PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

LANGKAH-LANGKAH MANTAP MENITI KARIR

Oleh: Margeritta

Pada bulan September 2008, genap 30 puluh tahun usia profesiku sebagai guru. Banyak kisah suka-duka yang mewarnai kehidupanku. Di ambang pintu penutup masa baktiku, aku masih tersenyum, bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, yang selalu mendampingiku selama berbakti kepada negeri, membangun masa depan dengan turut mencerdaskan anak bangsa.

Ketika usiaku 13 tahun, ada satu profesi yang menjadi dambaanku. Profesi mulia itu ialah guru. Pada suatu hari, ketika guru Bahasa Indonesia memberi kami tugas mengarang bertema “Cita-Citaku”, dengan bahasa bersahaja kutuliskan bahwa aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Karanganku saat itu berisi ungkapan kekaguman, kebanggaan, keharuan, dan pujian terhadap tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh seorang guru: kompleks, berat, memerlukan keahlian, ketekunan, dan kesabaran. Anak yang bodoh dicerdaskan, yang tak tahu diberi tahu, yang salah diperbaiki, yang berbakat mengerjakan sesuatu diarahkan. Semuanya dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Ketika karangan itu diperiksa oleh ibu guruku, ia memujiku karena amat puas dengan karanganku. Aku mendapat nilai yang terbaik, dan ibu guruku mengatakan bahwa aku akan dapat meraih cita-cita itu asal aku giat belajar. Aku bahagia saat itu. Semangat belajarku bertambah karena aku ingin sukses meraih cita-cita itu.

Tahun 1964, aku tamat dari Sekolah Dasar Luar Biasa A (SD SLBA) Negeri Bandung. Tiga tahun kemudian, setelah tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sekolah yang sama, aku melanjutkan sekolah ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santa Angela yang berlokasi di Jalan Merdeka, Bandung. Pimpinan SPG Santa Angela saat itu adalah Suster Adriana. Aku bangga dan lega diterima di sekolah itu meskipun sebagai siswa eksperimen; artinya, dalam catur wulan pertama, aku harus dapat menunjukkan semangat belajar sungguh-sungguh yang dibuktikan dengan nilai-nilai baik sesuai ketentuan sekolah itu. Aku bertekad untuk dapat menjawab tantangan positif itu dengan melipatgandakan waktu dan cara belajar di luar sekolah. Aku yang ketika menjadi siswa SMP hanya belajar antara 1-2 jam sehari, meningkatkan waktu belajar menjadi 6-7 jam sehari ketika di SPG. Dengan bantuan saudara-saudara dan teman-teman baruku, kukerjakan semua pekerjaan rumahku. Kubaca catatan-catatanku sehingga membuahkan hasil gemilang. Hasilnya, aku pun resmi diterima tanpa syarat di sekolah itu.

Di sana, aku adalah satu-satunya siswa tunanetra. Jumlah siswa di kelasku 50 orang, semuanya perempuan. Meskipun semula aku merasa sangsi apakah akan mampu bergaul dengan mereka, ternyata kemudian terbukti bahwa aku dapat menjalin pergaulan yang harmonis dengan mereka tanpa kesulitan yang berarti. Kebanyakan dari mereka bersikap ramah, sosial, dan peduli padaku. Karenanya aku dapat bermain dan belajar bersama mereka. Mereka siap membantuku membacakan materi-materi pelajaran, baik yang ada di papan tulis, buku-buku pelajaran, atau teks bacaan lain yang kuperlukan.

Aku pun merasa terharu dan bersyukur karena guru-guru di sekolah itu sangat baik kepadaku. Dengan ketulusan hati dan ketekunan, mereka turut memperjuangkan kesuksesan belajarku. Ketika ulangan umum tiba, setiap guru bidang studi membacakan soal-soal dan aku menuliskan jawabannya dengan huruf Braille. Setelah selesai, jawabanku disalin ke tulisan “awas” dengan bantuan teman-temanku dan kemudian diserahkan kepada guru-guru tersebut untuk diperiksa.

Ibu Angela, pengajar Ilmu Didaktik/Metodik, memberikan ulangan kepadaku secara lisan. Sambil mengawasi teman-teman lain yang mengerjakan soal ulangan, aku disuruhnya berdiri di depan kelas seraya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh beliau. Anehnya, soal-soal yang diajukan padaku terasa lebih sulit karena jawabannya memerlukan kalimat-kalimat panjang yang kadang kompleks. Mungkin maksud beliau supaya jawabanku tidak ditiru oleh teman-temanku. Namun karena aku telah mempersiapkan diri secara maksimal, maka soal-soal itu dapat kujawab dengan lancar dan benar sehingga memuaskan sang penanya.

Pada saat pembagian rapor catur wulan pertama, rangkaian kata pujian dan kekaguman yang ditujukan pada keberhasilanku membahana di kelasku. Semua guru, kepala sekolah, dan teman-temanku terlihat puas. Nilai-nilai raporku berada pada kisaran 7 sampai 9. Suster kepala sekolah dengan nada suara bangga dan terharu menyatakan bahwa aku bebas dari masa eksperimen dan boleh bersekolah di sekolah ini sampai tamat.

Keberhasilanku itu selain menjadi kebanggaan bagi diriku dan keluarga, juga membukalebarkan rasa simpati lebih banyak teman dan guru. Semua itu memicu semangat belajarku untuk dapat meraih cita-cita, menepis rasa rendah diri karena ketunanetraanku, serta membangkitkan semangat untuk dapat berbakti kepada ayah bunda, bangsa dan negara. Kuakui kebenaran kata-kata bijak yang disampaikan bapak/ibu guruku terdahulu, bahwa ketunanetraan bukanlah rintangan yang menyebabkan tunanetra tak punya arti. Dengan akal, pikiran, dan perasaan anugerah dari Tuhan, serta kasih sayang, perhatian, dan simpati orang-orang di sekitarnya, ditambah kemauan, usaha dan doa, para tunanetra pun bisa sejajar dengan orang “awas”.

Memasuki catur wulan ke-2, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas mengarang kepada kami yang bertema “Pengalaman yang Paling Berkesan Selama 4 Bulan di SPG Santa Angela”. Karangan sepanjang dua halaman folio itu harus selesai dalam satu minggu. Kupilih ”Kisah Pembagian Rapor Catur Wulan 1” sebagai judul karanganku. Kususun kata demi kata menjadi kalimat-kalimat dan alinea-alinea. Kugunakan ejaan dan tanda baca yang tepat sampai akhirnya karangan yang berhuruf Braille itu selesai kukerjakan. Seorang sahabatku, Endang Panji mengalihhurufkan karanganku ke tulisan “awas”.

Pada saat pengumpulan pekerjaan rumah itu, pak guru memeriksa karangan-karangan siswa satu per satu, mengomentarinya, kemudian menilainya. Ketika tiba giliran karanganku, teman sebangkuku berbisik bahwa bapak guru tampak tersenyum-senyum, mengangguk-angguk ceria, wajahnya menandakan kepuasan memeriksa karanganku. Suara langkah kaki yang mendekat sangat mengejutkanku. Pak guru mendekatiku. Setelah dengan lembut menyentuh pundakku, beliau menanyakan apakah aku sendiri yang mengarang kisah itu. Kujelaskan, bahwa itu karanganku sendiri, tapi yang menulis adalah temanku. Beliau kemudian memberikan nilai terbaik di kelas saat itu, dan langsung menempelkannya di majalah dinding bersama karya-karya terbaik lainnya.

Selanjutnya, kujalani hari-hariku di SPG itu dengan keceriaan karena kebaikan dan keramahan teman-teman dan guruku, kutingkatkan semangat belajar dengan harapan bahwa aku yang tunanetra ini bisa menjadi teladan bagi tunanetra-tunanetra lain yang mau bersekolah di sekolah umum. Aku juga berharap kesuksesanku bisa menjadi satu bukti bagi sekolah-sekolah non SLB bahwa para tunanetra pun mampu bersekolah di mana pun, asal mereka diberi kesempatan, bimbingan serta bantuan sesuai dengan kebutuhannya.

Pada pembagian rapor catur wulan ke-3, aku naik ke kelas 2 dengan nilai-nilai yang memuaskan. Kuucapkan puji syukur dan terima kasih ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan penuh bangga dan haru, kusambut ucapan selamat penuh kebanggaan dari teman-teman, guru-guru, kepala sekolah, juga saudara-saudaraku.

Tapi kemudian aku harus meninggalkan SPG Santa Angela, karena orang tuaku tidak mampu membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang naik 150%. Tak mudah mencari sekolah baru untukku. Maklum, pada saat itu, sebagian besar sekolah umum belum mengenal kami para penyandang cacat, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan langsung menolak kami bersekolah di sekolahnya.

Bapakku dengan gigih mencari sekolah untukku. Untunglah, usahanya tidak sia-sia. Sejak kelas 2 sampai tamat aku bersekolah di SPG Mardiyuana, Sukabumi. Siswa di sekolah ini terdiri dari laki-laki dan perempuan yang kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu di daerah perkampungan. Selain aku, ada seorang siswa tunanetra laki-laki yang duduk di kelas 3. Kepala Sekolah merangkap ibu asrama yang bernama Ibu Irma dikenal dengan julukan ”Ibu Disiplin”. Segala petunjuk, aturan bahkan perintahnya harus kami patuhi seketika itu juga; pulang sekolah harus tepat waktu, tidak boleh pacaran, harus makan makanan yang tersedia, tidak boleh jajan, harus pamit kalau pergi ke luar asrama, harus melaksanakan segala tugas asrama, dan banyak lagi hal-hal lain yang menjadi kewajiban semua siswa di asrama/sekolah itu. Para siswa wajib memasak sampai menyajikan masakan di meja makan serta membersihkan kamar masing-masing. Para siswa juga bertugas membersihkan halaman asrama, kamar mandi dan WC, juga kebun. Siswa laki-laki yang pandai memanjat pohon diharuskan memetik buah-buah kelapa tua yang banyak terdapat di kebun samping asrama, sekaligus mengupasnya. Oleh para siswa perempuan, kelapa itu diparut, dimasak menjadi serundeng untuk lauk sarapan setiap pagi. Dari beliau, kami memperoleh tak hanya pelajaran-pelajaran sekolah, tapi juga ilmu tentang pergaulan, menata dan membersihkan rumah serta halamannya, memasak, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang kami butuhkan dalam mengarungi samudera kehidupan ini.

Letak sekolah dengan asrama agak berjauhan, namun masih dapat kami tempuh dengan berjalan kaki. Setiap pagi, beramai-ramai kami berangkat ke sekolah. Kami baru kembali ke asrama pada siang hari, saat mentari panas menyengat tubuh.

Di sekolah baru itu, aku tak mengalami kesulitan bergaul, baik dengan teman seasrama maupun dengan teman di luar asrama. Minggu-minggu pertama belajar di sekolah itu kujalani dengan penuh semangat. Aku ingin prestasi belajarku tetap memuaskan seperti ketika aku di kelas 1. Semua pekerjaan rumah dan tugas sekolah lainnya kukerjakan dengan baik bersama teman-teman laki-laki dan perempuan. Ketika tes formatif tiba, seperti biasanya teman sebangkuku membacakan soal, dan aku menjawab dengan huruf Braille. Kemudian lembar jawaban kuserahkan kepada guru pengawas.

Pak Suroto pengajar Bahasa Indonesia dan Pak Santoso pengajar Ilmu Mendidik, Ilmu Didakti/Metodik dan Psikologi datang ke asrama pada sore harinya untuk menyuruhku membacakan hasil ulangan yang kemudian langsung mereka nilai. Aku tak pernah diminta membacakan lembaran-lembaran jawaban pelajaran lainnya. Kukira kakak kelasku yang tunanetralah yang membacakannya.

Tibalah saat pembagian rapor catur wulan pertama di kelas 2. Aku sangat terkejut dan kecewa karena angka 6 mendominasi raporku. Nilai pelajaran yang masih lebih baik hanyalah Ilmu Mendidik 8, Ilmu Didaktik/Metodik 9, dan Psikologi 8. Ingin rasanya aku memberontak, melampiaskan kegusaranku. Tapi aku tak berani.

Di hari-hari berikutnya sampai ujian akhir, aku kehilangan semangat belajar. Syukurlah, sebulan menjelang saat ujian akhir, ada berita positif yang kudengar bahwa hasil ujian akan diperiksa oleh dua tokoh tunanetra dari Bandung, yaitu Drs. Suharto dan Drs. Anton, P.S.

Kejutan kedua kuraih ketika hasil ujianku dinilai, nilai rata-rata yang kuperoleh adalah 8. Kebanggaan dan kebahagiaan yang meluap-luap menepis kekecewaanku yang diakibatkan oleh kelalaian beberapa orang guru di kelas 2 dan kelas 3 yang ternyata tak pernah memeriksa hasil ulanganku.

Setelah tamat SPG, aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa) selama dua tahun. Lima tahun kemudian, aku lulus tes pegawai negeri sipil dan mendapat tugas mengajar di SLBA Negeri Bandung tempatku menuntut ilmu semasa SD dan SMP.

Demikianlah kisah perjalananku dalam meniti jenjang-jenjang pendidikan guna meraih cita-cita.



Updated February 2013 © PERTUNI 2013