Saya harus kembali seperti semula. Dan sejak itu saya konsentrasikan pikiran saya untuk urusan belajar dan belajar. Saya sangat bersyukur karena tekad saya itu akhirnya menjadi kenyataan. Pada semester VI, saya kembali mendapat ranking I, dan ujian akhir dapat saya kerjakan dengan sukses.

Menjelang perpisahan, saya diminta mengisi hiburan pada acara wisuda kelas 3. Saya lalu mengajak teman-teman tunanetra yang belajar di sana untuk mengisi acara tersebut. Saya ciptakan sebuah karya seni bernama Musikalisasi Demonstrasi Da’wah dan Seni. Kesempatan itu kami manfaatkan sebaik-baiknya dengan berlatih semaksimal mungkin.

Tapi sayang, saya sendiri tidak bisa mengikuti acara tersebut karena dipanggil oleh Menteri Pendidikan di Jakarta untuk uji coba Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan menggunakan soal berhuruf Braille. Setelah pulang dari Jakarta, saya menghadap Kepala Sekolah untuk melaporkan kegiatan di Jakarta serta mengambil ijazah sebagai laporan hasil studi saya belajar di sana. Pada waktu itu saya diberi selamat oleh beliau karena nilai Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) saya mencapai nilai terbaik di jurusan saya. Di samping itu, saya juga diberi kabar bahwa teman-teman tunanetra telah sukses dalam mengisi acara pada waktu wisuda.

Sejak itu saya membentuk grup musik yang semua anggotanya adalah tunanetra. Dalam perkembangannya, grup ini berubah menjadi grup musik Citra Nada, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Itulah sekelumit pengalaman saya sebagai seorang tunanetra yang berjuang menuntut ilmu di lembaga pendidikan yang pada masa itu disebut sebagai ”sekolah terpadu”; kini istilah tersebut telah diganti menjadi ”sekolah inklusif”.

Mudah-mudahan tulisan ini tidak menimbulkan kesombongan di dalam hati saya, akan tetapi dapat menjadi pelajaran untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan sikap pribadi kita semua. Amin.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013