PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

MENGGAPAI MASA DEPAN YANG CERAH

Oleh: Listiani

Hari berganti hari, kujalani suratan hidup ini. Masa berganti masa, seiring dengan perputaran dunia. Begitu cepat waktu berlalu, bagaikan perahu yang sedang melaju. Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) sudah di ambang pintu.

Lima tahun sudah aku duduk di bangku SLB YKPTI (Sekolah Luar Biasa Yayasan Kesejahteraan dan Pendidikan Tuna Indra) Banyuwangi. Alhamdulillah, Allah telah memberi kelancaran serta kemudahan padaku. Pendidikan yang mestinya kutempuh enam tahun dapat kutempuh dalam waktu lima tahun, karena sekolahku menerapkan teori pendidikan sistem loncat. Artinya, siswa yang dipandang mampu oleh guru, dinaikkan ke jenjang kelas yang lebih tinggi, meskipun belum saatnya kenaikan kelas. Tetapi itu bukan suatu hal yang mudah. Tentu saja ada prosedur yang harus dilalui. Jika siswa mampu mengerjakan soal tes yang diberikan oleh guru, maka siswa tersebut berhak naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi.

Dari hari ke hari senantiasa kupanjatkan puji syukur tiada henti kepada Allah Yang Maha Suci. Kusadari betapa besar karunia Allah yang telah diberikan kepadaku. Sejak kelas satu sampai kelas enam, aku selalu naik kelas.

Teman sekelasku ada empat orang. Kami berlima senantiasa bersama-sama sejak kelas satu sampai kelas enam, hingga kini tiba saatnya kami harus menghadapi Ebtanas. Bapak dan ibu guru senantiasa memberi motivasi kami agar kami rajin belajar. Bapak ibu guru juga memberikan les pada kami di sore hari, khususnya dalam pelajaran yang akan di-Ebtanas-kan.

“Tingkatkanlah belajar kalian agar bisa mendapatkan nilai yang gemilang pada saat Ebtanas nanti. Siapa yang nilainya bagus, bisa mengikuti pendidikan inklusif!” kata Pak Guru memberi semangat pada kami.

Kami senang sekali mendengarnya. Sejak saat itu kami berlima berlomba-lomba untuk giat belajar. Kami ingin mengikuti pendidikan inklusif, yaitu bersekolah bersama anak-anak yang normal. Pemerintah telah mencanangkan program inklusif dengan tujuan agar anak-anak yang berkelainan bisa membaur di masyarakat untuk mendapatkan pendidikan serta pelayanan yang sama.

Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan diri mengikuti Ebtanas. Sejak itu, hari-hari kami selalu disibukkan dengan belajar, belajar, dan belajar. Kami bertekad bulat untuk mengikuti pendidikan inklusif sebagaimana yang telah diprogramkan pemerintah. Kami ingin berbaur di masyarakat luas, agar kami memiliki wawasan yang luas, sehingga kami tidak lagi berwawasan sempit seperti katak dalam tempurung. Kami tidak ingin ketunanetraan yang kami sandang ini menjadi dinding pemisah antara kami dengan anak-anak yang normal. Sebab bagaimanapun juga kami adalah makhluk sosial. Kami punya hak yang sama dan kami juga berhak mendapatkan pengakuan atas keberadaan kami.

Usaha kami untuk mendapatkan nilai yang gemilang tidak hanya kami lakukan secara lahiriah. Secara batiniah, kami berusaha semaksimal mungkin untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Kami senantiasa berdoa agar diberi kesuksesan. Kami berjuang tidak mengenal lelah karena sadar bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan dan pengorbanan adalah kunci utama untuk meraih kesuksesan. Tanpa perjuangan dan pengorbanan, hidup ini tidak akan mulia.

Alhamdulillah, Allah memang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Allah Zat Yang Maha Pengasih Tak Pilih kasih, dan Allah Maha Penyayang Tak Pilih Pandang. Meskipun kami punya kekurangan, Allah mengabulkan doa kami, karena kami senantiasa berdoa dengan penuh kesungguhan. Allah telah memberi kemudahan pada kami, sehingga kami dapat mengikuti Ebtanas dengan baik. Kini saat yang mendebarkan telah berlalu, dan berganti dengan suasana yang menggembirakan. Nilai kami cukup memuaskan, sehingga kami bisa diterima di sekolah negeri Banyuwangi.

Tapi sayang sekali, di antara kami berlima, hanya tiga orang saja yang bisa diterima di sekolah negeri. Dua orang temanku diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Banyuwangi. Sedangkan aku diterima di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTN) Banyuwangi. Kemudian dua orang temanku yang lain dikirim ke Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Malang untuk belajar ketrampilan pijat.

Sebenarnya aku telah mendaftarkan diri di dua sekolah, yaitu di SMP Negeri dan di MTN. Aku diterima di keduanya, sehingga aku bingung mana yang sebaiknya kupilih, sebab keduanya termasuk sekolah yang berkualitas. SMP Negeri terkenal sebagai sekolah favorit pada waktu itu, sedangkan MTN terkenal sebagai sekolah yang kualitas pelajaran agamanya bagus. Akhirnya kupilih Tsanawiyah karena aku ingin memperdalam agama di sana.

Persyaratan untuk masuk ke Tsanawiyah cukup rumit juga. Siswa yang akan masuk ke Tsanawiyah harus mengikuti tes. Adapun materi tes berupa 100 soal pelajaran Agama dan 100 soal pelajaran umum seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Matematika. Alhamdulillah, aku dapat mengerjakan tes dengan baik, sehingga aku diterima di sana.

Keesokan harinya aku mulai masuk sekolah. Resah dan gelisah menghantui perasaanku. Aku bingung tak menentu. Hatiku berdebar, badanku gemetar, detak jantungku kian memburu; aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejuta kecemasan berkecamuk di hatiku. Apakah aku akan mampu beradaptasi, sedangkan aku baru kali ini mengikuti pendidikan inklusif? Akhirnya dengan mengucap ‘bismillah’, aku melangkah. Kuayunkan kaki, kucoba untuk memberanikan diri berangkat ke sekolah. Ya Allah, Ya Robbi, kepada-Mu aku berserah diri.

Dengan hati yang gundah, aku sampai juga di sekolah. Sesampainya di sekolah, aku disambut oleh gadis-gadis anggun berkerudung. Mereka siswa baru seperti aku, dan mereka juga teman sekelasku. Sungguh aku bahagia bisa bersama-sama dengan temanku yang normal. Ternyata mereka tidak seperti yang kuduga sebelumnya. Mereka ramah dan baik hati. Sentuhan tangannya lembut penuh arti. Dengan penuh cinta kasih mereka mendampingiku dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitanku.

Pendidikan inklusif di Banyuwangi belum begitu memasyarakat pada waktu itu sehingga para guru SLB YKPTI Banyuwangi masih harus melakukan sosialisasi pendidikan inklusif di sekolah-sekolah yang akan dimasuki oleh anak tunanetra. Aku terharu sekali ketika mendengar Guruku di SLB berdiplomasi dengan Kepala Sekolah Tsanawiyah.

“Bagaimana Pak, apakah anak didik saya bisa diterima di sini? Anak didik saya ini dari SLB YKPTI Banyuwangi, dia penyandang cacat tunanetra,” tanya Guru SLB.

“Maaf Pak, bukannya kami tidak mau menerima, tetapi kami bingung bagaimana cara mengajarnya, sedangkan kami tidak pernah menangani anak tunanetra!” jawab Kepala Sekolah Tsanawiyah.

“Bapak jangan kuatir. Bapak tetap saja mengajar seperti biasa. Anggap saja tidak ada anak tunanetra di kelas, sehingga bapak tetap bisa mengajar dengan lancar. Nanti anak ini yang akan berusaha untuk beradaptasi dengan Bapak,” kata Pak Guru SLB memberi penjelasan.

“Ya... tapi bukan hanya itu saja, Pak. Bagaimana jika dia ingin buang air kecil atau buang air besar, apakah dia bisa ke kamar kecil sendiri, sedangkan di sini tidak ada tenaga untuk itu?” tanya Kepala Sekolah Tsanawiyah.

“Tenang saja Pak, pasti dia akan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan, dan dia akan bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Jika dia bisa bersosialisasi dengan bagus, dia bisa ke mana-mana sendiri,” kata Pak Guru SLB.

“Ya baiklah kalau begitu, silakan dia bersekolah di sini. Kami akan berusaha untuk belajar menanganinya. Ini merupakan ilmu baru bagi kami,” kata Kepala Sekolah Tsanawiyah.

“Terima kasih Pak, saya juga akan terus memantau perkembangan anak ini. Jika nanti ada kesulitan, mari kita tangani bersama,” kata Pak Guru SLB.

Setelah pertemuan dengan Kepala Sekolah Tsanawiyah, Pak Guru SLB mohon pamit pada Kepala Sekolah Tsanawiyah, lalu pulang bersamaku. Di perjalanan, Pak Guru berpesan kepadaku agar aku bisa membawa diri baik-baik di sekolah Tsanawiyah. Aku sedih sekali meratapi diriku. Mengapa masih ada orang yang meragukan kemampuanku, padahal sejak kecil aku sudah dididik mandiri di SLB YKPTI Banyuwangi. Tapi tidak apalah, kumaklumi saja mereka yang meragukan aku, karena mereka memang belum tahu.

Di Tsanawiyah, hanya aku sendiri yang tunanetra, sehingga kadang-kadang aku merasa minder saat bersama mereka. Pada hari pertama aku mengikuti pelajaran, aku merasa malu sekali ketika aku harus mengeluarkan alat tulisku, karena alat tulisku berbeda dengan kepunyaan anak-anak yang lain. Tapi bagaimana lagi, di sekolah aku memang harus menulis. Jika aku tidak menulis, pasti aku akan ketinggalan pelajaran. Kucoba sedikit demi sedikit untuk menepiskan rasa maluku, meskipun sebenarnya sulit sekali melakukannya. Aku yakin pasti mereka tidak konsentrasi ke pelajaran jika mendengar suaraku menulis.

Ternyata benar apa yang kubayangkan. Ketika aku menulis, perhatian teman sekelasku tertuju padaku. Ya maklumlah, mereka belum pernah tahu tentang tulisan Braille. Menulis dengan huruf Braille tidak sama dengan menulis huruf “awas”. Menulis huruf “awas” tidak menimbulkan suara, sedangkan menulis huruf Braille menimbulkan suara cukup keras. Maka wajarlah kiranya jika mereka penasaran.

Tidak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi tiga kali, tanda waktu istirahat. Tetapi teman sekelasku tidak ada yang mau keluar kelas. Mereka mengerumuni aku karena ingin tahu tulisan Braille. Mereka penasaran karena belum pernah melihat tulisan Braille selama hidupnya. Mereka berdesak-desakan ingin belajar. Lalu kucoba menerangkan pada mereka satu per satu, meskipun sebenarnya dadaku sesak menahan malu. Ketika itu Bu Guru belum meninggalkan kelas. Rupanya Bu Guru bisa membaca raut wajahku yang sedang tersipu malu. Lalu Bu Guru membubarkan mereka, karena ternyata tidak hanya teman sekelasku yang mengerumuni aku, tetapi juga teman-teman dari kelas lain.

“He, minggir, minggir! Orang kok dilihat seperti film saja!” kata Bu Guru.

Mendengar Bu Guru marah-marah, mereka pun pergi meninggalkan kelas. Setelah mereka pergi meninggalkan kelas, Bu Guru menghampiriku. Rupanya Bu Guru penasaran juga. Beliau bertanya banyak hal padaku tentang tulisan Braille.

“Tidak apa-apa Mbak, jangan malu. Saya ini Bu Guru,” Kata Bu Guru.

Mayoritas temanku di Tsanawiyah bersikap baik padaku. Meskipun aku tunanetra, mereka tidak memandangku sebelah mata. Mereka tidak membeda-bedakan antara aku dengan yang lain. Mereka senantiasa bersikap ramah dan penuh perhatian padaku. Tegur sapanya lembut bersahabat. Mereka senantiasa membantuku dalam mengikuti pelajaran. Jika guru menulis di papan tulis, mereka mendiktekan aku secara bergantian sehingga aku bisa menulis dan tidak ketinggalan pelajaran.

Namun tentu saja di antara mereka ada juga yang bersikap angkuh, acuh tak acuh, bahkan tidak peduli padaku. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja dan itu kuanggap sebagai suatu hal yang wajar. Ibarat orang berjalan, tidak selamanya akan melewati jalan yang mulus. Kadang-kadang kita harus melewati jalan yang terjal, bahkan kadang-kadang kita harus mendaki gunung untuk mencapai suatu tujuan. Sesulit apapun jalan yang harus kulewati, aku tetap maju pantang mundur demi tergapainya masa depan yang cerah.


Updated February 2013 © PERTUNI 2013