PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

TERSELEKSI

Oleh: Winy Kwany

Aku baru saja menerima kabar gembira dari Linda, salah seorang temanku yang juga tunanetra seperti aku. Hari ini dia menjalani sidang skripsi, dan dia menjadi salah satu yang berhasil lulus dengan nilai terbaik. Dia adalah mahasiswa tunanetra pertama di kotaku yang berhasil menamatkan pendidikannya di universitas negeri. Lama aku tertegun mencerna kabar gembira itu. Sungguh suatu berita yang menggembirakan sekaligus mengharukan, melihat satu lagi teman tunanetraku berhasil menamatkan pendidikannya dengan gemilang.

Aku teringat pada perjuanganku sendiri yang juga tak kalah payah dan berat. Aku terlahir prematur dan buta total. Orang tuaku mulanya guncang menerima kenyataan yang ada. Mereka tentunya berharap hadirnya seorang anak yang sempurna; apalagi untuk melahirkanku, ibuku harus menghadapi proses persalinan yang hampir merenggut nyawanya. Aku dibawa berobat ke mana-mana dengan harapan agar mataku bisa melihat. Hasilnya nihil, hingga akhirnya orang tuaku dan aku sendiri mulai belajar untuk hidup dengan menerima kenyataan yang ada.

Ketika aku berumur 5 tahun, orangtua memasukkanku ke taman kanak-kanak untuk anak awas (berpenglihatan). Aku berusaha menyesuaikan diri di sana. Aku berusaha mengakrabkan diri dengan teman-temanku yang berfisik sempurna, tapi mereka tak bisa menerima kehadiranku. Ketunanetraanku dianggap penyakit menular yang dapat membahayakan mereka. Tak seorang pun yang mau bermain denganku. Guruku mengeluh karena selama 6 bulan bersekolah di sana, aku tak jua mampu membaca dan menulis barang satu huruf pun. Akhirnya, aku terpaksa keluar dari sekolah itu.

Berkat usaha keras orang tuaku mencari info ke sana ke mari, aku akhirnya menemukan setitik harapan untuk bersekolah. Umur 6 tahun, aku mulai bersekolah di SLBA (Sekolah Luar Biasa A) Karyamurni. Aku senang bisa belajar baca-tulis, dan juga belajar banyak hal lain yang sangat ingin kuketahui. Aku senang punya teman-teman yang juga tunanetra sepertiku. Namun dalam hati, aku sebenarnya menginginkan punya lebih banyak teman lagi. Aku ingin bisa bergaul dengan mereka yang berfisik sempurna. Aku ingin bisa menunjukkan bahwa walaupun tunanetra, aku tak kalah sigap dan cerdas dibanding mereka.

Impian itu membutuhkan perjuangan yang tak mudah. Setamat SMP (Sekolah Menengah Pertama), aku mencoba mendaftar di beberapa SMU (Sekolah Menengah Umum) umum, tapi ditolak karena aku tunanetra. Aku tak menyerah. Aku mencoba mendaftar ke SMU Cahaya. Kudengar, beberapa orang tunanetra seniorku pernah bersekolah di sana dan berhasil menamatkan studinya dengan gemilang. Tapi sayangnya, ada satu dari mereka yang terpaksa di-drop out karena kemalasannya sendiri. Dan sebagai akibat dari kejadian itu, SMU tersebut tidak mau lagi menerima siswa tunanetra. Sangat sulit meyakinkan mereka untuk mengizinkanku bersekolah di sana. Tapi aku bersyukur, karena kepala sekolah SLB tempatku bersekolah dulu membantu dengan berbicara pada mereka tentang prestasiku yang gemilang selama di SLB. Akhirnya, mereka pun berkenan memberiku masa percobaan 3 bulan. Bila dalam 3 bulan aku tidak dapat mengikuti pelajaran, maka aku harus mundur.

Aku belajar 2 kali lebih keras daripada teman-temanku yang berfisik sempurna. Aku harus bekerja keras menyalin semua buku pelajaran ke dalam huruf Braille agar bisa kupelajari. Semuanya harus di-braille secara manual, karena waktu itu akses teknologi dan komputer masih sangat mahal dan langka. Bila ada ulangan, aku membawa mesin tik dan mengetik jawaban-jawabanku agar bisa dibaca guru. Dalam kegiatan di kelas sehari-hari, aku bergabung dengan semua temanku. Aku mengakrabkan diri dengan mereka, dan mereka pun menerimaku dengan senang hati. Mereka selalu menolongku bila aku kesulitan, dan sebaliknya, aku pun selalu membantu bila mereka dalam kesulitan. Bila guru menulis di papan tulis, mereka bersedia membacakanku atau meminjamkan catatan mereka. Mereka pun mau berusaha menvisualisasikan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan gambar atau grafik.

Sikap guru-guruku umumnya cukup baik. Tapi guru-guru mata pelajaran eksakta, kecuali Biologi, bersikap agak tak acuh dan merendahkan aku. Hal itu karena aku tidak dapat memahami dan mencerna pelajaran yang penuh dengan gambar, grafik dan perhitungan yang rumit secara maksimal. Aku berusaha sekuat tenaga, namun cuma bisa mendapat nilai yang pas-pasan dalam beberapa mata pelajaran itu. Guru-guru mata pelajaran eksakta memang menganggap tunanetra sebagai beban bagi mereka. Mereka pernah mengatakan bahwa tidak ada gunanya tunanetra bersekolah, karena toh hanya akan jadi pengemis dan pengamen di jalanan saja. Tapi kata-kata itu tidak mematahkan semangatku. Sebaliknya, itu meneguhkanku untuk tetap berjuang membuktikan pada mereka bahwa semua anggapan itu salah.

Aku juga mencoba bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Waktu itu cuma ada praktikum Biologi dan Kimia. Aku mencoba ikut praktikum Biologi. Tapi tak banyak yang dapat kupahami karena semua percobaan menggunakan gambar dan tabung reaksi. Setelah beberapa minggu, guru Biologiku menyarankanku untuk tidak memaksakan diri ikut. Sebagai gantinya, aku dapat mengikuti perkembangan praktikum dengan meminjam catatan teman-temanku atau bertanya pada mereka. Walaupun begitu, aku tetap mengusahakan hadir di setiap praktikum.

Usaha kerasku akhirnya mendatangkan hasil. Pada kuartal pertama, aku berhasil menduduki jajaran 5 besar di kelasku dan itu bertahan sampai akhir tahun ajaran. Di kelas II, aku masuk kelas plus dan berhasil mempertahankan grafik nilaiku tetap stabil. Di kelas III, aku memilih jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan menjadi yang terbaik di antara semua teman satu jurusanku.

Setamat SMU, aku mencoba mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Aku ingin memperdalam Bahasa Inggris, karena itu aku memilih jurusan itu di dua universitas negeri di kotaku. Mengikuti UMPTN juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Tim penyeleksi tidak memperbolehkan aku ikut karena aku tunanetra. Mereka belum pernah menerima peserta UMPTN tunanetra sebelum ini, sehingga mereka mengalami banyak ketakutan yang tidak beralasan. Mereka takut aku akan meminta fasilitas khusus bila aku lulus ujian kelak. Aku mencoba menjelaskan bahwa ketakutan mereka tidak benar. Kucoba memberi tahu mereka cara belajarku selama di SMU, tapi mereka tak mau mendengar. Ini bisa dimaklumi karena tidak ada tunanetra di daerahku yang mencoba ikut UMPTN sebelum aku, bahkan yang bisa kuliah di perguruan tinggi pun masih sangat sedikit.

Aku mencoba minta bantuan dan dukungan Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia). Pertuni berperan penting dalam merintis jalan dan membuka kesempatan bagi tunanetra untuk bisa mengakses perkuliahan di perguruan tinggi negeri di kotaku. Kami lalu berjuang bersama-sama menghadapi pendaftaran dan birokrasi yang pelik hingga akhirnya aku diberi kesempatan untuk ikut UMPTN. Tapi sebelumnya, aku harus menandatangani surat perjanjian bahwa aku tidak akan minta fasilitas khusus pada fakultas tempatku akan kuliah bila diterima.

Aku gagal UMPTN, namun itu tak mematahkan semangatku. Aku mencoba mendaftar di UNIKA (Universitas Katolik) Santo Thomas, salah satu universitas swasta terbaik di kotaku. Rektornya sangat ramah, baik hati dan berpikiran terbuka. Setelah berbicara dengan dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris, beliau memperbolehkanku mendaftar dan menerimaku sebagai mahasiswa tunanetra pertama di kampusnya. Sungguh suatu anugerah tak terhingga bagiku yang sangat kusyukuri hingga hari ini. Tanpa keterbukaannya mendengarkanku, jalan untuk tunanetra menuju akses perkuliahan tak akan terbuka.

Sistem belajarku selama kuliah tak jauh beda dengan waktu di SMU. Hanya saja, bahan-bahan yang harus di-braille-kan menjadi semakin banyak hingga aku tak sanggup lagi bila hanya mengandalkan bantuan dari relawan pembaca dan tanganku sendiri. Aku pun meminta tolong orang lain untuk mengetik ulang beberapa buku. Lalu soft copy-nya yang berbentuk file komputer kubawa ke SLB dan dialihhurufkan ke tulisan Braille dengan menggunakan Braille embosser. Dosen-dosenku sangat baik dan kooperatif, begitu pula teman-temanku. Beberapa dosen bersedia membantu mempermudah proses pem-braille-an itu dengan memberikan bahan kuliah dalam bentuk file komputer. Ini sangat memudahkanku untuk bisa mempelajari bahan-bahan yang ada dengan tepat waktu. Teman-teman kuliahku pun sangat hangat dan bersahabat. Mereka bersedia menjadi relawan pembaca kapan pun mereka punya waktu. Mereka membantuku bergantian, baik pada waktu ujian maupun dalam keseharian di kelas. Kami membentuk kelompok belajar dan berdiskusi secara teratur tiap minggu. Kami mengerjakan banyak tugas bersama, mencari data ke perpustakaan dan internet, dan banyak hal lagi yang kami selesaikan bersama-sama. Sangat menyenangkan berada di antara mereka. Perlakuan mereka yang bersahabat membuatku terkadang lupa kalau aku tunanetra.

Hampir semua mata kuliah dapat kuikuti dengan baik. Aku cuma terbentur sedikit pada mata kuliah Fonetik. Mesin tik yang kupakai tak punya simbol-simbol khusus yang dipelajari dalam Fonetik, dan aku pun kesulitan memahami simbol-simbol tersebut. Dosenku memahami kesulitanku. Walau tak bisa banyak membantu, dia tetap sabar mendukungku untuk belajar semaksimalku. Akhirnya semua onak duri dan kerikil tajam dapat kulalui dengan tabah, dan aku berhasil menyelesaikan kuliahku dalam waktu 3 tahun 8 bulan. Aku pun lulus dengan nilai terbaik.

Aku merasa gembira dan bangga dengan perjuanganku. Aku bahagia bisa memberikan sesuatu bagi diriku dan teman-teman tunanetraku untuk mendapat lebih banyak akses ke pendidikan inklusif. Sekarang ini, sudah makin banyak tunanetra di kotaku yang menikmati sistem pendidikan inklusif. Sudah makin banyak pula sekolah dan universitas yang mau membuka diri menerima tunanetra sebagai bagian dari mereka. Aku sadar sepenuhnya, ini bukanlah akhir. Ini justru adalah awal dari perjuangan panjang yang harus ditempuh agar tunanetra dapat memiliki kesetaraan hak dan kesempatan.


Updated February 2013 © PERTUNI 2013