PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

MEMASUKI DUNIA BARU

Oleh: Ade Nasihin

Saat kelulusan ujian SMP (Sekolah Menengah Pertama) diumumkan, sejuta rasa berkecamuk di dadaku. Ada perasaan bahagia karena aku dapat menyelesaikan studiku dengan hasil yang lumayan. Tapi selebihnya, yang kurasakan adalah kebingungan yang sangat mendalam tentang kelanjutan pendidikanku. Maklum, pada saat itu pendidikan SMP merupakan jenjang pendidikan formal kedua tertinggi yang diizinkan bagi tunanetra. Memang telah ada pendidikan formal setingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) berupa Sekolah Kejuruan Musik, namun minat dan bakatku tak cukup untuk menempuh pendidikan tersebut. Pernah juga terbuka kesempatan bagi tuannetra untuk mengikuti pendidikan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) bersama dengan anak-anak “awas” (berpenglihatan), namun kebijakan tersebut berakhir ketika aku naik ke kelas 2 SMP. Lebih celakanya lagi, sekolah-sekolah sejenis SPG dan SGO (Sekolah Guru Olahraga) ditutup, tepat pada saat aku seharusnya masuk ke jenjang pendidikan tersebut.

Aku pun terombang-ambing di antara beberapa pilihan, yaitu menempuh pendidikan musik dengan bekal dasar kemampuan yang minim, mengikuti kursus pijat meskipun usiaku masih terlalu muda, atau masuk SMA umum bersama orang-orang “awas” yang tentunya berbeda dari teman-teman yang kukenal di PSBN (Panti Sosial Bina Netra) Wyata Guna Bandung.

Sebenarnya nilaiku cukup memadai, guru-guruku pun sangat mendukung, namun keuangan orang tuaku pada saat itu kurang memungkinkan. Dengan keinginan yang menggebu, aku pun mencoba mendaftar ke SMA terdekat, yaitu SMA Negeri 6 Bandung. Sayang sekali, dengan alasan belum pernah menerima seorang tunanetra, keinginanku pun ditolak.

Sebenarnya kalau mau gampang, bisa saja aku masuk ke salah satu dari SMA-SMA yang pernah menerima para seniorku, seperti SMAN 2, SMAN 8, SMAK BPK (Sekolah Menengah Atas Kristen Badan Pendidikan Kristen), SMA YPI (Yayasan Penyelenggaraan Ilahi), dan lain-lain. Namun demikian, keadaan memaksa aku untuk memilih sekolah terdekat, supaya dapat kutempuh dengan berjalan kaki.

Dengan keinginan dan tekad yang kuat serta kepasrahan kepada Allah SWT, aku pun mengadukan penolakan pihak SMAN 6 kepada Kepala Kantor Departemen (Kandep) P&K Kota Bandung dan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum Kanwil (Kantor Wilayah) P&K Provinsi Jawa Barat. Serta-merta kedua lembaga tersebut menyurati SMAN 6, dan aku pun dipanggil menghadap. Ternyata di sana hadir pula Kepala Kandep P&K, Kepala-kepala sekolah SMA yang menolak kehadiran siswa tunanetra di sekolahnya, calon siswa tunanetra yang ditolak mendaftar, dan sejumlah relawan pembaca yang peduli pada pendidikan tunanetra.

Setelah melalui perbincangan yang alot, Kepala Kandep mengusulkan agar semua siswa tunanetra yang ingin masuk SMA dikumpulkan di satu sekolah; dalam hal ini SMAN 2 atau SMAN 8. Sejumlah tunanetra menyetujuinya, tetapi sebagian besar yang lain menolak. Aku sendiri termasuk pihak yang menolak. Selain karena alasan keuangan, kami pun punya obsesi agar semua SMA Negeri dapat menerima siswa tunanetra. Akhirnya keputusan dikembalikan kepada kepala sekolah masing-masing, dengan menggunakan hasil tes yang memenuhi Passing Grade.

Kepala Sekolah SMAN 6 sendiri tampak “berang” dan memberikan tantangan kepadaku. Saat itu aku katakan kepada beliau, “Kalau pada semester 1 nilai saya tidak mencapai rata-rata 7, atau ada tiga mata pelajaran yang merah, maka saya siap keluar.” Dengan senyum sinis, Kepala Sekolah mencatat perjanjian tersebut, yang kemudian aku tanda tangani.

Singkat cerita, aku pun mengikuti tes. Ternyata hasilnya memenuhi Passing Grade, dan aku termasuk 6 besar dari 400 peserta yang lulus. Aku pun memasuki dunia baru, mengikuti Mapras atau Masa Prabakti Siswa (sejenis Ospek, Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) semampuku dengan memperlihatkan usaha yang gigih. Di akhir acara, aku pun mewakili kelasku menampilkan atraksi yang dikemas dalam puisi dan musik (musikalisasi) dengan gitar tunggalku.

Di luar dugaan, Kepala Sekolah menyalamiku dengan terisak-isak dan mengatakan bahwa aku telah “membuka mata” beliau. Seusai Mapras, tahun ajaran 1984/1985 dimulai. Dengan Nomor Induk Siswa 8485-00-10, aku pun mulai belajar dan menjadi pusat perhatian. Bekal kiprahku dalam Mapras dan sedikit kemampuanku dalam bermain gitar membuat aku memiliki banyak teman yang saling membantu. Sebagai siswa yang dianggap “berbeda”, aku pun mulai menghadapi sejumlah tantangan. Gambar-gambar, grafik, dan simbol-simbol dalam pelajaran Matematika, Kimia, Fisika dan lain-lain merupakan hal yang menuntut perjuanganku. Untuk pelajaran Geometri, aku membawa papan grafik yang berlubang-lubang yang dapat dimasuki paku dan karet, sehingga aku dapat menggambar sudut geometri, parabola dan titik koordinat.

Adapun simbol-simbol Matematika yang belum diajarkan di SMP, kubuat simbol Braille-nya dan kuhafalkan coretan “awas”-nya. Menghadapi pelajaran Seni Rupa, aku menggunakan cat air dan menggambar dengan jari-jemariku. Memasuki akhir semester, ketika teman-temanku mengumpulkan gambar-gambar sebagai tugas akhir mereka, aku menyerahkan teks lagu Mars SMAN 6 dengan menggunakan not angka yang ditulis oleh temanku.

Berkat upaya gigih untuk menyelesaikan pelajaran di sekolah tersebut, aku pun menerima raport semester 1 dengan hasil yang baik. Dengan hanya satu angka 5 untuk mata pelajaran Fisika dan satu angka 6 untuk mata pelajaran Olahraga, aku meraih nilai rata-rata 8,07 (hanya terpaut 0,8 angka dari juara umum semester itu). Sambil menyerahkan piagam penghargaan kepadaku dalam upacara bendera, Kepala Sekolah mengumumkan bahwa selain bebas dari SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan), aku pun mendapatkan uang saku untuk semester berikutnya.

Dengan modal prestasi tersebut teman-temanku pun semakin banyak, bahkan sampai siswa kelas 2 dan 3; kakak-kakak kelasku sering meminta dibuatkan sosiodrama untuk PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa).

Tak hanya itu, aku pun menjadi Wakil Seksi Kesenian di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Wakil Ketua Usroh (Seksi Kerohanian). Meskipun tak sempat meraih juara, aku pernah mewakili sekolahku mengikuti Lomba Cerdas Cermat melawan sekolah-sekolah lain.

Di tengah tantangan dan prestasi tersebut, pernah juga kualami saat-saat yang menyulitkan. Pada waktu praktikum pelajaran Kimia dan Biologi yang menggunakan mikroskop, aku hanya dapat termangu seperti “kambing congek”. Saat itu pula merupakan saat sensitifku. Ketika temanku bertanya: “Apa yang bisa kamu lakukan?”, aku pun tak menjawab sepatah kata pun, dan hanya diam membisu dengan air mata berlinang. Serta-merta terjadilah kehebohan di kelas dan aku semakin merasa bersalah, karena semua orang termasuk ibu guru mempersalahkan teman yang bertanya tadi. Dengan bijak, ibu guru lalu memberiku tugas lain saat teman-temanku melaksanakan praktikum.

Setelah penjurusan dimulai, aku mendapatkan nilai yang baik. Apalagi saat memasuki Kelas 3, ketika pelajaran Olahraga dan Seni Rupa tidak lagi menjadi mata pelajaran, nilaiku pun meningkat drastis, hingga menjadi Juara Umum untuk Jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Prestasi tersebut merupakan prestasi yang membanggakan bagi diriku. Aku pun lulus SMA, mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan alhamdulillah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri pada jurusan favoritku. Tak terlalu banyak kendala yang kualami dalam mengikuti kuliah, karena sebelumnya sudah pernah ada seniorku yang lulus dari jurusan tersebut.

Setelah selesai kuliah, aku mengamalkan ilmu dan keterampilanku di tengah-tengah masyarakat. Aku bekerja sebagai penerjemah Inggris-Indonesia/Indonesia-Inggris dan menerima pengetikan karya tulis. Selain itu, aku pun sering mendapat kepercayaan untuk memberikan ceramah keagamaan dalam berbagai event.

Di tengah masyarakat, aku pun dapat hidup wajar dan diterima. Di tempat tinggalku, aku pernah menjabat sebagai Seksi Kerohanian dan mengasuh pengajian rutin kaum ibu. Selama tahun 2002-2003, aku juga mendapat kepercayaan mengisi kultum bulanan di Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Barat serta tercatat sebagai Penyuluh Agama Honorer Muda Tingkat Provinsi. Selain pernah menjadi anggota pengurus salah satu partai pemenang Pemilihan Umum tingkat Jawa Barat, aku pun aktif di berbagai organisasi ketunanetraan. Salah satu di antaranya pernah mengutusku mengikuti Pelatihan Manajemen Perkantoran Organisasi di India.

Di Negeri Hindustan tersebut aku berbagi pengalaman tentang pergaulan tunanetra di Bandung dengan masyarakat sekitarnya. Maklumlah, sampai tahun 1995, meski berbagai konsesi dan fasilitas telah diberikan oleh pemerintah kepada tunanetra India, pergaulan mereka dengan masyarakat masih tertinggal dibandingkan dengan tunanetra di Bandung.

Berdasarkan pengalaman itu, organisasi tunanetra India memintaku mencoba trik-trik yang pernah digunakan di Bandung untuk menyadarkan masyarakat di sana agar mau menganggap tunanetra sebagai teman atau mitranya. Bersama pengurus organisasi India, aku pun mengadakan kegiatan di tempat-tempat umum yang mendorong dan menekankan bahwa tunanetra merupakan bagian dari masyarakat, sehingga tunanetra juga harus diperlakukan secara wajar sebagai mitra yang dapat saling berbagi.

Pada saat yang sama, petinggi ABU (Asian Blind Union) Mr. Syahid Ahmeed Memon berkunjung ke Bandung untuk mengamati secara langsung integrasi tunanetra dengan masyarakat di kota tersebut. Berdasarkan pengalamanku di India dan kunjungan petinggi ABU tersebut, dilakukan diskusi dan sinkronisasi untuk menyusun Model Pelatihan atau Kegiatan Upaya Penyadaran bertema “Integrasi Tunanetra di dalam Masyarakat”.

Beberapa tahun kemudian, aku pun kembali mendapat pengalaman berharga yaitu menjadi penerjemah kontrak Braillo Norwey pada beberapa lokakarya bertema “Pendidikan Inklusif di Indonesia” selama tahun 2002-2004. Dengan demikian, pengalaman mengikuti pendidikan di SMAN 6 dahulu (1984-1987) merupakan bekal yang sangat berharga yang dapat mengantarkanku memasuki dunia baru yang penuh warna-warni.

Meski puluhan tahun sudah berlalu, kebanggaanku pada SMAN 6 tidaklah luntur. Betapa tidak, sampai saat ini SMAN 6 masih konsisten menerima tunanetra yang memenuhi syarat untuk bersekolah di sana. Tahun 2006-2007 kemarin, juniorku Joko lulus dari SMAN 6. Bukan itu saja, setiap diundang untuk menghadiri kegiatan organisasi tunanetra, SMAN 6 selalu mengutus petingginya yaitu Kepala Sekolah atau Wakilnya pada kegiatan tersebut. Meski aku tak tahu, apakah SMAN 6 tersentuh oleh proyek Pendidikan Inklusif atau tidak, namun konsistensi dan kehadiran mereka tersebut menunjukkan itikad baik dari pihak SMAN 6 dalam mewujudkan pengakuan dan kepedulian terhadap eksistensi tunanetra.

Semoga sekolah-sekolah lain dapat bersikap seperti SMAN 6 sehingga tunanetra yang memenuhi syarat dapat menempuh pendidikan di sekolah pilihannya. Aku pun berharap agar para juniorku terus dan terus mencoba mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah umum yang belum pernah menerima tunanetra. Dengan demikian akan semakin banyak sekolah yang menerima tunanetra, sehingga kiprah dan potensi tunanetra bisa dikenal dan diakui secara wajar.


Updated February 2013 © PERTUNI 2013