PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

KESAMAAN DI BALIK SEBUAH PERBEDAAN

Oleh: Sujono Said

Setiap manusia diciptakan dengan beraneka ragam bentuk fisik, jenis kelamin, dan pola fikir. Salah satu kelengkapan dari segi fisik adalah kesempurnaan penglihatan. Namun, meskipun kita dihadapkan pada kondisi yang berbeda-beda, tentu ada sebuah keunikan tersendiri pada diri kita.

Seperti itu pulalah yang saya (Penulis) alami. Saya adalah putera kelahiran Bulukumba 11 Februari 1989. Buah hati dari pasangan ST Khadija dan Sa’id Bakri ini berhasil menamatkan pendidikan di sekolah tingkat pertama pada tahun 2006 dengan nilai-nilai yang cukup memuaskan, dan kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Umum (SMU) yang belum pernah menerima murid tunanetra, yaitu SMU Negeri 4 Makassar.

Sebagai tunanetra pertama yang menjalani studi di SMU Negeri 4 Makassar, banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan. Meskipun saya berada dalam keterbatasan dari segi penglihatan, saya ternyata tetap enjoy bergaul dengan mereka yang dikaruniai fisik yang normal, wajah yang cantik, tubuh yang gagah, otak yang cerdas, dan akhlak yang baik.

Pada awalnya, saya merasa sangat malu bergaul dengan mereka, tetapi saya lalu teringat akan sebuah statement yang sudah lama tertanam dalam diri saya, bahwa tidak ada perbedaan antara saya dan mereka. Mereka sebagai teman yang diberikan rahmat dari Allah berupa penglihatan yang sempurna juga mau menerima saya sebagai bagian dari mereka.

Tak hanya teman-teman, sebagian besar guru di sekolah tersebut pun cepat menerima dan mengerti bagaimana melayani tunanetra yang mengikuti pendidikan inklusif di sekolah mereka. Tentu ini adalah suatu hal yang patut disyukuri oleh kita, sebab pola fikir mereka tentang penyandang cacat khususnya tunanetra kini telah mengalami kemajuan.

Hal yang menarik bagi saya ketika berada di sekolah tersebut adalah ketika mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas satu. Suatu sore, secara kebetulan saya dan teman-teman sekelas mengikuti pelajaran Komputer. Saat itu, karena guru bidang studi yang bersangkutan hanya menuliskan materi di papan tulis, saya terpaksa meminta tolong teman untuk membacakan apa-apa yang tertulis di papan tulis agar bisa saya catat dalam huruf Braille.

Saya meminta teman-teman membacakan secara bergiliran materi yang ada di papan tulis. Ternyata usaha saya berhasil. Tetapi saya juga kurang puas, sebab beberapa teman hanya membacakan beberapa kata lalu langsung meninggalkan saya tanpa pamit. Tetapi berkat kesabaran saya dalam menghadapi hal ini, pertolongan Allah turun melalui teman saya bernama Aulia Susanti. Ia mendatangi saya dan menawarkan diri untuk membantu menyalin materi dari papan tulis sampai selesai. Sejak saat itu, pertemanan antara saya dan Aulia sangat akrab.

Dalam mengikuti pelajaran Biologi, cara penyajian materi yang dilakukan oleh Ibu Arifa Sulaiman dilakukan dengan lebih banyak menulis materi pelajaran di papan tulis daripada menjelaskan kepada seluruh siswa. Meskipun begitu, beliau sangat memberi akses bagi tunanetra, sebab ketika beliau menulis di papan tulis, beliau juga meminta agar salah seorang teman saya membacakan tulisan yang ada di papan tulis untuk saya catat dalam huruf Braille.

Saya pernah mengalami sebuah kejadian yang boleh dikata sangat lucu ketika sedang mengikuti pelajaran Biologi. Saat Ibu Arifa selesai menuliskan materi Biologi di papan tulis, ia menyuruh seorang siswa untuk mendampingi saya membacakan materi tersebut. Tetapi siswa tersebut bukannya mendekat kepada saya, melainkan berteriak dari kejauhan mendiktekan apa yang ia lihat di papan tulis. Melihat kelakuan siswa tersebut, Ibu Arifa langsung mendatangi siswa tersebut dan menyeretnya ke samping kanan saya. “Kamu duduk dan bacakan buat dia!” ujar Ibu Arifa menyuruh siswa tersebut membaca dengan posisi duduk di samping kanan saya.

Lain lagi halnya dengan Ibu Ma’rifa, guru Bahasa Indonesia. Selain menggunakan metode ceramah, beliau juga banyak menggunakan metode praktikum. Untunglah materi praktikum dalam Bahasa Indonesia tidak menyulitkan kaum tunanetra sehingga saya juga tidak menemui kendala dalam mengikuti pelajaran beliau. Materi praktikum dari beliau adalah berupa tugas bagi siswa untuk melakukan diskusi kelompok, praktik pidato, dan lain-lain yang notabene mampu dilakukan tunanetra tanpa harus memperoleh bantuan khusus dari beliau.

Ibu Evi Yuliati adalah wali kelas 1-9, yang merupakan kelas tempat saya belajar. Ia adalah seorang guru Fisika. Sebagai seorang wali kelas, ia sangat faham tentang bagaimana memberikan pelajaran kepada siswa penyandang tunanetra. Dalam memberikan pelajaran, beliau menggunakan beberapa metode mengajar, antara lain ceramah, penugasan, dan praktikum yang dilakukan di laboratorium Fisika.

Selain pengalaman belajar di kelas, saya juga memperoleh banyak pengalaman menarik di luar jam pelajaran, khususnya dalam kegiatan ekstrakurikuler (ekskul).

Sudah sebulan saya duduk di bangku kelas 1 SMU, saat peringatan Tujuh Belas Agustus tiba. Untuk menyambut peringatan Hari Proklamasi ini, diadakan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Dalam kegiatan Porseni, terdapat beberapa lomba yaitu Lomba Tarik Tambang, Bola Voli, dan Futsal untuk cabang Olahraga. Sedangkan untuk cabang Seni, diadakan Lomba Sound Contest (atau dikenal juga dengan istilah Menyanyi Solo), Pidato Bahasa Inggris, dan Ceramah Agama (atau dikenal dengan istilah Da’i).

Saya memilih mengikuti Lomba Da’i atau Ceramah Agama. Setelah menunggu sambil mengamati penampilan peserta Lomba Da’i yang lain, peserta Lomba Pidato Bahasa ingris, serta peserta Lomba Sound Contest, akhirnya tibalah giliran saya untuk mempersembahkan yang terbaik kepada seluruh khalayak pengetahuan agama yang saya ketahui. Begitu selesai dan turun dari panggung, saya langsung memperoleh respon yang begitu menggembirakan dari teman-teman serta kakak-kakak kelas. Salah seorang dari sekian banyak kakak kelas langsung bertanya dengan sebuah pertanyaan, “Dik, kamu dari kelas 1 berapa?” Dengan santainya saya menjawab bahwa saya kelas 1-9. Setelah mereka memperoleh jawaban dari saya, mereka langsung menyampaikan salut terhadap penampilan saya. Mendengar pujian dari kakak-kakak kelas, saya hanya tertunduk malu sambil mengucapkan terima kasih.

Setelah tiga bulan bersekolah di SMU Negeri 4 Makassar, saya akhirnya bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Ketakwaan. Dalam kegiatan ini, siswa banyak memperoleh pengetahuan agama melalui kegiatan pengajian yang dilakukan di dua tempat, yaitu Mushalla Khusnul Khatimah SMU Negeri 4 Makassar dan kelas 2 IPA 1. Kegiatan ini dibina oleh dua orang pembina, yaitu Bapak Ustadz Syamsuri Sa’id dan Bapak Ustadz Abdul Somad yang lebih akrab disapa Pak Somad. Awal mula saya bergabung dalam kegiatan tersebut merupakan sebuah kenangan tersendiri yang penuh kesan.

Jumat 23 September 2006 adalah hari pertama saya menggabungkan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler Ketakwaan. Tepat pada pukul 15.30, saya telah berada di dalam Mushalla Khusnul Khatimah untuk menanti waktu shalat ashar. Setelah semua siswa melaksanakan shalat ashar, panitia pelaksana kegiatan ekstrakurikuler melakukan persiapan-persiapan; salah satu di antaranya memberi konfirmasi kehadiran pemateri yang akan mengisi ceramah sore itu. Tepat pukul 16.00, terdengar suara Ustadz Somad mengucapkan salam. Sambil menyalami saya, beliau berucap, “Nak, sekali-kali kamu gantikan Bapak mengisi ceramah agama ya!”

Kegiatan hari itu dimulai dengan pembacaan qalam Illahi, dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Bapak Ustadz Abdul Somad, dan terakhir sesi tanya jawab antara Pak Somad dengan seluruh jamaah yang merupakan peserta ekstrakurikuler Ketakwaan.

Sejak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan aktif berorganisasi dalam organisasi keagamaan tingkat sekolah, saya selalu memperoleh pelajaran yang amat berharga dari Pak Somad. Kelas 2 IPA 1 menjadi tempat saya memperoleh ilmu agama yang merupakan panduan dalam kehidupan sehari-hari.

Setahun bersekolah di SMU Negeri 4 Makassar, saya ternyata harus pindah ke SMU Datuk Ribandang. Meskipun telah berada di SMU Datuk Ribandang, saya tetap mengenang masa-masa sekolah saya di kelas satu SMU Negeri 4 Makassar. 2 IPA 1 adalah kelas yang sangat bersejarah, sebab saya memperoleh banyak pelajaran berharga dari Ustadz Somad di kelas tersebut.

Sejak saya mengikuti ekskul di SMU Negeri 4 Makassar, saya sudah tertarik dan kagum kepada siswi-siswi yang duduk di kelas 2 IPA. Mengapa? Sebab menurut saya, siswi-siswi yang duduk di kelas 2 IPA adalah orang-orang yang berakhlak dan berotak cerdas serta memiliki cakrawala berfikir yang begitu luas. Saat itu saya sempat berkata dalam hati, “Kelak di kelas 2 nanti, meskipun saya mengambil jurusan IPS, saya harus punya teman, idola atau pacar gadis cantik dari kelas 2 IPA.”

Setelah saya berada di SMU Datuk Ribandang, saya ternyata mampu bergaul dengan teman-teman yang memiliki kesempurnaan penglihatan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah karena SMU Datuk Ribandang telah lama mendidik tunanetra, dan tunanetra yang menjadi alumni sekolah tersebut telah banyak yang berhasil dan menjadi orang mandiri dan terpandang.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013