PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI SAYA

Oleh: Salim

Dunia yang normal adalah dunia kita sekarang ini, dan dunia yang sempurna adalah dunia yang kita huni sekarang ini. Semua yang terjadi di jagat raya ini sudah ditata sedemikian rupa secara sempurna oleh Yang Maha Kuasa. Tidak ada sedikit pun ketimpangan, kekeliruan atau ketidaksengajaan. Segalanya terjadi atas kehendak, kodrat dan iradat-Nya.

Adanya siang dan malam, kaya dan miskin, sehat dan sakit, normal dan abnormal, sempurna dan cacat, serta masih banyak lagi yang lain adalah wajar dan harus ada di dunia. Perbedaan-perbedaan tersebut justru menimbulkan sirkulasi yang sempurna dalam kehidupan di dunia fana ini. Antara satu dan lainnya secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari saling membutuhkan. Hubungan simbiosis mutualisme ini mengakibatkan roda kehidupan dapat berputar secara sempurna, semarak, dan semakin berkembang. Tidak mungkin kehidupan ini dapat berkembang lebih semarak manakala hanya ada satu muara saja.

Keberadaan berbagai lembaga, bidang usaha, pekerjaan, dan lain-lain merupakan akibat dari adanya orang-orang yang memiliki “kebutuhan khusus”. Itulah sebenarnya hakekat yang mendasari adanya “pendidikan inklusif”. Semua anak cacat atau “anak berkebutuhan khusus” (ABK) harus diberikan hak yang sama dalam semua aspek kehidupan, baik secara individual maupun kelompok.

Dalam dunia pendidikan, secara tegas dinyatakan pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat: “...mencerdaskan kehidupan bangsa...” maka ini berarti untuk semua bangsa Indonesia tidak terkecuali yang cacat. Begitu pula dalam pasal 31 ayat 1 disebutkan: ”Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran“. Hal ini tentu juga bagi semua warga negara Indonesia, termasuk para penyandang cacat. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menerima “anak-anak berkebutuhan khusus” atau para penyandang cacat pada lembaga-lembaga pendidikan umum, asalkan ABK tersebut memiliki kemampuan mengikuti pendidikan pada lembaga itu.

Pada abad modern dan serba canggih ini, pendidikan bukanlah monopoli orang-orang yang normal, akan tetapi juga milik orang-orang cacat termasuk tunanetra.

Kemajemukan dalam suatu lembaga pendidikan itu adalah normal dan wajar selama proses pendidikan dan pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya, walau di dalamnya terdapat bermacam ABK.

Menurut pandangan tempo dulu, “anak-anak berkebutuhan khusus” harus dididik di sekolah-sekolah khusus (Sekolah Luar Biasa, SLB). Namun pandangan sekarang tidaklah demikian. Menempatkan anak-anak cacat atau ABK hanya di sekolah-sekolah khusus dianggap kurang manusiawi karena keberadaan mereka menjadi kurang dihargai. Mereka dikucilkan dalam komunitasnya di sekolah-sekolah khusus tersebut tanpa dapat berinteraksi dengan anak-anak lain yang tidak “berkebutuhan khusus”. Oleh karena itu, muncullah “pendidikan inklusif”.

Secara substansial, “pendidikan inklusif” tidak jauh berbeda dengan “pendidikan integrasi” atau “pendidikan terpadu” yang sudah sejak lama diberlakukan bagi para tunanetra di Indonesia. Hanya sedikit saja perbedaan dalam teknik dan model pembelajarannya. Pada “sekolah integrasi”, ABK yang harus menyesuaikan diri dengan sekolah, baik kurikulum, sarana prasarana, maupun model pembelajaran tanpa memperdulikan kondisi ABK. Sedangkan pada “sekolah inklusif”, sekolahlah yang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ABK, kurikulum, sarana prasarana, model pembelajaran, dan lain-lain. Jadi bila ditinjau secara kualitatif, maka “pendidikan inklusif” menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan di bidang pendidikan bagi ABK, khususnya tunanetra.

Sebagai seorang tunanetra, saya mempunyai pengalaman mengikuti “pendidikan integrasi” di sekolah umum. Sekarang ini, saya masih mengikuti kuliah penyetaraan S-1 di Fakultas Pendidikan Luar Biasa UNESA (Universitas Negeri Surabaya) walau usia saya sudah 51 tahun. Saya masih merasa enjoy meskipun kesulitan-kesulitan tentu ada. Akan tetapi semuanya dapat teratasi dengan baik. Hal ini sudah barang tentu bisa dicapai dengan modal semangat dan percaya diri, disertai keyakinan bahwa bila ada kemauan pasti ada jalan, dan bahwa setiap persoalan tentu ada jalan keluarnya. Yang terpenting kita harus berusaha dan bertawakal kepada Allah SWT serta selalu berdoa mohon petunjuk dan pertolongan-Nya. Prinsip hidup yang perlu kita pegang dalam belajar dan menuntut ilmu ialah bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak berilmu. Itulah yang membuat saya masih tetap bersemangat dalam belajar dan menuntut ilmu.

Bagi saya, mengikuti pembelajaran bersama orang-orang awas dalam “pendidikan integrasi” itu banyak sekali suka dan dukanya. Mungkin banyak kesamaannya dengan apa yang dialami saudara-saudara saya kaum tunanetra yang pernah atau sedang mengikuti “pendidikan inklusi”. Adapun sukanya ialah apabila keberadaan kita diterima dan dihargai, dan kita mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman yang sangat berguna untuk kehidupan bermasyarakat kelak. Kita juga merasa senang bila dapat mengikuti pelajaran dan kegiatan sekolah dengan baik, mendapat nilai yang bagus, memiliki banyak teman, dan lain-lain.

Adapun dukanya yaitu apabila kita tidak diterima dengan baik, dan keberadaan kita dipandang rendah atau dicemooh. Kita juga sedih bila mengalami kesulitan dan tidak dibantu, atau jika kita tidak dapat mengikuti pelajaran dan kegiatan sekolah dengan baik.

Sekalipun tidak disebut “pendidikan inklusif”, namun ada hal-hal yang sebenarnya sudah termasuk bagian dari “pendidikan inklusif” dalam pembelajaran yang saya ikuti di sekolah umum (integrasi), misalnya di bidang kurikulum. Kurikulum yang digunakan ketika di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB), dan Fakultas Pendidikan Guru Luar Biasa UNESA adalah kurikulum umum, yaitu kurikulum untuk peserta didik “awas” atau bukan ABK. Saya sebagai peserta didik yang menyandang ketunanetraan tetap harus mengikuti semua progam dan mata kuliah yang diberikan. Akan tetapi untuk hal-hal yang tidak dapat saya lakukan, maka saya diberi layanan khusus atau alternatif lain. Misalnya untuk bidang pelajaran Olahraga dan Kesehatan, saya mengikutinya sesuai dengan kemampuan saya, yaitu lari, senam atau gerakan-gerakan lain. Jadi saya tidak ikut bermain voli atau basket.

Dalam pelajaran Kesenian dan Ketrampilan, saya diperbolehkan berapresiasi sesuai kemampuan saya, yaitu dengan bermain musik, bernyanyi, membuat anyaman, atau ketrampilan lain yang dapat saya lakukan. Begitu pula untuk pelajaran lainnya. Bila ulangan, saya diberi pendikte khusus untuk membacakan soal-soal ulangan. Saya menjawab soal-soal ulangan dengan menggunakan mesin ketik “awas”. Sedangkan untuk jawaban yang berupa diagram, grafik, atau gambar, saya diperkenankan menjawabnya dengan keterangan atau narasi. Secara keseluruhan, saya dapat mengikuti program-program kurikulum di lembaga pendidikan umum tersebut, meskipun sarana dan prasarananya kurang memadai.

Satu hal yang juga tidak kalah pentingnya dalam menunjang keberhasilan saya menempuh pendidikan di sekolah umum adalah pergaulan dengan teman. Karena ketidakmampuan saya dalam membaca tulisan “awas” di papan tulis dan buku-buku pelajaran, maka saya sangat membutuhkan bantuan dari teman, terutama teman sekelas untuk membacakannya.

Alhamdulilah, teman-teman saya cukup baik. Pada umumnya, mereka menaruh perhatian kepada saya. Selalu saja ada teman yang membacakan tulisan di papan tulis, buku pelajaran, diktat dan lain-lain. Mereka juga dengan sabar, telaten dan senang hati menemani saya ke kantor, perpustakaan, mushola, dan tempat-tempat lain yang saya perlukan. Mereka sangat menghargai keberadaan dan pendapat saya dalam diskusi atau tugas-tugas kelompok. Tidak jarang pendapat saya mereka terima dan dijadikan keputusan bersama.

Semua itu tentu juga tergantung pada sikap saya terhadap mereka. Saya senantiasa berusaha untuk bersikap baik dan menyenangkan teman. Sekalipun begitu, saya tidak mau tergantung pada teman. Saya selalu berusaha untuk mandiri dan menunjukkan kemampuan saya sendiri. Saya juga berupaya untuk tidak hanya menerima saja kebaikan teman, akan tetapi berupaya untuk saling memberi dan menerima. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang menjadi sahabat saya hingga kini.

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar para tunanetra dapat berhasil dalam mengikuti pendidikan di “sekolah inklusif” atau berintegrasi dengan orang “awas”. Yang pertama, siapkan mental sebaik-baiknya. Jangan mudah tersinggung, jangan menjadi pemurung, jangan rendah diri, jangan mudah mengeluh dan putus asa. Jadilah orang yang rendah hati, selalu optimis dan percaya diri. Sadarilah bahwa tidak semua orang mau mengerti kita, dan bahwa banyak hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan dugaan atau keinginan kita. Yang kedua, kita harus rajin belajar dan mempunyai semangat yang tinggi, serta berusaha mengimbangi atau bahkan melebihi prestasi teman-teman kita. Yang ketiga, kita harus pandai-pandai bergaul dan menjaga perasaan teman-teman kita. Yang keempat, selain memiliki kemampuan akademik yang baik, hendaknya kita juga memiliki kelebihan di bidang lain seperti musik, tarik suara, olahraga dan lain-lain yang dapat menjadikan orang lain menghargai atau bahkan mengagumi kita. Yang kelima, perhatian serta pengertian dari para penyelenggara “pendidikan inklusif”, kepala sekolah, para guru atau dosen dan yang terkait. Yang keenam, dukungan dari keluarga dan masyarakat. Yang ketujuh, sarana dan prasarana serta biaya yang cukup memadai.

Adapun bentuk “pendidikan inklusif” yang sangat dibutuhkan dan menunjang keberhasilan ABK pada umumnya dan tunanetra pada khususnya adalah bentuk “pendidikan inklusif” yang mengutamakan lingkungan inklusif yang ramah pembelajaran. Lingkungan inklusif ini melibatkan para guru, administrator, orang tua, dan masyarakat yang benar-benar memahami kebutuhan ABK pada umumnya dan tunanetra pada khususnya.

Bagi tunanetra, lingkungan inklusif ramah pembelajaran yang dimaksud adalah lingkungan yang ramah, aman, mudah diakses, tenang, dan memudahkan tunanetra dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini tentu saja terkait dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan atau keterbatasan tunanetra, pengertian dan perhatian dari para pendidik, model layanan, serta media pembelajaran yang sesuai.

Bagi kami kaum tunanetra, pendidikan itu sangat penting. Kami bukanlah sampah masyarakat, kami tidak ingin hanya dikasihani dan ditolong terus-menerus tanpa dapat berbuat apa-apa. Jangan beri kami ikan, tapi berilah kami kail agar kami dapat mencari ikan sendiri. Beri kami pendidikan dan kesempatan, maka kami akan buktikan bahwa kami pun mampu berbuat dan berkarya demi Nusa dan Bangsa.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013