PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

PAHIT MANIS MENJALANI PENDIDIKAN DI SEKOLAH INKLUSIF

Oleh: Ria Andriani

Karya ini saya dedikasikan kepada: Mrs. McDougall, Mrs. Villa dan Mrs. Cateris yang selalu mendukung dan mendorong saya dalam menjalani pendidikan di sekolah inklusif.
With love and every respect.

Pendidikan merupakan salah satu kunci sukses bagi tunanetra dan penyandang cacat yang lain. Dengan pendidikan, mereka bisa memperbaiki masa depan mereka. Tanpa pendidikan, hidup mereka menjadi tak tentu arah, apalagi kalau mereka juga tidak punya keahlian. Zaman sekarang adalah zaman modern; bukan saatnya lagi untuk mengurung seorang penyandang cacat di dalam kamar karena merasa dia adalah aib keluarga. Mereka perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan diri demi masa depan yang lebih cemerlang. Stevie Wonder bukanlah satu-satunya tunanetra yang bisa berkarya. Di Indonesia sebetulnya juga banyak tunanetra yang berbakat dan ingin berkarya. Pendidikanlah yang dapat memberikan kesempatan tersebut bagi penyandang cacat.

Tunanetra membutuhkan support dan dorongan ketika berada dalam dunia pendidikan inklusif. Hal ini jelas dibutuhkan tunanetra, apalagi bagi mereka yang sebelumnya menjalani pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) atau lembaga sejenis. Pasalnya, sekolah umum menuntut lebih banyak konsentrasi, kerja keras, dan yang paling penting dukungan dari orang-orang sekitar. Yang saya maksud dengan orang-orang sekitar bukan hanya keluarga saja, tetapi juga termasuk guru, teman sekelas dan pihak lain yang bersangkutan dengan sekolah, baik lembaga/organisasi maupun mereka yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar-mengajar.

Inilah pengalaman saya selama menjalani pendidikan di sekolah inklusif.

Saya terjun ke dalam dunia pendidikan inklusif sekitar lima tahun yang lalu, saat memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), di salah satu SMP swasta di Bandung. Sebagai murid pindahan dari Jakarta, saya merasa cukup percaya diri dengan niat dan tekad saya untuk bersekolah di sekolah umum.

Kalau kebanyakan tunanetra yang akan mengenyam pendidikan inklusif mengkhawatirkan bagaimana caranya agar mereka dapat diterima di sekolah baru tersebut; maka saya justru lebih mengkhawatirkan apa cara yang harus saya lakukan agar bisa mengikuti pelajaran, ikut dalam berbagai kegiatan di sekolah, dan bagaimana cara guru memeriksa tugas-tugas yang saya kerjakan. Rasa minder memang ada, tapi saya juga merasa yakin bahwa saya akan bisa bergaul dengan baik di sekolah tersebut.

Semester pertama di sekolah baru tersebut cukup membuat saya tercengang; seharusnya saya mengantisipasi kondisi itu terlebih dahulu. Saat itu saya harus menyesuaikan diri dengan setumpuk pekerjaan rumah, serta seringnya tes dan ulangan yang diadakan. Hal-hal seperti ini tidak biasa terjadi di sekolah saya yang sebelumnya. Selain itu, pergaulan di sekolah baru ini bisa dibilang cukup ketat dan menentukan. Sekali bergaul dengan orang-orang yang salah, dampaknya bisa jadi berlarut-larut. Meskipun demikian, saya masih bersikap optimis menghadapi semuanya.

Sayangnya, pihak sekolah terkesan kurang antusias dalam menangani masalah dan kesulitan yang dihadapi tunanetra. Misalnya saja, sekolah mengharuskan setiap muridnya termasuk saya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Pada awalnya, saya memilih ekskul Bahasa Inggris. Tapi karena kurangnya komitmen dan guru pun jarang hadir, saya terpaksa memilih ekskul lain di semester berikutnya. Saya tidak begitu ingat ekskul apa yang saya pilih di semester itu, tetapi setelah naik kelas sampai lulus sekolah, saya selalu memilih ekskul paduan suara, satu-satunya ekskul yang saya bisa ikuti tanpa kesulitan. Sebenarnya, banyak pilihan yang ditawarkan oleh pihak sekolah, tetapi karena kurangnya dukungan dan minat dari pihak pengajar untuk membimbing siswa tunanetra, saya pun terpaksa mengambil ekskul yang tidak terlalu menuntut menggunakan penglihatan.

Dalam hal pelajaran intrakulikuler atau kegiatan belajar-mengajar di kelas, guru selalu menerangkan dengan menggunakan papan tulis. Bagi saya ini menjadi sebuah problem karena kondisi ini mengharuskan saya menyalin catatan dari papan tulis. Biasanya saya akan minta bantuan kepada teman sebangku untuk membacakan. Tapi kadang dia marah-marah karena harus membaca dan menulis pada saat yang bersamaan, apalagi kecepatan saya menulis Braille tidak bisa disamakan dengan kecepatan orang menulis tulisan awas.

Untunglah masih ada solusi yang lain, yaitu fotokopi. Biasanya pada saat istirahat, saya meminjam buku catatan teman saya dan memfotokopinya di koperasi sekolah. Memang menguras uang jajan sedikit, tapi cara ini cukup bermanfaat. Di rumah, saya meminta tolong kepada pembantu untuk membacakan sementara saya menyalinnya ke dalam huruf Braille. Kadang-kadang, saya harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyalin catatan dan ringkasan ke dalam huruf Braille.

Tapi solusi ini ternyata juga menimbulkan masalah baru. Kadang-kadang ada teman yang tidak mau meminjami buku dengan alasan di bukunya terdapat jawaban soal-soal latihan yang diberikan oleh guru. Lagipula setiap tulisan tangan mereka berbeda-beda. Di rumah, saya harus menghadapi keluhan sang “mbak” kalau tulisan itu seperti “cakar ayam” alias acak-acakan.

Menurut saya, sebaiknya guru bersikap lebih kooperatif. Misalnya dengan mendiktekan catatan di kelas. Memang cukup sulit, tapi itulah satu-satunya cara bagi saya mengikuti pelajaran tanpa harus bekerja triple extra. Di sekolah saya yang sekarang, para guru bersedia menggunakan e-mail untuk memberi catatan-catatan kepada saya.

Mengenai pergaulan di sekolah inklusif, saya tidak terlalu peduli apakah dijauhi oleh teman sekelas atau tidak, yang penting mereka mau membantu saya dalam mengikuti pelajaran. Saya juga tidak begitu peduli soal hang-out bersama teman-teman atau apakah saya bisa bergabung dalam satu kelompok tertentu. Yang lebih penting bagi saya adalah belajar agar bisa mendapat nilai bagus.


Meskipun saya sudah mengambil sikap tak peduli, kadang-kadang kelakuan mereka membuat saya frustrasi juga. Di kelas satu SMP misalnya, teman sebangku saya selalu minta contekan pekerjaan rumah yang sudah saya kerjakan dengan susah-payah malam sebelumnya (saya selalu meminta tolong kepada pembantu untuk menuliskan jawaban saya dalam huruf awas). Di kelas dua, saya dijauhi karena mereka menganggap saya tidak terlalu superior. Sering kali ketika semua orang mengobrol di kelas, saya hanya duduk diam dan menghitung jalannya waktu, berharap jam istirahat datang secepatnya. Di kelas tiga, saya merasa lebih baik daripada di kelas dua. Kadang-kadang ada teman yang minta dijelaskan bagaimana menyelesaikan masalah ini atau itu, meskipun sering kali saya tidak dapat memungkiri perasaan bahwa saya telah dimanfaatkan. Mereka mengobrol dengan saya hanya kalau ada perlunya. Dalam tugas kelompok, saya selalu mendapat bagian yang paling sulit. Pernah di suatu ulangan Elektro (pengetahuan dasar listrik), saya diminta menghitung resistor mana saja yang harus dipakai untuk merancang suatu sirkuit. Ketika guru datang, dia cukup senang dengan hasil yang kami buat. Saya melakukan semua perhitungan, dan yang lain merangkai sirkuit tersebut. Guru tersebut memberi pujian kepada salah satu teman saya karena perhitungannya tepat. Mendengar itu, saya lantas mengklaim bahwa sayalah yang telah menghitung semuanya. Setelah guru tersebut pergi, ternyata semua teman saya malah menegur saya dengan mengatakan bahwa saya tidak boleh begitu. Padahal saya tidak bermaksud apa-apa. Saya cuma tidak mau hasil kerja keras saya diklaim sebagai pekerjaan orang lain; apalagi saya memang ingin disamakan dengan orang lain meskipun dengan kemampuan yang terbatas ini.

Pengalaman ini tak akan bisa saya lupakan. Pernah suatu kali, ketika ulangan umum semester, saya diminta menuliskan tangga nada dalam not balok. Saya sudah berusaha menerangkan sebisa saya kepada relawan pembaca tentang bagaimana cara menulisnya. Tapi hasilnya, saya hanya mendapat nilai 3,5 -- nilai terendah di kelas. Ini terjadi bukan karena saya tidak mengerti topiknya, tapi karena saya tidak bisa menggambar not balok. Menurut saya, ini tidak adil! Saya mencoba mengajukan complaint kepada guru yang bersangkutan, tetapi dia hanya menarik nafas dan berkata bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun di balik semua kejadian pahit tersebut, saya masih bisa bersyukur karena diperbolehkan mencicipi kehidupan di sekolah umum, bergaul dengan teman-teman sebaya, dan melihat dunia dari berbagai sudut pandang; yang memperkaya wawasan saya dan membantu saya dalam menjalani karier di jenjang selanjutnya, baik di SLB maupun sekolah inklusif yang sekarang sedang saya jalani.

Setelah menjalani pahit manis bergumul di dunia inklusi, saya akhirnya lulus dengan total nilai ujian nasional 22; Matematika 7,66, Bahasa Inggris 8, dan Bahasa Indonesia 7,3. Setelah itu, saya memutuskan untuk kembali bersekolah di SLB karena saya ditolak sebelum mencoba oleh sekolah yang sama. Alasannya: sekolah kami tidak menerima anak cacat.

Setahun kemudian, saya pindah ke Australia dan ditempatkan di salah satu sekolah umum di kota Sydney. Sekarang saya duduk di kelas 11 Canterbury Girls High School, Sydney.

Di sini, saya merasa mendapat lebih banyak dukungan, akses dan kesempatan baik dari pihak sekolah maupun dari orang tua saya. Semua pekerjaan, catatan atau gambar diterjemahkan sebisa mungkin ke dalam format yang bisa saya akses. Ada guru khusus yang menangani masalah ini. Sebagian dari modul yang harus saya kerjakan di-scan, sisanya di-braille atau direkam. Untuk hal-hal seperti peta atau grafik, guru tersebut menyediakan format yang cukup unik. Saat saya pertama kali datang ke sekolah itu, dia memberi saya peta sekolah. Tahukah apa yang dilakukannya? Dia menggunakan berbagai material dan menempelkannya pada selembar karton. Setiap material menggambarkan sesuatu. Misalnya, kertas kardus menggambarkan toilet. Metode ini sesungguhnya tidak sulit, yang dibutuhkan cuma kesabaran dan ketelatenan untuk membuatnya.

Kesempatan dan dukungan dari sekolah untuk saya sangatlah kuat. Guru Musik bahkan mengajak saya untuk ikut dalam acara School Spectacular yang merupakan ajang pertunjukan musik terbesar bagi kalangan anak sekolah di Sydney. Tidak tanggung-tanggung, dia juga belajar bagaimana membaca notasi Braille sehingga bisa memeriksa tugas yang saya kerjakan. Hasilnya, pada akhir tahun lalu saya mendapat peringkat kedua dalam pelajaran Musik.

Kesuksesan seorang tunanetra bukan hanya tergantung kepada fasilitas yang disediakan oleh sekolah di mana si tunanetra berinklusi, tapi juga simpati, dukungan dan dorongan dari sekolah bagi sang siswa. Dari pengalaman saya, hal-hal yang saya sebut belakangan justru lebih manjur dalam memajukan diri dan memupuk minat serta bakat saya. Apa yang saya punyai, mereka kembangkan dengan sebaik-baiknya. Semuanya dengan dukungan moral dan finansial oleh pihak sekolah dan orang-orang terdekat saya.

Menurut saya, pendidikan inklusif di Indonesia haruslah lebih diperhatikan oleh pemerintah. Misalnya dengan mengeluarkan undang-undang yang melarang sekolah baik negeri maupun swasta menolak keberadaan murid yang cacat di sekolah mereka. Selain itu, perlu diadakan kooperasi di antara sekolah dan murid agar semua kesulitan bisa dicari jalan tengahnya. Sekolah juga mesti memberikan kesempatan dan dukungan bagi si murid itu sendiri, karena walau bagaimanapun masa depan mereka bergantung pada sekolah tersebut.

Saya berharap semoga kualitas pendidikan inklusif di Indonesia bisa semakin bertambah baik sehingga kaum tunanetra bisa memiliki masa depan yang lebih cerah.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013