PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

MELAMPAUI KETERBATASAN, MENGGAPAI CITA-CITA

Oleh: Dimas Prasetyo Muharam

Masyarakat pada umumnya masih meyakini bahwa seorang tunanetra hanya bisa belajar di Sekolah Luar Biasa atau SLB. Anggapan mereka itu salah. Saat ini, sudah banyak tunanetra yang belajar di sekolah umum bersama orang normal. Bahkan ada pula yang belajar di perguruan tinggi negeri dan lulus dengan gelar sarjana dari institusi tersebut. Aku Dimas. Seorang tunanetra. Aku akan menceritakan pengalamanku belajar di sekolah umum. Sekarang aku berstatus mahasiswa di Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Jurusan Sastra Inggris, angkatan 2007.

Aku lahir di Jakarta 19 tahun yang lalu, dalam keadaan normal, di sebuah keluarga yang sederhana. Pada saat Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), aku belajar di sekolah umum seperti layaknya orang normal. Hingga di penghujung kelas 6 SD, mulailah aku menderita kebutaan. Oleh dokter, aku didiagnosa terkena virus toksoplasma dan glukoma. Dokter tidak bisa membantu. Kalaupun aku dioperasi, kemungkinan sembuh hanya 10-30%. Meskipun sangat terpukul, keluargaku tetap optimis dengan berikhtiar mencari pengobatan alternatif.

Karena sudah tidak bisa lagi melihat tulisan “awas” dengan jelas, aku tinggalkan sekolah. Salah satu guru di SD Negeri 06 Jagakarsa Pagi memberitahukan bahwa aku boleh bersekolah lagi jika keadaanku sudah memungkinkan. Sekolah Luar Biasa tidak ada dalam pemikiranku maupun keluargaku. Prioritas kami saat itu adalah mencarikan obat untukku agar aku sembuh dan bisa bersekolah lagi.

Aku tidak mengalami buta total, masih ada sedikit penglihatan walaupun tidak bisa lagi membaca tulisan “awas”. Keadaan penglihatan seperti ini disebut low vision. Setahun berlalu tanpa ada perubahan berarti. Kami mulai bisa menerima keadaan ini. Hingga pada suatu hari, orang tuaku menonton talk show di televisi tentang sebuah yayasan untuk anak-anak low vision. Yayasan itu bernama The Inverso Baglivo Foundation (The I.B. Foundation). Aku dibawa berkonsultasi ke sana, dan mereka memberi pencerahan bahwa sebenarnya aku masih bisa belajar di sekolah umum. Yayasan itu lalu menghubungi SD di mana aku pernah belajar, dan menunjukkan cara agar aku bisa mengikuti Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir).

Pertengahan bulan Mei, Ebtanas tiba. Aku ditempatkan pada sebuah ruangan khusus. Di sana ada dua guru pendamping merangkap sebagai pengawas. Satu guru membacakan soal, dan yang lain mengisi lembar jawaban. Aku mendengarkan soal dan pilihan jawabannya, lalu menjawab. Jawabanku dituliskan pada kertas jawaban.

Setelah melewati lima mata pelajaran Ebtanas dengan nilai yang cukup baik, aku direkomendasikan oleh The I.B. Foundation untuk berkonsultasi ke Yayasan Mitra Netra, sebuah yayasan yang menangani pendidikan dan rehabilitasi tunanetra. Di sana aku mendapatkan pendampingan dan teknik belajar. Pada awalnya, aku diajari huruf Braille. Lalu aku ditunjukkan perpustakaan “buku bicara”. “Buku bicara” merupakan rekaman suara seseorang yang membacakan buku. Pada saat itu, hatiku perih. Aku harus terima kenyataan bahwa kini aku adalah seorang tunanetra. Tapi ada satu hal yang cukup menghibur. Di yayasan tersebut, banyak teman yang senasib atau yang malah lebih parah keadaannya daripada aku. Namun mereka semua bisa menerima keadaan tersebut, dan tetap bersemangat menghadapi hidup. Banyak yang bisa mereka kerjakan, seperti belajar di sekolah reguler, bermain alat musik, bahkan bermain tenis meja. Hal yang membuatku bersyukur adalah karena aku diberi tahu tentang huruf Braille dan “buku bicara”. Dua hal tersebut pada saatnya, menjadi media belajar saat aku di sekolah reguler.

Tahun ajaran baru tiba. Yayasan Mitra Netra membantu aku dalam proses pendaftaran ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku mendaftar di SMP Negeri 226 Jakarta, sebuah sekolah umum yang menerima siswa “berkebutuhan khusus”. Siswa “berkebutuhan khusus” adalah sebutan untuk siswa dengan keterbatasan fisik seperti tunanetra, tunarungu, atau tunadaksa, yang mempunyai kemampuan intelektual yang cukup untuk mengikuti pelajaran bersama siswa normal. Pada saat itu, sekolah yang biasa menerima siswa ”berkebutuhan khusus” disebut “sekolah terpadu”. Disebut demikian, karena siswa “berkebutuhan khusus” dipadu dalam kelas yang sama dengan siswa normal. Tapi istilah ini sekarang berubah menjadi “sekolah inklusif”. Perubahan istilah ini adalah untuk mempertegas bahwa sekolah terbuka bagi siapa saja termasuk penyandang cacat.

Di antara teman-teman, aku tidak pernah merasa terdiskriminasi. Mereka menerima baik kehadiranku. Mereka tidak merasa risih atau aneh, malah dengan senang hati membantuku dalam belajar dan bermobilitas di sekolah.

Guru-guru di “sekolah terpadu” biasanya sudah memiliki pengalaman, atau paling tidak pelatihan dari instansi terkait dalam mengajar siswa “berkebutuhan khusus”. Mereka sangat akomodatif dan mengerti jika siswa tersebut mengalami hambatan. Seperti saat mengajar di kelas, para guru tersebut lebih banyak menjelaskan secara audio daripada visual. Cara ini tidak menganggu siswa normal dalam proses pembelajaran, tapi siswa tunanetra juga bisa mengikuti pelajaran dengan efektif. Teknik yang biasa kugunakan saat mendengarkan penjelasan guru adalah dengan merekam penjelasan itu menggunakan tape recorder. Meskipun begitu, sesekali aku juga bertanya pada teman atau guru jika ada yang tidak kumengerti. Sebagai siswa, aku benar-benar mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Tapi agar aku mendapatkan hak yang sama itu, guru terkadang harus bekerja ekstra untuk muridnya yang “berkebutuhan khusus” seperti aku. Misalnya saja dengan memberikan penjelasan tambahan di sela-sela waktu mengajar.

Di SMP ini, aku pun pernah mengikuti berbagai lomba. Aku diberikan kesempatan yang sama dengan teman-teman yang normal. Aku pernah ikut Lomba Cerdas Cermat untuk kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Sejarah, dan Bahasa Indonesia. Sekali waktu, aku dan dua temanku yang “awas” mendapat juara pertama. Selain itu, Lomba Pidato Bahasa Inggris dan Cerdas Cermat kelompok mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di lingkungan intern sekolah kuikuti pula. Yang membanggakan adalah bahwa lomba-lomba tersebut sebenarnya merupakan kompetisi bagi siswa normal. Hal ini menambah rasa percaya diriku bahwa keterbatasan fisik bukanlah suatu rintangan.

Di kelas pun prestasiku tidak kalah dengan siswa lainnya. Aku pernah merasakan mendapat peringkat pertama dan selalu menjadi salah satu dari Tiga Besar sampai aku menyelesaikan studiku di kelas 3.

Saat Ujian Nasional, sekolah memberikan perhatian yang baik terhadapku dan dua teman tunanetra lainnya. Kami ditempatkan dalam satu ruangan khusus. Dalam ruangan tersebut, ada tiga orang relawan pembaca yang menuliskan jawaban kami. Selain itu, disediakan pula soal dalam bentuk huruf Braille jika kami menemui kesulitan dalam memahami soal. Waktu mengerjakan ujian disamakan dengan siswa normal yang lain. Hal ini sesuai dengan asas persamaan hak untuk tunanetra. Kami memang tidak ingin diistimewakan, tapi cukup diperlakukan sesuai dengan yang kami butuhkan.


***


Lulus dari SMP dengan nilai rata-rata 8, aku meneruskan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 66 Jakarta. SMA tersebut juga menerima siswa “berkebutuhan khusus”. Di sekolah itu, ada empat siswa tunanetra dan dua siswa tunarungu. Alhamdulilah, kesulitan tidak banyak kami temui di SMA. Aku cukup pandai menyesuaikan diri dengan sistem kurikulum yang baru. Teknik belajarku pun sama seperti waktu di SMP. Namun di SMA, aku tidak pernah membawa relawan pembaca dari luar saat ulangan harian atau umum. Teman sebangku selalu bersedia membantu, dan guru pun mengizinkan dia membacakan soal untukku, sementara dia juga mengerjakan soal yang sama. Jika sudah selesai, aku akan membaca jawabanku untuk dia tuliskan, karena sebelumnya aku menulis jawaban itu dalam huruf Braille.

Tiga tahun di SMA, aku lulus dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) 27,10 dari tiga mata pelajaran jurusan IPS. Mekanisme pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) di SMA untuk kami yang tunanetra hampir sama dengan ketika di SMP. Bedanya sekarang, setiap siswa mendapat satu ruangan dengan dua guru pendamping yang bertugas membaca serta menuliskan jawaban. Mereka sangat sabar dalam membantuku mengerjakan soal. Oleh karena itu, aku tidak ingin menyia-nyiakan semua bantuan yang sudah diberikan ini.


***


Selepas SMA, aku putuskan untuk ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Aku tidak ikut SPMB kolektif seperti teman-teman di SMA, melainkan langsung mendaftar ke Universitas Indonesia (UI) Salemba bersama teman-teman tunanetra. Aku dan lima teman tunanetra lain mengikuti SPMB pada salah satu ruangan khusus di sana. Tiap orang mendapat dua pendamping. Para pendamping itu adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang bertugas sebagai panitia SPMB. Ada yang menarik di sini. Aku kurang tahu apakah para mahasiswa ini sudah mendapat pelatihan sebelumnya; mereka tampak faham bagaimana cara yang baik untuk membacakan soal bagi kami, walaupun mungkin baru kali ini mereka berinteraksi dengan tunanetra.

Pengumuman hasil SPMB akhirnya keluar. Alhamdulillah, aku diterima di Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris. Aku bersyukur karena cita-citaku menjadi seorang translator mendapat jalan dari Allah SWT. Salah satu motivasiku adalah untuk menghilangkan stigma tunanetra hanya bisa menjadi tukang pijat, peminta-minta, atau bahkan orang yang harus dikasihani.

Di UI, dosen-dosen berfikiran modern dan akomodatif. Pada awal kuliah, mereka menemuiku dan menanyakan apa yang aku butuhkan agar bisa mengikuti kuliah dengan baik. Aku sering berkonsultasi dengan dosenku untuk mereduksi hambatan yang aku temui. Hasil dari konsultasi itu, misalnya saja, para dosen mengizinkan aku membawa laptop ke kelas saat ujian tengah dan akhir semester. Mereka juga memberiku soal dalam bentuk soft copy yang kemudian aku kerjakan di laptop ber-screen reader. Hasil ujian lalu kuserahkan dalam bentuk soft copy pula.

Bergaul di lingkungan lembaga pendidikan reguler bagi seorang tunanetra sebenarnya tidak sulit. Hal yang perlu dilakukan oleh tunanetra adalah bersikap terbuka. Jika kita menutup diri, maka masyarakat tidak akan berani mendekati kita. Mereka takut akan menyinggung perasaan kita. Tapi jika kita mau memulai perkenalan terlebih dahulu, maka mereka juga akan menyambut kita dengan hangat. Cara tersebut selalu mempermudah kita setiap kali berada di sebuah lingkungan baru. Sejak di SMP, SMA, sampai perguruan tinggi ini, teman-teman yang kebanyakan belum pernah berinteraksi dengan tunanetra ternyata bisa menerimaku menjadi teman mereka. Bahkan di SMA, ada salah seorang teman tunanetra yang aktif berorganisasi di OSIS. Jadi pada intinya, asalkan kita mau bersikap terbuka dan memiliki itikad untuk berusaha, maka masyarakat pun akan terbuka pada kita.

Semua ini kusadari masih belum cukup. Perjuangan yang harus dilalui masih panjang. Setelah lulus nanti, cita-citaku adalah bekerja untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Selain itu, satu hal yang tidak akan aku lupakan adalah membantu sesama teman tunanetra. Aku ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Aku akan selalu berusaha melampaui keterbatasan untuk menggapai cita-cita.


Updated February 2013 © PERTUNI 2013