PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

HIDUPKU PENUH LIKU

Oleh: Yuniati

Aku dilahirkan di sebuah dusun kecil yang tak jauh dari tepi pantai laut lepas; laut hanya beberapa kilometer saja dari tempat tinggalku. Aku mengalami cacat netra sejak lahir, karena itu aku tidak canggung menghadapi kehidupan ini, meski duniaku diselimuti kegelapan sejak masih kanak-kanak. Aku juga tidak pernah minder di hadapan teman-temanku yang normal, karena mereka tidak membedakan aku dalam dunia permainan. Meski terkadang permainan itu tidak bisa diikuti oleh tunanetra, namun ketika itu aku belum menyadari bahwa aku ini ternyata seorang tunanetra. Yang membuat aku tak menyadari bahwa aku tidak melihat adalah karena kelaurga dan lingkunganku tidak pernah mengatakan bahwa “aku tidak melihat”, bahkan teman-temanku tidak pernah mengolok-olok keadaanku ini.

Sampai pada suatu hari, aku membayangkan seandainya aku bisa sekolah bersama mereka. Setiap teman-temanku pergi ke sekolah, aku selalu membuntuti mereka dari belakang. Ketika sampai di sekolah, aku tidak berani memasuki halaman. Aku hanya membayangkan seandainya aku bisa seperti mereka. Lalu kulangkahkan kaki pulang dengan rasa kecewa.

Di suatu hari, di akhir keputusasaanku, aku mencoba kembali mengikuti temanku dari belakang. Aku berharap semoga kali ini aku mendapat perhatian dan diajak pergi ke sekolah bersama mereka. Dugaanku benar, tiba-tiba temanku menghampiri dan bertanya.

“Kamu mau ikut kami ke sekolah?”

“Sebenarnya aku ingin sekali seperti kalian. Tapi apa mungkin? Boleh aku ikut?”

“Oh, boleh saja. Ayo kita berangkat bersama-sama.”

Aku merasa minder karena belum mengenal lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Purwoasri ini. Aku hanya mengikuti temanku yang masih duduk di kelas dasar 1.

Kedatangan kami disambut oleh guru yang kebetulan mengajar pagi ini. Beliau sontak heran ketika melihat temanku mengajakku. Lalu beliau bertanya padaku dengan hati-hati.

“Kamu ingin sekolah di sini ?”

“Benar Bu. Kalau diperkenankan, saya ingin sekali sekolah seperti teman-teman yang lain”.

“Ibu senang Nak, kamu punya tekad besar dan cita-cita yang sangat mulia. Nanti akan ibu bicarakan pada Kepala Sekolah serta guru-guru yang lain supaya kamu bisa sekolah di sini seperti teman-temanmu yang lain. Ibu tidak bisa memberi keputusan sendiri. Coba besok orang tuamu disuruh datang ke sekolah ya, untuk ikut membicarakan tentang keinginanmu yang mulia ini.”

“Baik Bu, pasti saya sampaikan. Saya mengucapkan banyak terima kasih karena Ibu telah memberi kesempatan saya untuk menuntut ilmu di sekolah ini.”

Keesokan harinya, orang tuaku menghadap pihak sekolah, meminta agar aku diterima menjadi siswa. Aku pun diterima menjadi siswa SDN Purwoasri. Rasa bahagia tak terlukiskan dengan kata-kata, bahkan tak cukup kebahagiaanku ini dituangkan dalam kamus.

Seperti biasa, teman sepermainanku yang kini menjadi teman sekelasku, mengajakku berangkat ke sekolah bersama. Ini adalah hari pertamaku untuk memasuki SDN Purwoasri. Sampai di sekolah, aku disambut sebagian teman yang memang sudah mengenalku. Ternyata di sekolah ini banyak siswa-siswi pendatang dari kampung lain yang belum pernah kukenal. Di sinilah aku mulai mendapat cobaan yang amat menyesakkan dada. Aku dihina dan direndahkan oleh teman dari kampung lain. Dengan serta-merta mereka mengolok-olok aku.

“Hai teman-teman! Lihat, nih! Ada orang picek di sekolah kita. Matanya kecil sebelah lagi. Kepatok ayam kali ya! Ha ha ha... kayaknya sih begitu.”

Kini aku sadar bahwa aku benar-benar buta. Teman-teman itu telah menyadarkan dan membangunkan tidurku yang amat panjang. Aku merasa minder di hadapan semua teman sekolahku. Satu minggu aku tidak masuk sekolah, karena aku merasa tak berguna dalam hidup ini.

Di akhir pekan, teman-teman serta wali kelas 1 datang ke rumahku. Mereka ingin tahu keadaanku serta membujuk aku agar mau sekolah kembali. Pihak sekolah sudah memberi peringatan kepada teman-teman yang mengejekku itu. Sebenarnya peristiwa seminggu yang lalu itu masih terngiang-ngiang di telingaku, namun aku sadar, jika aku terus hanyut dalam kedukaan, cita-citaku untuk menjadi seorang guru tidak akan tercapai.

Lalu aku memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Seperti biasa, aku selalu berangkat bersama teman-teman. Hari ini akan ada ulangan. Aku minta dibacakan pelajaran yang tertinggal karena seminggu tidak masuk. Hari ini rupanya ulangan matematika. Aku sempat bingung sejenak, bagaimana caraku menulis hasil ulangan ya? Aku mencoba memutar-mutar dan mengobrak-ngabrik isi kepalaku, dan akhirnya aku menemukan cara. Aku meminta teman sebangkuku untuk menuliskan hasil ulanganku dengan memberi jaminan.

“Tolong tuliskan jawabanku, ya! Kamu boleh mencontek jawabanku, tapi jangan seluruhnya, takut ketahuan guru.”

“Oke deh, aku setuju sekali! Aku pasti akan membantu menuliskan hasil jawabanmu.”

Aku sengaja tidak memperbolehkan temanku mencontek semua jawabanku, sebab semua guru di kelas 1 sudah tahu bahwa bila guru mengadakan tes secara lisan, aku mampu menjawab hampir semua pertanyaan yang dia berikan.

Ketika jam istirahat, aku selalu bergabung dengan teman-teman. Hari ini teman-temanku mengajak bermain di belakang sekolah. Di sana ada pohon sawo yang sangat besar.

“Ayo kita bermain tutup mata di atas pohon sawo!”

Di atas pohon sawo yang tinggi besar, kami bermain kucing-kucingan, melompat dari satu batang ke batang yang lain untuk menghindari kejaran teman yang sedang mendapat peran kucing. Aku hendak menghindari teman yang mendapat giliran peran kucing, tapi tanpa kusadari tanganku terpeleset dari batang pohon sawo. Aku menangis kesakitan, namun tidak berani langsung pulang ke rumah, sebab pasti akan dimarahi Ibu karena kenakalanku itu.

Di luar jam sekolah, kini aku ingin sekali bisa bersepeda seperti teman-temanku. Aku mencoba menuntun sepeda ke halaman rumah. Salah satu teman sekelas melihatku sedang menuntun sepeda. Mungkin dia merasa iba melihatku ingin bisa bersepeda. Hatinya terketuk dan dia mengajakku membawa sepeda di jalan yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Di situlah aku mulai belajar bersepeda bersama temanku.

Pertama, aku belajar menuntun dengan kaki kananku pada pedal sepeda sebelah kanan. Tahap berikutnya, kaki kiriku mulai menginjak pedal sepeda sebelah kiri, tapi sepeda bagian belakang dipegangi oleh teman yang mengajariku, sebab aku belum mempunyai kesimbangan yang cukup. Ketika kedua kakiku sudah menguasai pedal sepeda dan aku mulai mengayuhnya, diam-diam temanku melepaskan pegangan tanpa sepengetahuanku. Seketika orang di sekelilingku memberi applause.

“Hore… Yuni bisa naik sepeda …!”

Aku langsung terkejut. Suara teman yang memegangi sepedaku terasa jauh berada di belakang, berarti tidak ada yang memegangi sepedaku! Aduh… Aku tiba-tiba merasa takut dan gemetar. Keseimbanganku hilang, dan setang sepeda terbanting ke kiri. Aku menabrak pagar, dan terjatuh di atas pagar. Untunglah pagar itu terbuat dari tanaman. Jadi aku tidak terlalu merasa sakit. Tapi aku sempat kaget, karena badanku tiba-tiba berada di atas pagar bersama sepedaku. Aku merasa malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarku. Kata temanku, dia memang sengaja melepaskan pegangan tanpa sepengetahuanku untuk menguji apakah aku sudah mampu mengendarai sepeda sendiri atau belum. Ketika dilihatnya aku bisa, orang-orang di sekelilingku pun bersorak karena keberhasilanku.

Kini aku sudah bisa bersepeda. Aku sering bersepeda dengan teman-temanku. Setiap ada mobil atau apapun yang mungkin membahayakan, teman-temanku langsung memberi tahu dan kami berhenti sejenak sampai kendaraan tersebut berlalu.

Menjelang kenaikan kelas, semakin hari aku semakin kewalahan menghadapi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Karena aku hanya mengandalkan pendengaran, maka kemampuanku untuk menghafal semua pelajaranan yang diberikan oleh guru menjadi terbatas.

Siang ini aku dipanggil oleh kepala sekolah. Beliau meminta agar besok orang tuaku disuruh menghadap beliau.

Aku penasaran sekali tentang hasil pembicaraan orang tuaku dan kepala sekolah. Dengan rasa berdebar aku bertanya kepada orang tuaku.

“Ketika Bapak dipanggil oleh Bapak Kepala Sekolah, sebenarnya membicarakan tentang apa, Pak?’

“Nak, ada kabar gembira untuk kamu. Pihak sekolah memberi saran, agar kamu pindah ke sekolah yang menangani anak berkebutuhan khusus seperti kamu, yaitu sekolah luar biasa. Di sana kamu akan diajari cara membaca dan menulis. Tapi tulisannya tidak sama dengan tulisan biasa. Tulisan yang digunakan oleh anak tunanetra itu bernama Braille. Jika kamu telah lulus sekolah dasar nanti, kamu bisa melanjutkan ke sekolah inklusif. Bapak Kepala Sekolah sudah mendaftarkan kamu ke sekolah luar biasa yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Nanti kamu bisa tinggal di asrama, dan di sana akan banyak kegiatan yang bisa kamu ikuti. Kamu bisa mengembangkan cita-citamu di lembaga itu.”

Tanpa terasa empat tahun telah berlalu. Aku telah menyelesaikan studiku di Sekolah Luar Biasa (SLB) tingkat dasar. Kini aku telah mampu menguasai huruf Braille dengan baik. Menurut pihak sekolah, aku sudah cukup mampu untuk mengikuti Program Inklusif di SLTPN (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri) 1 Giri Banyuwangi.

Di sini aku bergabung dengan teman-teman normal seperti ketika aku duduk di bangku sekolah dasar di kampungku. Aku adalah satu-satunya murid tunanetra di SLTPN 1 Giri Banyuwangi, sebab program inklusif baru saja diselenggarakan di sekolah ini. Jadi, aku harus menyesuaikan diri. Guru di sekolah ini banyak memberi keringanan kepadaku, terutama guru Olahraga. Setiap praktik Olahraga di lapangan, aku selalu mendapat tugas menjaga tas teman-teman yang sedang berolahraga. Tapi semakin hari aku merasa bahwa aku hanya jadi pelengkap, terutama pada saat praktik Olahraga. Padahal, aku ingin sekali mendapat perlakuan yang sama dengan teman-teman yang lain, karena menurutku praktik Olahraga tidaklah terlalu sulit. Jenis-jenis Olahraga di sini juga pernah diajarkan ketika aku masih Sekolah Dasar di SLB. Jadi, aku masih bisa membayangkannya. Akhirnya aku mencoba mengemukakan keinginanku ini kepada guru Olahraga. Kebetulan hari ini akan diadakan lari di Gelanggang Olaharaga (GOR) yang berada di luar sekolah.

“Pak, hari ini saya ingin ikut lari di GOR.”

“Nak, sebaiknya kamu di kelas saja. Sebab, nanti kamu akan ketinggalan dari teman-temanmu yang sedang berlari. Tenang, Bapak pasti akan memberimu nilai yang cukup, karena kamu tidak bolos.”

“Tapi Pak, bukan hanya itu yang saya butuhkan! Saya ingin menjalani proses sekalipun rintangan pasti ada. Saya insya Allah akan berlari dengan mengimbangi teman-teman, asalkan ada yang menuntun! Saya akan berusaha tidak merugikan teman yang sudah menuntun saya, Pak!”

“Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Bapak hanya takut kamu cedera, Nak!”

“Terima kasih Pak, saya akan berusaha semampu saya. Kalau soal cedera atau jatuh sedikit, itu wajar bagi seorang tunanetra Pak. Karena tunanetra hanya mengandalkan pendengaran.”

Akhirnya guru Olahraga mulai yakin dan percaya bahwa aku juga mampu seperti murid-murid yang lain. Selain guru Olahraga, guru-guru yang lain juga sudah mulai melibatkan aku dalam program ekstrakurikuler seperti vocal group, drama, latihan band, dan lain-lain yang sekiranya aku bisa mengikuti.

Kini aku telah berhasil meraih cita-citaku menjadi guru. Meski banyak liku-liku ketika belajar di Sekolah Menengah Umum dan Perguruan Tinggi, namun aku pun mampu menyibaknya.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013