PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

MENJANGKAU DUNIA DARI PESANTREN

Oleh: K.H. Wahid Hasyim Abdurrahman

Perubahan itu terasa begitu cepat. Dunia menjadi gelap, keceriaan sirna, dan akupun dirundung duka. Petaka itu datang saat aku asyik mengejar layang-layang yang membumbung tinggi. Kegemaranku pada layang-layang dan kepuasaan bila berhasil mengejar mainan itu, membuatku lupa diri. Tak lagi kuhiraukan pohon asam yang tinggi dengan cabang yang rapuh. Kuraih layang-layang yang tersangkut di pohon itu dengan perasaan yang amat gembira. Aku lupa sedang berada di cabang pohon yang tinggi. Sambil mengacungkan layang-layang penuh rasa bangga, aku pun berteriak kegirangan dan berjingkrak-jingkrak. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Saat aku terjaga, semuanya tampak hitam; tak ada yang dapat kukenali. Dengan penuh kelembutan, karib kerabat dan handai taulan membesarkan hatiku. Setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Cicendo Bandung, aku kembali ke rumah, saat itu sebagian penglihatanku sudah menjadi masa laluku. Akupun kehilangan kerianganku, bahkan semangat hidupku. Maklumlah, saat itu aku baru mencapai usia belasan tahun dan duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD).

Aku pun memulai hari yang gelap dengan langkah tertatih-tatih. Semangat hidupku sudah hilang, karena aku merasa hidup ini sudah tak lagi berarti. Aku tak lagi dapat pergi ke tempat yang kusuka dan bersekolah bersama teman-teman. Perasaanku pun menjadi amat sensitif, sehingga kalau ada karib kerabat atau teman-teman yang menunjukkan simpatinya dengan bertanya atau menyapa, aku malah merasa amat terhina. Simpati itu kurasakan sebagai olok-olok yang menyesakkan.

Dalam keadaan seperti itu, karib kerabat dan kandai taulanku terus memberikan semangat dan membesarkan hatiku. Pihak sekolah juga berulang kali mengunjungiku dan tetap menganggapku sebagai bagian dari mereka.

Seiring waktu yang terus berlalu, aku pun mulai terbiasa dengan keadaan yang kualami dan segera tersadar untuk bangkit dari mimpi buruk. Untunglah pihak sekolah dan keluarga sangat memberi kemudahan. Aku dapat tetap meneruskan sekolah di SD tersebut, dengan penyesuaian semampuku. Ulangan atau ujian yang biasa dilakukan secara tertulis, kulakukan secara lisan. Untuk pelajaran Olahraga, aku mendapat dispensasi, dengan hanya mengikuti kegiatan yang memungkinkan. Di pelajaran Prakarya (sekarang Ketrampilan Tangan dan Kesenian, KTK), sebenarnya mata pelajaran yang diajarkan adalah melukis. Namun pelajaran tersebut diganti oleh kerajinan tangan seperti menganyam, melipat kertas, dan lain-lain.

Selama penyesuaian tersebut, kudapati sikap teman-temanku berbeda-beda. Ada yang melindungiku secara berlebihan, ada yang menjauhiku, dan ada pula yang memperlakukan aku seperti dulu. Dengan kerja kerasku, ditambah dukungan sekolah, teman-teman dan keluarga, aku pun lulus dari SD 2 Wanayasa Purwakarta pada tahun 1971, meski tidak lagi bisa membaca dan menulis “awas”.

Sesuai dengan cita-citaku sejak kecil, kupilih pesantren untuk meneruskan pendidikanku. Pada tahun 1974, aku pun masuk Pesantren Quro’ Limbangan, Kudang, Garut. Aku harus kembali berbaur dengan orang-orang “awas”. Untunglah pengalaman belajar di SD bersama orang “awas” selama beberapa bulan mendorongku tetap bertahan. Lagipula beberapa temanku sama dengan aku, yaitu tunanetra. Ada tiga orang teman tunanetra yang seangkatan denganku. Dengan hanya mengandalkan hafalan dan pendengaran, aku pun menempuh pendidikan Seni Baca Al Quran (Tilawah) selama tiga tahun.

Tantangan tersulit yang kuhadapi adalah belum mengenal tulisan Braille. Akibatnya aku harus memeras otak, lebih daripada yang dilakukan teman-temanku. Namun tak lagi kusesali penglihatanku yang semakin menurun dan akhirnya hilang. Aku pun sudah merasa hidup sebagaimana orang normal.

Setelah menghadapi segala tantangan dengan segala suka dan dukanya, aku melanjutkan pendidikan di Pesantren Al Falah Cicalengka dari tahun 1975 sampai 1976. Di pesantren tersebut, pernah ada satu orang seniorku yang tunanetra. Dengan demikian, pendidikan di sana dapat kuikuti dengan lebih mudah.

Berbekal ilmu dan keterampilanku dalam seni tilawah, kuikuti berbagai lomba. Alhamdulilah, aku meraih berbagai prestasi yang cukup membanggakan, di antaranya pada tahun 1977 juara I MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) tingkat Kabupaten Bandung, tahun 1978 juara II MTQ tingkat Provinsi Jawa Barat, dan tahun 1983 juara II MTQ tingkat Nasional di Padang.

Dengan pertolongan Allah SWT, aku diperkenalkan pada sebuah lembaga pendidikan tunanetra yaitu Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna. Aku mengikuti Keguruan Ilmu Al Quran Braille (KIAB) dan Kursus Pijat Olahraga (Kupora). Dengan bekal ilmu dari pesantren itu, hanya dalam waktu 1 bulan, aku sudah dapat menguasai huruf Arab Braille. Aku pun bahkan sudah memikirkan cara mengajarkan Arab Braille yang mudah dan praktis kepada teman-temanku.

Inilah anugerah terbesar yang kurasakan pada saat itu. Dengan tulisan Braille itu aku dapat menghafal atau memilih ayat Al Quran yang aku suka, tanpa tergantung lagi pada orang lain. Tidaklah mengherankan, berkat tulisan Arab Braille itu, hafalan Quran-ku pun bertambah secara drastis. Alhamdulilah, setelah lima tahun menguasai Arab Braille, aku mampu menghafal seluruh isi Al Quran dan sedikit banyak mengerti maknanya. Bukan itu saja, aku pun menulis hadits-hadits yang kuhafal untuk menghindari kemungkinan hilang atau lupa.

Usai menempuh pendidikan di Wyata Guna, aku mendapat kepercayaan menjadi guru Al Quran di lembaga tersebut. Aku mulai mendapat kepercayaan untuk mengisi khutbah Jumat, mengasuh pengajian ibu-ibu “awas”, ceramah di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar kota, dan sudah barang tentu mengajarkan teman-temanku sesama tunanetra.

Pada tahun 1990, aku berkesempatan menunaikan ibadah haji. Berdasarkan informasi yang kuterima, aku terpilih karena kiprahku dalam mengajarkan Al Quran. Sejak saat itu, orang-orang membubuhkan gelar ‘Kyai Haji’ di depan namaku. Selain kurasakan sebagai anugerah, gelar itu kurasakan sebagai tantangan dan amanah yang harus kujaga dan kupertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Di tengah kebahagiaan, masih ada satu cita-citaku yang belum terwujud. Berdasarkan pengalaman rekan-rekan sejawatku, pengabdian di lembaga formal seperti PSBN Wyata Guna mampu mengantarkan mereka menjadi pegawai negeri sipil, yang membuat mereka dapat lebih mencurahkan pengabdian kepada rekan-rekan tunanetra. Karena berbagai kendala, meski aku sudah mengabdi selama 21 tahun, keinginanku atau cita-citaku belum juga terwujud, Namun demikian, aku tetap mensyukuri anugerah yang telah kuterima, dan dengan tekad yang kuat menjalani hidup sesuai dengan titah-Nya.

Sebagai tunanetra yang pernah “awas”, aku dapat menyesuaikan diri ketika menjadi pelayan umat. Baik kepada yang “awas” ataupun yang tunanetra. Ketika mengajar tunanetra, tentu saja kugunakan huruf Braille sebagai salah satu alat pengajaran. Sebaliknya, ketika mengajar orang “awas”, aku menggunakan huruf Braille untuk diriku, dan mempersilakan mereka menggunakan Al Quran “awas”. Berkat pengalamanku semasa “awas” itu, aku dapat memperagakan atau setidak-tidaknya menyebutkan bentuk huruf Arab “awas” yang pernah kukenal. Cara itu ternyata sangat efektif, sehingga dari tahun ke tahun semakin banyak saja majelis taklim yang aku asuh.

Dari kenyataan-kenyataan yang kualami itu, sadarlah aku bahwa aku telah dapat menjangkau duniaku karena aku mengikuti pendidikan yang berbaur dengan anak-anak “awas”. Dengan kesadaran seperti itu, kujalani hidupku sebagai pelayan umat, ayah dari anak-anakku, dan tentu saja sahabat bagi teman-teman tunanetraku. Pengalaman berbaur dengan teman-teman “awas” di SD dan pesantren kuanggap sebagai bekal berharga untuk hidup wajar di tengah masyarakat dan tetap diterima di kalangan tunanetra.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013