PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

PELAJAR DI SEKOLAH INKLUSIF

Oleh: Senna Rusli

Inklusi adalah sebuah program yang memungkinkan siswa “berkebutuhan khusus” untuk bersekolah di sekolah reguler. Siswa “berkebutuhan khusus” yang akan bersekolah di sekolah reguler harus siap; siap untuk belajar, siap bergaul dengan teman-teman non penyandang cacat, dan siap secara mental agar tidak gugup ketika belajar di sana. Jangan berfikir bahwa bersekolah di sekolah inklusif itu mudah seperti bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sekolah inklusif, para pelajar yang “berkebutuhan khusus” akan menerima pelajaran yang jauh lebih sulit. Karena itu, pelajar tunanetra yang ingin bersekolah di sana harus benar-benar mempersiapkan dirinya.

Aku akan menuliskan beberapa pengalamanku selama belajar di sekolah reguler. Namaku Muhammad Nurul Alfaraqi, lahir di Jakarta tanggal 13 Desember 1992. Ketika masih di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) dulu, aku tidak menyangka bahwa suatu hari akan bersekolah di sekolah reguler. Belajar di sekolah reguler jauh lebih sulit dan lebih banyak rintangan, begitu menurut kakak kelasku yang pernah belajar di sekolah reguler. Kita harus benar-benar siap mental, agar tidak gugup ketika belajar di sana. Kita juga harus siap menghadapi tugas-tugas dalam jumlah yang tidak sedikit, siap menghadapi pergaulan yang berbeda dengan lingkungan kita di SLB, dan masih banyak lagi kesulitan yang harus kita hadapi bila bersekolah di sekolah reguler.

Aku menjadi takut dengan apa yang diceritakan oleh kakak kelasku. Aku takut tidak dapat bergaul dengan teman-teman nanti ketika belajar di sekolah reguler. Aku juga takut tidak bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru yang mengajar di sana. Namun seorang guru pembimbing program inklusi membesarkan hatiku. Beliau menyemangati aku untuk belajar di sekolah reguler.

“Nurul anakku, siapa bilang bersekolah di sekolah reguler itu sulit dan banyak rintangan? Semua itu bisa dihadapi kalau kamu memang benar-benar ingin menuntut ilmu. Justru bersekolah di sana lebih menyenangkan. Di sana kamu bisa mengenal banyak teman, pergaulanmu akan semakin luas, dan pengetahuan tentang dunia luar tentu akan semakin banyak kalau kamu pandai bergaul. Tapi tentunya kamu harus pandai menjaga diri agar tidak terjerumus ke jalan yang tidak baik. Yang penting kamu jangan takut dengan apa yang diceritakan oleh kakak kelasmu yang memang sudah belajar di sana dan sudah mengalami bermacam-macam kejadian di sekolah. Buktinya banyak juga kakak kelasmu yang sukses ketika mereka lulus dari SMP ataupun SMA, walaupun harus ditempuh dengan perjuangan yang sangat berat,” begitulah beliau menasihatiku ketika aku dan teman-teman sekelas berhasil lulus ujian dan berencana akan melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Siswa yang akan belajar di sekolah reguler hanya dua orang, yaitu aku dan seorang temanku bernama Farid Setiyawan. Sebelum kami mendaftar ke sekolah yang diinginkan, terlebih dahulu kami mendapatkan pengarahan dari guru pembimbing yang telah ditugaskan dari SLB tempat kami bersekolah sebelumnya. Sekolah menjelaskan bahwa guru pembimbing akan memberikan pengarahan kepada kami sebelum melanjutkan ke SMP, dan membantu kami di SMP tempat kami belajar selanjutnya. Siswa atau siswi tunanetra yang tiba di sana tentunya memerlukan bantuan para guru untuk bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.

Di kelasku ada enam siswa, namun sekolah hanya mengizinkan dua siswa untuk belajar di sekolah reguler, karena kepala sekolah menyesuaikan dengan kemampuan siswa. Empat teman kami yang lain tetap bersekolah di SLB, karena mereka berencana akan mengambil sekolah kejuruan setelah lulus SD. Artinya mereka akan melanjutkan ke sekolah yang mengutamakan keterampilan, seperti musik, pijat, dan keterampilan lainya.

Sebulan kemudian, setelah kami siswa kelas 6 Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Lebak Bulus menerima ijazah, dan setelah aku dan Farid mendapatkan pengarahan dari guru pembimbing kami masing-masing, aku dan orang tuaku mulai mendaftar ke SMP, yaitu tempat di mana aku harus berjuang untuk menuntut ilmu selanjutnya. Orang tuaku menginginkan aku bersekolah di SMP Negeri, karena menurut beliau sekolah negeri lebih bagus kualitas pendidikannya.

Akhirnya aku diterima di sebuah sekolah negeri di Jakarta. Sekolah itu bernama SMPN 226, sekolah yang sudah dipercaya oleh pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk menerima siswa atau siswi tunanetra yang akan belajar di sekolah reguler. Ketika masuk ke sekolah ini, aku tidak diharuskan menjalani tes seperti siswa atau siswi pada umumnya. Aku hanya menyerahkan ijazah hasil ujianku kepada kepala sekolah, dan beliau melihat nilai-nilaiku. Jika sesuai, maka aku diterima di sekolah ini. Jika tidak, maka aku harus mencari sekolah lain yang mau menerima aku dengan nilai yang aku miliki dalam ijazahku.

Siswa atau siswi lainya harus melaksanakan tes ketika mendaftar ke sekolah yang diinginkan, artinya mereka harus mengerjakan soal yang diberikan oleh sekolah, dan mereka harus menunggu hasilnya seminggu setelah melaksanakan tes. Hasil tes itulah yang akan menetukan apakah mereka diterima di sekolah yang diinginkan atau tidak. Karena itu, mereka harus benar-benar serius dalam mengerjakan soal yang diberikan sekolah. Biasanya sekolah menentukan nilai yang harus dicapai oleh siswa atau siswi yang akan masuk ke sekolah itu. Kalau siswa atau siswi mampu mencapai nilai yang ditentukan, barulah diterima di sekolah yang mereka inginkan. Jika tidak, mereka harus mencari sekolah yang mau menerima mereka dengan hasil tes mereka.

Akhirnya aku bersekolah di sekolah reguler; sekolah yang jauh lebih sulit, banyak rintangan, dan penuh perjuangan yang harus kutempuh demi meraih kesuksesan. Sebelum kami para siswa-siswi mulai belajar di kelas, terlebih dahulu kami harus menjalani tes yang disebut MOS (Masa Orientasi Sekolah). Di sini kami dilatih untuk mengenal lingkungan sekolah, berkenalan dengan siswa atau siswi lainnya, dan banyak lagi.

Sebelum kami menjalani MOS, terlebih dahulu kami para siswa-siswi mengikuti upacara pembukaan MOS yang akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut. Ketika mengikuti upacara, aku digandeng oleh salah seorang siswa. Sebelumnya kami berkenalan.

“Hai, namamu siapa?” tanyanya ketika hendak berjalan menuju lapangan upacara.

“Namaku Muhammad Nurul Alfaraqi. Kamu boleh memanggilku Nurul,” jawabku sambil menjabat tangannya. “Dan namamu siapa?” tanyaku.

“Namaku Jaka Adi Permantara. Kamu boleh memanggilku Jaka,” jawabnya sambil menyambut jabatan tanganku.

Kami pun berjalan bersama menuju lapangan upacara. Setibanya di lapangan upacara, kami para siswa-siswi disuruh berbaris oleh ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Kami pun berbaris dengan rapi. Kemudian ketua OSIS, memberikan instruksi kepada siswa-siswi yang berbaris rapi.

“Istirahat di tempat grak!” serunya pada seluruh barisan.

Serentak kami mengikuti instruksi yang diberikan ketua OSIS. Kemudian bapak kepala sekolah naik ke atas mimbar untuk memberikan pidato kepada para siswa dan siswi yang berbaris rapi di hadapannya. Serentak seluruh siswa dan siswi diam memperhatikan bapak kepala sekolah yang sedang berbicara.

Setelah kami mengikuti upacara dan mendengar pidato dari bapak kepala sekolah, kami pun kembali ke kelas masing-masing. Aku masuk ke kelas 7-VII. Di kelas, kami saling berkenalan satu sama lain. Benar apa yang dikatakan oleh guru pembimbing ketika aku dan teman-temanku berhasil lulus ujian: aku akan mendapatkan banyak teman jika bersekolah di sekolah reguler.

Beberapa hari setelah aku dan teman-temanku menjalani MOS dan berkenalan satu sama lain, kami mulai belajar di kelas yang sudah ditentukan. Aku masuk ke kelas yang sama, yaitu kelas 7-VII.

Selama beberapa bulan belajar, alhamdulilllah aku bisa menerima pelajaran dengan baik dan tidak merasa terlalu sulit dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para guru yang mengajar di kelasku. Bahkan aku bisa membantu teman-temanku mengerjakan makalah yang ditugaskan oleh guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang membahas tentang alat-alat teknologi yang dapat menyaring informasi dan dapat digunakan untuk berkomunikasi.

Ya, sangat menyenangkan. Dulu waktu di SLB, aku tidak pernah diberi tugas seperti ini. Alhamdulillah, teman-teman yang satu kelompok denganku mengerti keadaanku sebagai tunanetra. Jadi mereka memberiku tugas sesuai dengan kemampuanku.

Enam bulan sudah aku bersekolah di sekolah reguler. Banyak pengalaman yang sudah aku jalani. Ada pahit, dan ada manisnya juga. Sekarang aku baru tahu bahwa banyak di antara para siswa atau siswi yang berprilaku tidak sesuai dengan statusnya sebagai seorang pelajar. Banyak di antara mereka yang sering tawuran antar sekolah, dan berkelahi sesama teman sekolah. Ada juga yang berani membawa dan mengonsumsi rokok atau obat-obat terlarang di sekolah secara sembunyi-sembunyi. Dan banyak lagi kejadian buruk lainnya yang sering terjadi di lingkungan sekolah tempat aku belajar saat ini.

Aku kini sudah mulai mengalami masa remaja, dan fikiranku sudah mulai agak dewasa. Aku sudah mulai mengenal lawan jenisku, bahkan aku sekarang sedang jatuh cinta pada salah seorang teman perempuan di kelasku. Namanya hampir sama dengan namaku. Aku bernama Muhammad Nurul Alfaraqi, sedangkan dia bernama Nurul Rahmawati.

Bulan Juni pun tiba. Kami seluruh siswa dan siswi SMPN 226 bersiap-siap untuk menghadapi ujian akhir semester pertama. Saat mengerjakan soal ujian, aku dibantu oleh seorang relawan pembaca yang ditugaskan oleh Yayasan Mitra Netra, sebuah yayasan yang membantu tunanetra di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Pembaca itu bernama Ibu Muhani. Beliau membantuku membacakan soal ujian, dan menuliskan jawaban yang telah aku berikan.

Selain aku, ada juga dua orang temanku yang dibantu oleh seorang pembaca, yaitu Mahendra dan Agung. Mereka adalah siswa tunanetra yang bersekolah di sekolah reguler sejak di bangku sekolah dasar.

Seminggu kemudian aku dan para siswa-siswi lainya selesai melaksanakan ujian akhir semester dan menunggu pengumuman tertulis (raport) yang akan dibagikan seminggu setelah melaksanakan ujian.

Hasil ujianku tidak terlalu buruk. Hanya beberapa mata pelajaran saja yang nilainya di bawah SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum). Akhirnya selesai sudah semester keduaku di sekolah reguler. Aku berharap bisa belajar dengan lebih baik agar bisa mencapai cita-citaku, yaitu menjadi penulis.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013