PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

DALAM GAMITAN PENDIDIKAN, KURAIH IMPIAN

Oleh: Ade Rahmat Budiman

Ketunanetraan telah membedakan aku dari orang tua dan saudara-saudaraku. Ketunanetraan juga membuat aku harus belajar di sekolah yang berbeda. Aku bersekolah di sekolah khusus bagi tunanetra, Sekolah Luar Biasa A (SLB/A). Hal ini kuanggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya.

Namun, seiring lajunya waktu yang menyertai perkembangan pikiranku, sejumlah pertanyaan mulai mengusikku. Apakah ketunanetraan yang disandang seseorang memang mengharuskannya untuk dimarjinalkan sehingga tetap terisolasi dalam kungkungan lembaga pendidikan khusus yang telah disediakan? Bisakah tunanetra memperoleh akses ke lembaga pendidikan umum untuk menempuh jalur pendidikan bersama orang-orang berpenglihatan?

Rupanya pertanyaan-pertanyaan awam ini sudah terjawab sejak lama, jauh sebelum aku mengenal, mengerti, dan menikmati pendidikan. Sebenarnya ketunanetraan sama sekali bukan kendala. Kesempatan terbuka lebar bagi tunanetra untuk berkompetisi dengan orang-orang yang berpenglihatan di lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah umum. Inilah yang sekarang dikenal dengan istilah Pendidikan Inklusif. Sudah banyak tunanetra, termasuk guru-guru dan kakak-kakak kelasku yang membuktikan diri dengan mengukir prestasi dalam sistem pendidikan inklusif ini.

Keberhasilan mereka menjadi inspirasi bagiku. Oleh karenanya, setelah tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SLB/A di Bandung, aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Tentu saja sekolah yang kupilih bukan lagi sekolah khusus bagi tunanetra, melainkan sekolah biasa atau sekolah umum bagi orang-orang berpenglihatan normal.

Masih melekat dalam ingatanku sebuah kalimat yang diucapkan Ibu saat kuutarakan keinginanku. Ibuku mengatakan, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”. Tampaknya kalimat itu merupakan isyarat persetujuan Ibu, sekaligus menjadi motivasi yang memperkokoh keyakinan dan membangkitkan semangatku.

Benar kata Ibu. Ternyata keinginanku itu menemukan jalan yang lebar tanpa hambatan. Dengan berbekal nilai-nilai hasil Ujian Nasional yang cukup baik dan memenuhi passing grade yang telah ditentukan, aku diterima sebagai siswa baru pada salah satu SMA Negeri di Bandung.

Lega dan bangga rasanya. Pihak sekolah tidak mempersoalkan kondisi fisikku. Mungkin karena beberapa tahun sebelumnya sudah pernah ada tunanetra yang bersekolah di situ, maka guru-guru telah mengerti dan memiliki kesiapan untuk menghadapi peserta didik seperti aku.

Saat pertama berkenalan dengan teman-teman sekelas merupakan peristiwa yang terasa mendebarkan hingga membuat aku nyaris kehilangan rasa percaya diri; keterbatasan yang kumiliki telah membedakan aku dengan mereka. Kini yang kuhadapi bukan lagi teman-teman yang tunanetra.

Tidak hanya diriku yang kuperkenalkan kepada mereka, aku pun memperkenalkan Braille, jenis tulisan yang kupergunakan. Sungguh, huruf Braille yang mereka anggap unik menjadi media yang dapat melenyapkan kecanggungan yang kurasakan. Di antara mereka, ada yang memintaku menulis abjad pada potongan-potongan kertas, menuliskan nama pada bukunya, membaca buku yang kubawa – semuanya dalam huruf Braille. Bahkan ada pula yang minta diajari membaca tulisan Braille. Inilah awal sebuah pertemanan yang menyenangkan.

Dari waktu ke waktu, hubungan yang kami bina semakin akrab saja. Kami mulai menjadi teman dekat atau sahabat, bahkan teman istimewa yang dijalin atas dasar rasa suka pada lawan jenis.

Aku pun mendapatkan beberapa orang teman yang menjadi sahabat dekatku. Secara terbuka dan tanpa ragu-ragu kami saling bertukar cerita, dari masalah-masalah yang sifatnya umum hingga masalah-masalah yang bersifat pribadi. Kedekatan seperti ini memberiku peluang untuk bercerita banyak hal, termasuk cara belajarku, dan berbagai masalah yang biasa dihadapi oleh tunanetra di sekolah umum. Mereka pun semakin mengerti. Mereka jadi tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantuku. Di antara mereka ada yang membacakan buku-buku pelajaran, mendiktekan pelajaran dan tugas-tugas yang tertulis di papan tulis, dan juga membantu menyalin jawabanku ketika kami menghadapi ulangan.

Tapi hal yang terakhir ini pernah menjadi masalah. Jawaban hasil ulanganku diragukan validitasnya oleh beberapa orang guru. Mereka beranggapan bahwa aku dibantu oleh teman-temanku bukan saja dalam menyalin jawaban, tetapi lebih dari itu. Sebagai solusinya, aku lalu dites secara lisan, yaitu melakukan tanya jawab secara langsung dengan mereka. Aku tidak merasa keberatan, bahkan hal ini kuanggap sebagai kesempatan baik untuk menunjukkan kemampuan belajarku kepada guru-guru yang masih meragukan aku. Akhirnya aku pun bisa meyakinkan mereka.

Tes lisan yang kujalani di saat-saat berikutnya tidak lagi dilandasi kecurigaan; tes seperti itu menjadi cara untuk mempermudah saja. Aku tidak lagi harus repot-repot menulis dan menyalin jawabanku ke dalam tulisan biasa.

Selain melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan di kelas yang sifatnya kurikuler, aku pun berbaur dengan teman-temanku dalam kegiatan-kegiatan lain di luar kelas. Pihak sekolah memberi keleluasaan pada kami untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler yang kami sukai. Pilihan-pilihan itu di antaranya adalah kegiatan Pramuka, Olahraga, Kesenian, dan Kerohanian.

Salah satu hal yang kuanggap penting dan berkesan bagiku adalah kegiatan Kerohanian, yaitu pengajian bagi remaja. Setiap Minggu pagi sekitar pukul 8, kami berkumpul di sebuah masjid besar yang memiliki halaman luas. Di masjid inilah berkumpul remaja Muslim dari berbagai sekolah sehingga kami pun memanfaatkannya sebagai media untuk bersilaturahmi.

Kami mendengarkan ceramah keagamaan, lalu melakukan tanya jawab dengan narasumber mengenai materi yang dibicarakan dalam ceramahnya. Selanjutnya kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang diberi tugas melaksanakan diskusi dengan materi yang telah ditentukan. Materi yang dibahas oleh setiap kelompok berbeda-beda. Setelah selesai diskusi, kami saling bertukar resume hasil diskusi yang telah kami lakukan itu dengan kelompok yang lain yang juga telah menyelesaikan diskusinya. Itulah yang kami lakukan setiap Minggu, sehingga pengetahuan dan wawasan agama kami semakin bertambah. Aktifitas seperti ini tidak hanya memberiku lingkungan pergaulan yang semakin luas, tetapi juga memberikan kesejukan atmosfer religius yang kubutuhkan.

Tiga tahun berlalu. Berakhirlah jenjang pendidikan menengah itu dalam kehidupanku. Aku berhasil menyelesaikannya. Keberhasilan itu tentu saja membuatku bahagia. Bertambah nyaliku dan berkobar semangatku untuk terus melaju ke jenjang pendidikan berikutnya. Kurasa pengalaman belajar di SMA telah menempaku sehingga menjadi lebih siap untuk menghadapi babak-babak berikutnya dalam perjalanan akademisku.

Setelah tamat SMA, aku melanjutkan studiku ke perguruan tinggi. Untuk memasukinya, terlebih dahulu aku harus berkompetisi dalam sebuah seleksi yang ketat. Aku bersyukur menjadi salah satu pemenang dalam kompetisi itu sehingga bisa dengan nyaman berlenggang memasuki jurusan yang kuminati di perguruan tinggi yang kupilih. Aku diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Sama seperti di perguruan tinggi yang lain, di Perguruan Tinggi Negeri ini teman-teman sesama tunanetra tersebar di berbagai fakultas dan jurusan.

Jenjang pendidikan tinggi menghadapkan aku pada tantangan baru; untunglah telah kupersiapkan cara untuk menyiasatinya. Kuadaptasikan diriku dengan tempat, keadaan dan suasana belajar yang berbeda. Kujalin lagi pertemanan dengan orang-orang yang berbeda pula.

Upayaku tak sia-sia. Aku dapat menaklukkan tantangan itu. Akhirnya kunikmati suasana perkuliahan sebagai suasana yang berkesan dan menyenangkan. Seperti halnya ketika di SMA, aku pun melibatkan diri pada berbagai kegiatan di dalam maupun di luar perkuliahan, mulai dari kegiatan yang bersifat menunjang peningkatan kemampuan akademisku hingga kegiatan yang memperjuangkan suatu idealisme yang aku yakini tidak menyimpang ataupun bertentangan dengan tata nilai dan norma-norma yang ada.

Singkatnya, kuikuti satu demi satu mata kuliah hingga akhirnya semua dapat kuselesaikan. Aku berhasil lulus dan mendapatkan satu gelar akademis yang kuimpikan. Ucapan selamat dari kedua orang tua, adik dan kakak, seluruh keluarga dan teman-teman melengkapi kebahagian dan rasa banggaku. Jadilah aku salah seorang sarjana dari sekian banyak tunanetra yang telah meraihnya.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013