PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

KENANGAN MANIS DI TANAH BERSEJARAH

Oleh: Ade Ismail

“Kita berangkat sekarang!” seru Agung kepada supir bis sewaan.

Setelah seluruh mahasiswa jurusan Sejarah angkatan 2003 dan empat dosen pendamping hadir, kamipun berangkat menuju Banten -- setelah satu jam tertunda karena keterlambatan teman-teman lain. Aku sendiri merelakan diri untuk meninggalkan kasurku yang telah sobek di sana-sini -- tapi tetap empuk -- untuk menginap di rumah kawan yang tinggal dekat dengan kampus agar tidak terlambat. Bis yang kami pakai adalah sebuah bis milik Departemen Dalam Negeri berkapasitas 50 orang. Padahal jumlah rombongan kami adalah 65 orang. Jadi, yang tak mendapat kursi harus rela berdiri atau bergiliran dengan mahasiswa lain yang telah bosan duduk.

Kepergian kami ke Banten adalah untuk menunaikan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diadakan setiap semester. Tema KKL kali ini ialah Sejarah Indonesia tahun 1500-1900. Banten kami pilih karena dari sanalah penjajahan bangsa Belanda di Nusantara dimulai. Di Banten nanti, kami akan mengunjungi berbagai tempat bersejarah untuk melihat langsung bukti sejarah demi menambah pengetahuan.

Sepanjang perjalanan kami isi dengan obrolan-obrolan lucu, gelak tawa, bercampur teriakan-teriakan riuh anak laki-laki yang meminta bagian makanan dari teman-teman perempuan. Anak laki-laki, termasuk aku, memang jarang membawa makanan jika bepergian. Sementara anak perempuan selalu memenuhi tasnya dengan beraneka makanan kecil. Karena itu, jika ada teman perempuan yang mengeluarkan makanan dari tasnya, pasti akan langsung diserbu oleh para laki-laki. Tak heran, jika makanan yang baru dibuka akan habis dalam sekejap. Aku merasa bersyukur sebagai tunanetra, karena tanpa harus berebut, makanan itu akan ditawarkan kepadaku. Aku tak tahu apakah mereka berbuat begitu karena merasa kasihan padaku atau takut kualat. Aku tak peduli, yang penting aku kenyang.

Kami tiba di Banten setelah tiga jam lebih perjalanan. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Kesultanan Banten. Bersama Mang Karsana sebagai pemandu kami, wisata sejarah pun dimulai. Mang Karsana mengajak kami berkeliling Museum melihat-lihat benda penginggalan sejarah yang tersimpan di sana. Ia menceritakan dengan gamblang kisah-kisah yang berhubungan dengan berbagai benda yang kami lihat. Kami mengerumuni Mang Karsana untuk mendengarkan dan mencatat penjelasannya. Selanjutnya, catatan itu harus kami diskusikan atau jadikan laporan untuk tugas kuliah. Aku juga tak mau ketinggalan, aku ikut mendekati pemandu dan sering kali melontarkan pertanyaan. Sebagai akibatnya, aku acap kali terpisah dari penuntunku. Tapi untunglah teman-teman lain segera menuntun jika aku tertinggal. Di Museum ini kami melihat sisilah Kesultanan Banten, alat-alat perang, pakaian, dan perhiasan.

Ketika waktu Zuhur tiba, kami menunaikan shalat berjamaah di Masjid Agung Banten yang dibangun lima abad silam. Setelah makan siang di alun-alun, kami berkeliling Masjid bersama Mang Karsana yang menuturkan sejarah Masjid dari awal pembangunannya hingga sekarang.

Di sekitar Masjid bersejarah ini juga terdapat berbagai tempat bersejarah lainnya. Di antaranya ialah makam keluarga Sultan Banten. Mang Karsana menerangkan kepada kami beberapa makam orang penting, seperti makam Sultan Banten pertama dan Sultan Banten terakhir. Selain itu terdapat pula ruang tempat menyimpan senjata dan ruang tahanan. Tapi sayangnya, ruangan tersebut tidak dapat kami masuki karena kondisinya kotor tidak terawat. Tempat yang berkesan bagiku ialah menara Masjid. Bangunan menara berbentuk tabung, bagian atasnya berbentuk setengah bulat seperti bola separuh, dan tinggi menara 40 meter. Berdasarkan penuturan Mang Karsana, dahulu menara ini dipergunakan untuk mengumandangkan adzan serta memantau keadaan pelabuhan atau mengintai musuh yang datang. Untuk mencapai puncak menara, kita harus menaiki sekitar 100 anak tangga yang terdapat dalam bangunan menara. Karena jalur tangga hanya bisa dilalui oleh satu orang saja, maka pada bagian tertentu disediakan tempat pemberhentian untuk orang-orang yang berpapasan jalan. Bersama Dwijo dan Toyib sahabatku, aku naik ke puncak menara. Pada bagian puncak ini, terdapat lantai untuk berpijak dengan lebar 40 cm yang mengelilingi menara serta pagar pembatas. Kata sahabat-sahabatku, dari puncak menara ini kita dapat menyaksikan pemandangan kota Serang dan sekitarnya serta bentangan laut biru dengan beraneka kapal yang mengarunginya. Kita bahkan juga bisa melihat Kepulauan Seribu dan Pulau Sumatra. Di atas menara itu, aku dengan dua sahabatku, serta teman-teman sekelasku Rini, Riani Ajeng dan Masitah berfoto bersama dengan latar belakang laut dan matahari yang telah condong ke barat.

Dari Masjid, perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi Keraton Kesultanan Banten yang tinggal puing-puingnya saja. Bangunan Keraton yang asli telah diratakan dengan tanah oleh Belanda pada tahun 1889 ketika terjadi Pemberontakan Rakyat Banten. Yang tersisa dari Keraton ini hanyalah benteng keraton, itu pun bagian atasnya saja. Benteng ini mengelilingi area Keraton dengan luas mencapai 20 hektar. Benteng terbuat dari batu-batu kali, lebarnya 3 meter sehingga dapat dipergunakan untuk berjalan. Mang Karsana menerangkan posisi-posisi bangunan Keraton di masa lalu dengan memakai perkiraan-perkiraan yang telah dipercaya masyarakat sekitar. Di bagian depan Keraton, terdapat sebuah batu pipih dan lebar yang menurut sejarah dipergunakan untuk pelantikan sultan baru Banten. Di bagian belakang area Keraton, ada sebuah kolam kecil yang menurut Mang Karsana adalah tempat mandi para putri Keraton. Secara umum, kondisi Keraton ini sangat memprihatinkan. Area Keraton sering dipergunakan oleh para penduduk sekitar untuk beternak, bermain bola, bahkan membuang hajat.

”Pemerintah Provionsi Banten belum memberikan perhatian yang besar terhadap aset sejarah bangsa yang berharga,” ujar pemandu kami yang banyak memahami sejarah Banten.

Di tempat ini pun aku berfoto bersama dengan teman-temanku.

Situs sejarah berikutnya yang kami kunjungi ialah sebuah benteng peninggalan Belanda. Benteng ini bernama Speelwijk. Berbeda dengan benteng Keraton Banten, Speelwijk masih berdiri kokoh. Benteng ini terbuat dari batu kali dengan ketebalan 1,5 meter serta berpintu masuk rangkap yang terbuat dari baja. Luas area benteng adalah 1 hektar. Di area ini terdapat bangunan kantor administrasi tentara Belanda, barak-barak prajurit dan ruang tahanan yang mengerikan. Ruang tahanan berupa kamar berukuran 4x5 meter, berada di bawah tanah sehingga kondisinya gelap dan lembab. Sedangkan bagian atasnya hanya ditutup dengan jeruji besi agar tawanan mudah diawasi. Orang yang ditahan di tempat ini akan kepanasan, kehujanan, serta kebanjiran. Aku bersama teman-temanku berkesempatan memasuki ruang tahanan tersebut. Di dalam ruangan itu, bulu kudukku merinding dan tubuhku gemetar karena membayangkan betapa sengsaranya para tawanan. Aura penyiksaan dan penderitaan pun terpancar dari hawa di tempat tersebut.

Di situs bersejarah ini, aku berfoto dengan seorang teman mahasiswi satu kelas. Teman-temanku memanggilnya Niar. Nama lengkapnya adalah Andraita Imaniar, sebuah nama yang menurutku bagus dan unik. Dia gadis yang cerdas dan suka bercanda. Kebiasaannya di kelas selain mendiskusikan materi kuliah, ialah bergosip tentang sinetron dan infotainment. Dialah mahasiswi pertama yang dekat denganku. Ketika hari ketiga aku kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, tanpa malu-malu dia menyapaku dan mengajakku untuk duduk di sampingnya. Sikapnya itu justru membuat aku malu. Semula aku mengira dia gadis genit yang suka tebar pesona. Ternyata dugaanku salah. Sikap yang dia berikan memang murni dari prilakunya yang supel dan periang. Ini terlihat dari betapa mudahnya dia bergaul dengan komunitas baru mahasiswa Sejarah angkatan 2003. Aku berfoto bersamanya sambil berpegangan tangan dengan latar belakang tembok Benteng Speelwijk serta cahaya kemerahan mentari sore yang menyeruak dari balik tembok.

Tak jauh dari tempat itu, ada sebuah perkampungan yang disebut dengan Pecinan (Kampung Cina). Berdasarkan sejarah, daerah itu merupakan hadiah dari Belanda kepada orang-orang Cina yang mau berdagang dengan mereka. Di daerah ini terdapat sebuah klenteng tua. Mang Karsana menuturkan bahwa pada setiap hari besar Cina, tempat ini banyak dikunjungi oleh umat Budha. Aroma lilin sembahyang menyambut kami tatkala kami masuk ke bagian dalam klenteng. Di klenteng ini aku memegang berbagai peralatan ibadah yang ada di sana seperti lilin, tempat lilin, dan tempat sajan. Namun yang paling mengesankan bagiku ialah memegang pohon bodhi yang tumbuh di halaman belakang klenteng. Bodhi merupakan pohon bersejarah. Konon, di bawah pohon itulah Sidarta Gautama bersemedi dan mendapatkan wahyu agama Budha.

Malam harinya kami berdiskusi tentang apa yang telah kami dapatkan. Masing-masing kelompok mempresentasikan yang mereka peroleh sesuai dengan tugasnya. Diskusi berjalan dengan cerdas dan santai. Di akhir diskusi diadakan games sebagai hiburan. Dalam games ini aku mendapat hukuman. Aku membaca puisi berjudul “Penerimaan” karya Chairil Anwar untuk memenuhi hukuman itu. Setelah itu kami beristirahat. Anak laki-laki di mushala, dan anak perempuan di sebuah sekolah dasar.

Esok harinya, wisata sejarah dilanjutkan dengan mengunjungi Keraton Kaibon (keibuan), yaitu sebuah keraton yang dipersembahkan bagi ibu sultan banten. Keraton ini pun telah diluluhlantakkan oleh Belanda. Di area ini yang tertinggal hanya reruntuhan tembok keraton tanpa ada sesuatu yang dapat dilihat.

Kunjungan berikutnya ialah Pelabuhan Banten. Enam abad yang lalu, tempat ini merupakan bandar perdagangan internasional yang ramai. Letaknya strategis karena berada di jalur perdagangan Asia serta di muara sungai yang dapat menghubungkan pelabuhan dengan daerah pedalaman. Pelabuhan ini sangat sederhana. Tidak ada dermaga besar, hanya ada tempat untuk menyandarkan kapal. Kapal-kapal yang masuk pun adalah kapal kecil untuk menangkap ikan dan membawa kayu. Sulit dibayangkan bahwa tempat ini dahulu merupakan daerah perdagangan internasional. Aku bersama teman-temanku berjalan menyusuri pelabuhan. Semua teman menjagaku dengan ketat. Mereka khawatir aku akan tercebur, karena jalan yang kami lewati hanyalah berupa tembok batu dengan laut di sebelah kiri dan kanannya. Kami lalu berfoto bersama lagi. Di pelabuhan ini kami bercanda saling menyiramkan air hingga basah.

Pelabuhan Banten merupakan tempat wisata sejarah terakhir yang kami kunjungi. Sekitar pukul sebelas siang, rombongan kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang, tidak ada lagi hal yang menarik karena seluruh rombongan sudah kelelahan. Sebagian besar tertidur dalam perjalanan ini.

Cerita di atas merupakan sebagian kecil dari pengalamanku di bangku kuliah. Mungkin bagi anda kisah ini biasa saja atau malah membosankan. Tapi untukku, ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan mengesankan.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013