PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

ANGIN SURGA

Oleh: Sari Ami Hasanah

Malam itu terasa amat panjang, nyaris semalaman aku tak bisa tidur. Sesekali aku merasa jantungku berdegup kencang. Berita yang akan kuterima hari esok benar-benar membuatku menjadi resah. Apalagi ketika aku teringat akan kejadian yang menimpaku dua tahun sebelumnya. Tepatnya ketika aku mulai menginjak kelas 2 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Saat itu, paman selaku waliku berkeinginan untuk mendaftarkan aku belajar di sekolah umum. Namun keinginan itu tidak terwujud.

Di tahun 60an, kecacatan masih merupakan fenomena yang cenderung membebani bagi masyarakat awam. Oleh karenanya, waktu aku menghadap kepala sekolah sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) umum di Majalengka, ia langsung berbasa-basi.

Maaf, bukan kami tidak mau menerima dia bersekolah di sini. Tapi kami tidak punya tenaga yang dapat menanganinya. Kami tidak mengerti tulisannya, tidak tahu cara mengajarnya,” dan macam-macam lagi argumen yang dilontarkan.

Inilah salah satunya yang memicu kekhawatiranku bila pengumuman kelulusan sudah sampai, dan ternyata aku mengalami lagi kekecewaan serupa.

Seiring dengan bergulirnya waktu, perasaan itu terus mengikuti alur memoriku dengan setia, sehingga sering mengganggu ketenanganku, seperti malam itu.

Hari esok yang kutunggu akhirrnya hadir membawa berita. Aku dinyatakan lulus dengan peringkat kedua. Gundah gulana mendadak sirna. Rasa trauma yang menahun sementara lenyap. Hati yang panas langsung sejuk. Inilah angin surga, demikian aku berbisik saat itu.

Untunglah, apa yang kukhawatirkan tidak terulang. Selang beberapa hari kemudian, melalui berbagai proses serta prosedur yang benar, aku diterima di Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Taman Citarum yang di kemudian hari berubah nama menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) II Bandung. Dengan semangat belajar serta harapan yang membara untuk menggapai cita-cita, aku bulatkan tekadku, apapun resikonya.

Yang pasti, salah satu ayat dari Undang-undang Dasar 1945 berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Sungguh mulia orang-orang yang dapat memahami ayat itu serta mendukung pelaksanaannya. Berorientasi kepada ayat tersebut, aku bermaksud untuk mengabdi kepada bangsa, negara, juga kepada teman-teman senasib.

Di hari-hari pertama tahun ajaran, tentu saja aku agak minder. Aku menyaksikan orang-orang yang normal penglihatannya berlari kian-kemari sambil berteriak memanggil-manggil kawan lainnya, sementara aku lebih banyak duduk diam karena belum mengenal lokasi secara keseluruhan. Hari demi hari kulalui dengan penuh kegalauan. Terkadang aku bingung, tetapi detik berikutnya sejuta harapan mengisi relung kalbuku. Pertemanan hasil dari masa perkenalan ada yang berlanjut, namun tidak kurang pula teman baru yang tak mau mengenalku lebih jauh.

Setiap akses memang membutuhkan proses, dan sebuah proses memerlukan waktu. Waktulah yang tidak bisa kita prediksi, seberapa lama dibutuhkan untuk sebuah proses. Setelah aku lewati beberapa waktu sembari mengusir pikiran-pikiran negatif, aku berhasil menguak tabir perintang pergaulan dengan upaya menepisnya. Satu per satu teman sekelasku menyapaku seraya bertanya.

Coba, saya siapa?”

Jawabanku ada kalanya benar, tetapi terkadang salah. Menurutku, pada pendengaran pertama beberapa suara orang tampak hampir sama. Jadi waktu jugalah yang diperlukan untuk bisa membedakan antara orang yang satu dengan lainnya.

Hari-hari belajar efektif kami jalani. Materi dari tiap-tiap bidang studi aku catat jika perlu. Teman sebangkuku berasal dari kota Ambon. Ia sangat peduli padaku, hingga tulisan di papan tulis ia bacakan agar aku bisa mencatatnya.

Rasa minderku lama-kelamaan kian memudar. Rasa percaya diri perlahan-lahan tumbuh ketika guru di sekolah mulai sering memperlakukan aku sama seperti orang yang lain. Apabila teman-teman diberi pertanyaan, aku pun demikian. Kondisi serupa itulah yang memacuku untuk belajar beradaptasi dengan situasi, agar keberadaan tunanetra tidak mengecewakan mereka.

Proses belajar-mengajar berlangsung lancar, sampai tiba waktunya pemahaman kami terhadap materi-materi itu dievaluasi. Pada suatu hari, saat pertama kali kami diberi ulangan Psikologi, seperti biasa teman sebangkuku membacakan soal, sedangkan aku menulis jawabannya dengan tulisan Braille. Setelah ulangan selesai, jawabanku ditulisnya di balik kertas jawaban miliknya. Saat lembar jawaban kami dikembalikan oleh guru yang bersangkutan, beliau menegur temanku.

Mengapa jawabanmu dicoret, dan kamu menggantinya dengan jawaban yang ada di baliknya?”

Ia diam tidak berkomentar. Kami sama-sama dapat nilai 8. Tapi dia tidak diperkerkenankan lagi menuliskan jawabanku di kertasnya. Jawabanku harus ditulis dengan menggunakan kertas tersendiri. Dampaknya, ia tampak kurang bersemangat tatkala guru menugaskan untuk menyalin jawabanku pada saat diadakan evaluasi berikutnya.

Berawal dari kejadian di atas, ada kalanya guru memeriksa aku secara langsung dengan mendengarkan jawaban yang kubaca sendiri. Ada juga guru yang memberi ulangan secara lisan. Cara lain misalnya dengan menugaskan kakak kelasku yang tunanetra juga.

Di samping pengalaman-pengalaman manis, tersurat juga pengalaman pahit dan menyakitkan. Suatu saat, aku bersama teman-teman tunanetra mengembalikan buku kepada salah seorang guru di Jalan Wastu Kencana. Tapi beliau malah memberiku uang seratus Rupiah sebagai sumbangan. Entah apa yang terbersit di benak beliau. Memang saat beliau mengajar pun terkesan agak kurang perduli padaku. Aku tak habis pikir menyaksikannya. Dengan menduga-duga aku menyimpulkan bahwa beliau bersikap seperti itu karena keberadaan kami merupakan minoritas.

Melihat perlakuan guru yang ceroboh itu, teman sekelasku yang berpenglihatan normal segera memaparkan bahwa aku bukan hendak meminta sumbangan, melainkan siswa dari sekolah yang sama. Ia tersipu malu dan meminta maaf berulang-ulang. Katanya beliau kurang periksa, karena terlalu sering orang datang meminta sumbangan atau mengemis. Mendengar ungkapan demikian, ingin rasanya kami berkomentar banyak agar beliau mengerti bahwa tunanetra sekarang tidak lagi mengharap belas kasihan. Tunanetra telah sanggup mandiri dalam menjalani hidup dan penghidupan.

Untuk meraih keberhasilan sebagaimana terungkap di atas, tentu tidak gampang. Semua itu mutlak dapat dicapai hanya dengan kegigihan dari seorang penyandang cacat dalam berjuang demi melawan rintangan atau tantangan dari lingkungan sekitar.

Sekedar gambaran, sedikit akan kupaparkan beratnya tantangan masa itu, agar dapat menjadi cermin bagi adik-adik selaku generasi penerus.

Bukan hanya di sekolah saja kami harus beradaptasi, tapi sejak keluar dari pintu gerbang Wyata Guna, kami harus memusatkan konsentrasi. Dahulu, angkutan kota atau angkot tidak sebanyak sekarang. Kami harus jalan kaki pulang-pergi lebih kurang dua kali dua kilometer setiap hari. Aku menggunakan tongkat rotan yang tidak bisa dilipat seperti tongkat masa kini. Acap kali kami mendapat kendala, seperti tersesat atau terperosok ke lubang galian yang belum ada hari sebelumnya. Belum lagi jika turun hujan deras, konsentrasi kami benar-benar terganggu. Baju yang melekat di badan serta suara gemuruh hujan membuyarkan konsentrasi. Sekali waktu pendengaran kami ditulikan oleh gemuruhnya air sungai, dan ternyata kami tersesat sampai ke Taman Sari. Kami tidak sadar sudah melewati tikungan yang seharusnya. Bila mengalami hal serupa itu, maka kami harus kembali menyusuri jalan yang sudah dilalui untuk menemukan jalan yang semestinya. Patutlah kita bersyukur kepada Allah, bahwa saat ini telah banyak kendaraan dari berbagai jurusan. Ketika kami mendapat kendala yang sulit dipecahkan, terpaksa kami pulang kembali, meminta izin ke sekolah via telepon. Kepala sekolah mula-mula kebingungan, waktu aku katakan bahwa kami berlima tidak bisa masuk sekolah karena berhalangan.

Namun suatu ketika, kebingungan beliau terjawab. Saat pelajaran usai, kami berlima yang tunanetra berjalan beriringan dengan beliau. Terdengar suara beliau menghitung jumlah kami, kemudian menyeletuk.

Oh, ini yang dimaksud lima siswa?”

Iya, Bu. Maka dari itu di telepon saya katakan, kami berlima tidak masuk. Karena hari itu, dua orang di antara kami terperosok ke lubang galian dan terluka,” serempak kami menjawab.

Akhirnya beliau mengerti keterangan kami.

Demikianlah beberapa pengalaman yang tetap tersurat dalam ingatanku. Mengapa pengalaman-pengalaman itu selalu kuingat? Karena jika aku ingat akan perjuangan yang panjang dan melelahkan, aku bisa mensyukuri nikmat yang Alloh berikan sampai detik ini. Sesungguhnya masih sangat banyak pengalaman lainnya yang juga mengguncang jiwa, namun tekad yang kuat pantang menyerah membuatku bisa mengambil hikmahnya.

Pengalaman paling berharga yang tetap lekat dalam ingatanku adalah kedekatan kami dengan guru Bahasa Inggris dan Kesenian. Mereka pernah berkata bahwa jika semua murid seperti ini, mereka amat gembira serta tidak repot. Guru Kesenian menyuruhku mentransfer senandungnya ke dalam nada atau notasi. Sementara guru Bahasa Inggris sempat memberikan ulangan lisan di hadapan murid-murid kelas 3. Pada mulanya mereka cekikikan, sebab mereka mengira bahwa aku yang kelas 1 akan ikut ulangan bersama mereka. Padahal aku diberi ulangan sesuai ingatanku. Karena materi yang diberikan di kelas 1 sudah kukuasai semenjak kelas 3 SMP, aku dapat menjawabnya dengan cepat dan tepat. Pada waktu ulanganku ditunjukkan kepada mereka, mereka terheran-heran, mengapa aku bisa begitu cepat dan tepat menjawan ulangan lisan. Inilah asal-muasal kedekatanku dengan mereka, baik guru-guru atau pun para siswa di atas kami.

Tak kalah pentingnya juga, bahwa sejak bersekolah di luar Wyata Guna, aku bisa menggunakan tongkat. Padahal sebelumnya, aku sering menghindar bila mendengar ada orang bertongkat. Jadi, tak sedikit manfaat dari pendidikan terpadu yang dahulu disebut “integrasi” itu. Kini para inovator pendidikan mengubah istilahnya menjadi “pendidikan inklusif”.

Melalui pendidikan inklusif, para penyandang cacat tidak akan terbelakang lagi. Dengan adanya pendidikan inklusif, para penyandang cacat tidak akan kekurangan sekolah atau tempat belajar. Sebab semua sekolah umum dapat menerima atau memberlakukan sistem tersebut.

Para penyandang cacat dapat mengambil manfaat antara lain :

  1. Belajar bermasyarakat dan beradaptasi dengan berbagai karakter manusia.

  2. Lebih cepat memperluas wawasan dengan membaca koran dan buku-buku pengetahuan.

  3. Mudah serta tidak membatasi pergaulan.

  4. Mampu mengenali dunia luar secara cepat.

  5. Berusaha keras untuk dapat menolong diri sendiri.

  6. Menumbuhkan rasa percaya diri.

Mungkin masih banyak manfaat lain yang bisa menumbuhkembangkan berbagai aspek kehidupan serta bisa dijadikan bekal guna penghidupan masa depan. Pendidikan inklusif bagaikan angin surga yang akan membawa kesejukan, kenyamanan, bahkan membuahkan popularitas bagi para penyandang cacat. Semoga sistem pendidikan tersebut semakin tumbuh besar sehingga akarnya menghujam kuat di bumi tanah air kita tercinta. Amin.

Sistem ini telah banyak melahirkan para penyandang cacat netra yang profesional. Gelar dan profesi beragam yang berhasil diraih oleh para tunanetra telah menunjukkan bahwa pendidikan inklusif di era globalisasi ini adalah tepat bagi perwujudan cita-cita kejayaan bangsa kita, bangsa Indonesia.

Nikmatilah angin surga ini. Jadikan pendidikan sebagai penyejuk serta penyegar bagi para penyandang cacat umumnya, dan para tunanetra khususnya.

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013