PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

KONTRIBUSI AWAL BAGI INKLUSI

Oleh: Atung Yunarto

Vonis dokter itu sungguh-sungguh mengagetkanku. Aku yang selama ini tidak pernah memperhatikan saudara-saudaraku para penyandang cacat khususnya tunanetra, atas anjuran dokter, justru kini disarankan masuk Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta. Sama sekali tidak kukira aku akan menjadi orang buta. Badanku seketika terasa lemah, seperti tidak ada harapan menghadapi masa depan. Dokter menyatakan selaput jala atau retina mataku lepas dan tidak dapat dioperasi. Kejadian kelabu ini terjadi setelah aku menyelesaikan kuliahku.

Pada pertengahan tahun 1991, berita gembira menyelimuti keluargaku. Aku dan teman-temanku menunggu hari yang dinanti-nantikan, yaitu pengumuman hasil UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ternyata nama dan nomor ujianku tercantum dalam pengumuman itu. Aku diterima di Universitas Negeri Jember (Unej).

Malam itu juga aku meninggalkan kota Surabaya, berangkat ke Jember ditemani seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Unej kenalan tetanggaku. Besok pagi aku harus melakukan daftar ulang. Di samping itu, aku harus mencari rumah kos untuk tempat tinggalku.

Pagi itu aku sampai di kota Jember, dan langsung mencari tempat kos di sekitar kampus Universitas Jember. Akhirnya tempat kos itupun aku dapatkan. Setelah temanku pergi, segera aku mempersiapkan dokumen, karena sebentar lagi pendaftaran akan dibuka.

Tak lama, aku sampai di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, tempat pendaftaran ulang dilakukan. Di situ sudah banyak sekali calon mahasiswa yang mengantri. Aku pun langsung mencari informasi ke beberapa calon mahasiswa. Ternyata mereka berjejal berebut membaca pengumuman yang tertulis pada kertas yang ditempel pada dinding gedung. Aku menjauh dari tempat itu karena tidak mungkin bisa membaca dengan jelas pengumuman itu meskipun berada tepat di bawahnya. Akhirnya dengan bantuan seorang teman sesama calon mahasiswa, akupun menyelesaikan registrasiku.

Pada masa orientasi dan pembinaan bagi mahasiswa baru, aku mengalami beberapa kejadian yang cukup menjengkelkan. Sering kali aku tersandung undakan yang tidak dapat kulihat dengan jelas. “Kaca mataku belum ganti” adalah alasan yang selalu aku kemukakan saat ditanya oleh teman-temanku. Belum lagi saat ditunjuk oleh seorang dosen untuk menjawab pertanyaan, kadang aku kena marah karena diam saja. Padahal aku benar-benar tidak tahu bahwa yang ditunjuk adalah aku, karena dosen tersebut hanya menunjukku dengan tangannya.

Beberapa waktu kemudian, perkuliahan pun dimulai. Aku masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) dengan Program Studi Pendidikan Matematika. Selama dua semester awal, aku harus menempuh mata kuliah umum seperti Kimia, Fisika, dan Biologi yang tentu saja tidak lepas dari praktikum. Dalam melaksanakan tugas-tugas praktikum ini, aku masih dapat menggunakan sisa penglihatanku, meskipun dalam beberapa hal aku mengalami kesulitan. Untunglah, para asisten dosen memberikan kemudahan kepadaku. Misalnya pada saat aku harus menggambar apa yang tampak di bawah mikroskop, aku diperbolehkan meminta bantuan temanku untuk menggambarkannya. Oleh temanku dibuatlah gambar yang agak besar sehingga aku dapat melihat dengan lebih jelas meskipun harus dalam jarak yang sangat dekat. Lalu aku disuruh untuk menjelaskan gambar tersebut. Tugas-tugas praktikum selama dua semester ini pun dapat aku selesaikan dengan lancar.

Selain menempuh perkuliahan, aku pun aktif di beberapa kegiatan mahasiswa. Kerohanian Islam serta Seni Musik dan Teater menjadi pilihanku. Dalam mengikuti kegiatan Kerohanian Islam ini aku membutuhkan Al-Quran dengan ukuran yang cukup besar. Untunglah aku bisa mendapatkan kitab berukuran besar ini di masjid kampus sehingga aku dapat membacanya. Hal ini sangat mendukung kegiatanku. Dalam kegiatan Seni Musik dan Teater pun hampir tidak ada kendala yang berarti. Hubungan dengan kawan-kawan dari berbagai fakultas kurasakan sangat akrab sehingga terjalin persaudaraan yang sangat erat pula.

Pada pertengahan perkuliahan, aku memutuskan untuk mengontrak rumah dengan beberapa teman yang satu program denganku. Ini kulakukan dengan harapan bisa belajar bersama. Aku meminta teman-temanku untuk membaca keras-keras apa yang mereka pelajari di buku. Merekapun dengan senang hati melakukannya; mungkin karena nilaiku adalah yang paling baik di antara kelima temanku, di samping karena aku juga senang membantu mereka menyelesaikan soal-soal yang sulit. Keadaan seperti ini berlangsung sampai akhir masa perkuliahanku.

Hari demi hari perkuliahan aku lalui. Setiap kali dosen menerangkan sambil menggambar di papan tulis, aku selalu meminta dosen tersebut untuk menggambar lebih besar. Gambarpun dapat aku lihat meskipun kurang jelas; bangku depan selalu menjadi tempat duduk favoritku. Untuk memperlancar perkuliahan, aku selalu berusaha mempersiapkan diri dengan mempelajari terlebih dahulu apa yang kira-kira dosen akan ajarkan.

Menginjak semester ke-6, aku menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama melakukan kegiatan-kegiatan di desa tempat melaksanakan KKN, aku selau didampingi teman-temanku dalam satu kelompok. Teman-teman sekelompokku memaklumi gangguan penglihatanku karena sebelumnya aku telah menceritakannya. Beberapa kegiatan dengan lancar kami laksanakan bersama-sama, seperti mengadakan observasi potensi sumber alam desa, membangun batas desa, mengadakan penyuluhan wajib belajar pendidikan 9 tahun, pernikahan dini dan pernikahan di bawah tangan, membangkitkan dan mengembangkan usaha mandiri sektor informal, dan sebagainya.

KKN saja belum cukup untuk berinteraksi dengan lingkungan baru, aku masih harus menempuh mata kuliah Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai salah satu persyaratan untuk menempuh skripsi. Oleh dosen pembimbing, aku ditunjuk sebagai koordinator PPL di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Ambulu di pinggiran kota Jember. Di lokasi baru ini, aku sangat akrab dengan siswa-siswa SMA. Pada saat istirahat, banyak di antara mereka yang bertanya soal-soal matematika yang mereka anggap sulit. Akhirnya aku berinisiatif untuk memberikan bimbingan belajar bagi mereka. Karena masa PPL itu bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, aku dan teman-teman berinisiatif pula untuk mengadakan kegiatan Ramadhan dengan berbagi ilmu agama yang aku dapatkan dari kampus. Dalam kondisi penglihatanku yang melemah (low vision) ini, aku masih bisa melakukan banyak aktivitas.

Aku mempunyai tiga orang sahabat dari fakultas lain, tepatnya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sangat perduli dan membantu memperlancar aku membuat skripsi. Mereka adalah teman satu kelompok dalam kajian Kerohanian Islam. Aku dibantu oleh mereka membaca buku-buku literatur untuk penyusunan skripsiku. Mereka pun secara bergantian datang ke rumah kontrakanku untuk membacakan buku literatur yang sudah aku siapkan. Demikian juga dalam pengetikannya, mereka membantuku mengetik dengan menggunakan komputer. Sungguh merupakan bantuan berharga yang tidak pernah aku lupakan.

Pada akhirnya, hari yang sangat mendebarkan tiba, yaitu ujian skripsi. Tiga orang dosen penguji dan dua dosen pembimbingku siap mengujiku. Kulangkahkan kaki menuju ruang ujian sembari berdoa memohon kelancaran saat diuji. Pintu kuketuk dan kubuka. Sambil menundukkan kepala, aku memberikan salam. Mereka mempersilakan aku duduk. Secara tidak sengaja, kakiku tersandung kaki kursi. Terjadi gesekan antara kaki kursi dan lantai yang menimbulkan suara agak keras. Aku segera meminta maaf. Ujian pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepadaku. Ada sebuah halaman pada skripsiku yang perlu diperbaiki, dan aku disuruh membaca. Aku membacanya dengan jarak yang sangat dekat seraya meminta maaf dan mengemukakan alasanku. Para dosen penguji itupun memakluminya. Akhirnya usai sudah ujian skripsi itu.

Dengan sabar, aku dan teman-teman lain yang sama-sama menempuh ujian menunggu hasil sidang para dosen penguji. Setelah menunggu selama hampir satu jam, nilai hasil ujian skripsi pun diumumkan. Aku merasa bangga dan haru saat dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan.

Jika kukenang masa kuliahku, aku pun tersadar bahwa aku telah menjadi seorang tunanetra. Mudah-mudahan Allah membalas semua kebaikan teman-temanku yang telah banyak membantu dan mendukung aku selama kuliah. Demikian pula para dosen yang telah memberikan kemudahan bagiku. Mereka telah memberikan kontribusi yang menjadi harapan awal menuju kampus yang inklusif.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013