PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

Kembali ke Melihat dengan Cara yang Berbeda

 

Hidupku Adalah Tanggungjawabku

Oleh Aria Indrawati

 

Sekilas Tentang Pendidikanku

Aku adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara, dan satu-satunya anak tunanetra dalam keluarga. Aku Lahir di Surabaya, tumbuh dan menghabiskan masa sekolah di Semarang. Aku Menjadi tunanetra sejak kecil, akibat katarak dini. Meski telah menjalani operasi baik pada mata kanan dan kiri, namun katarak telah mempengaruhi struktur syaraf mataku, dan mengakibatkan aku menjadi lemah penglihatan atau low vision.

Aku mulai sekolah pada usia lima tahun. Karena orang tua belum tahu bagaimana pendidikan untuk anak tunanetra sepertiku, mereka menitipkanku di sekolah tempat kakak-kakakku belajar, sambil terus mencari SLB untuk anak tunanetra di semarang.

TK dan beberapa bulan di kelas satu sempat kuhabiskan di SD Masehi Gergaji Semarang. Kemudian pindah ke SD Gedangan hingga menyelesaikan kelas satu, lalu pindah ke SLB swadaya. Di sana aku belajar selama empat tahun, karena aku sempat naik kelas dua kali dalam setahun, yaitu saat kelas dua dan tiga; itu adalah tahun pertamaku di SLB. Murid percobaan kata kepala sekolah waktu itu.

Seusai SLB, aku melanjutkan ke sekolah umum; SMP Negeri I semarang, SMA Negeri I Semarang, dan Universitas 17 Agustus Semarang. Keputusan untuk melanjutkan ke SMP umum setelah SLB adalah atas dorongan dari kepala sekolah SLB tempat aku belajar.

Meski pernah di sekolah umum sebelumnya, namun, setelah sempat masuk ke SLB dan kembali bersekolah di sekolah umum, aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali berbeda. Waktu penyesuaian diri ini sempat mempengaruhi prestasi belajarku. Namun, seiring dengan bertambahnya usiaku, bertambah pintar juga aku dalam menyesuaikan diri, dan bertambah baik pula prestasi belajarku.

 

Penolakan Dan Penghinaan

Pada kenyataannya, perjalanan tak senantiasa semulus yang tertulis di atas kertas. Memasuki sekolah umum bagi seorang murid tunanetra saat itu bukan hal yang mudah. Memang sudah ada contoh-contoh sebelumnya, namun, contoh-contoh tersebut adalah mereka yang mendapatkan kemudahan karena memiliki orang tua pejabat tinggi atau tokoh masyarakat.

Penolakan terkeras yang aku alami saat masuk ke SMA Negeri I Semarang. Setelah melalui upaya yang sangat luar biasa, akhirnya sekolah tersebut bersedia menerimaku belajar di sana, dan itu terjadi hanya satu hari sebelum sekolah dimulai.

Sebagai anak yang baru berusia 14 tahun kala itu, aku sempat bingung, mengapa sekolah tak bersedia menerimaku karena aku anak tunanetra. Bukankah menjadi anak tunanetra itu bukan keinginanku atau pilihanku?

Namun, aku tak mau menyerah. Penolakan itu justru membuatku punya tekad yang sangat kuat untuk belajar, dan berprestasi. Aku tanamkan pada diriku bahwa aku harus menjadi murid berprestasi, agar semua orang bisa “menghargai aku”, meski aku tunanetra.

Hal itu benar-benar terjadi. Setelah bekerja dan belajar keras, setelah penjurusan, - tentu saja aku masuk jurusan IPS -, di jurusan IPS ini aku masuk ke “kelas teladan”. saat naik ke kelas dua SMA, aku juara tiga di kelas.0 Dan, ketika lulus SMA, aku menduduki rengking kedua untuk kelas tiga jurusan IPS, dan untuk itu, namaku muncul di Koran Suara Merdeka sebagai murid berprestasi, dan olehkarenanya, ijasahku diterimakan kepada orang tua dalam pertemuan yang dihadiri oleh seluruh orang tua murid. Ini untuk pertama kalinya, menurutku, aku memberikan kebanggaan di muka umum kepada kedua orang tuaku.

Begitu pula saat belajar di perguruan tinggi. Setelah mengalami penolakan di universitas Negeri Diponegoro UNDIP, aku melanjutkan ke Fakultas Hukum universitas swasta 17 Agustus Semarang. Di sana aku juga tetap memiliki prinsip yang sama, belajar keras agar berprestasi, dan membuat setiap orang menghargai aku meski aku tunanetra. Usaha kerasku ini sempat membuat aku menerima bea siswa dari kampus, kuliah gratis. Dan karena bea siswa itu, sekali lagi namaku ada di Koran Suara Merdeka sebagai mahasiswa berprestasi.

Tak berhenti sampai di situ. Saat aku mulai belajar bekerja sebagai dosen di Fakultas Hukum Untag Semarang, tempat di mana aku belajar menyelesaikan strata satuku,aku juga sempat mengalami penghinaan dari petinggi universitas tersebut. Tapi, sekali lagi, aku selalu memaknai penghinaan sebagai tantangan, memberiku energi, untuk membuktikan bahwa meski aku tunanetra, aku juga bisa berprestasi, baik dalam belajar maupun bekerja.

Itu kubuktikan, saat merintis karir di Untag, aku sempat mengajar beberapa mata kuliah, bahkan mata kuliah yang dianggap “momok”, yaitu “kriminologi”. Itu semua karena kerja keras, membuktikan bahwa “aku bisa”.

 

Belajar Memiliki Prinsip Dalam Hidup

Sejak kecil aku telah diajari dan belajar memiliki prinsip dalam hidup, dan itu berawal dari hal-hal sederhana.

  1. Karena aku butuh bantuan teman-teman di sekolah untuk membacakan buku atau saat guru menulis di papan tulis, aku harus bisa jadi “teman yang baik dan menyenangkan” untuk semua teman-temanku.
  1. Saat aku ditolak sekolah atau kuliah, aku selalu ingin membuktikan bahwa meski aku tunanetra, aku juga bisa berprestasi dalam belajar.

    Dengan memiliki prestasi, orang akan menghargai aku, mengingatku, dan tidak akan meremehkan aku.
  1. Aku memahami dan menyadari pentingnya memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, karena dengan begitu aku bisa melakukan lebih banyak hal. Untuk itu, aku berusaha keras belajar bahasa Inggris, meski awalnya tidak mudah, namun, pada akhirnya aku bisa melakukannya, dan merasakan hasilnya sekarang.
  1. Aku belajar dan menydari pentingnya punya “cita-cita” atau “impian” dalam hidup ini. Dan untuk itu, aku selalu punya “impian” di setiap tahapan dalam kehidupanku, hingga kini.
  1. Begitu pula setelah menyelesaikan studi dan bekerja, aku senantiasa ingin melakukan pekerjaan yang belum banyak dikerjakan orang. Ini berarti pekerjaan itu memiliki banyak tantangan, namun, dengan belajar mengatasi tantangan satu per satu, aku menjadi orang yang lebih berarti, orang yang “spesial”, tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang lain. Dan,
  1. Sebagai manusia, aku tahu aku punya potensi, yang sering kali bahkan aku tidak mengetahuinya. Olehkarena itu, aku terus belajar mengenali diriku sendiri, potensi-potensi yang aku miliki, dan belajar mengembangkan potensi itu hingga menjadi kemampuan dan prestasi.
  1. Aku selalu merasa “masih hijau”, dengan begitu aku selalu bersemangat untuk belajar, apa pun itu, dengan membaca, mengikuti seminar, lokakarya, melakukan hal-hal baru, dll. Dengan terus merasa “masih hijau”, aku akan terus tumbuh dan berkembang, namun, jika aku merasa “sudah matang”, seperti buah, jika sudah matang maka tak lama lagi akan busuk, dan jika sudah busuk, maka tempatku adalah di keranjang sampah, tak berguna, dan dibuang.
  1. Dalam bekerja, aku tidak semata-mata hanya mencari uang, namun dengan bekerja aku “memberi” pada orang lain – dalam hal ini memberi kesempatan, pertolongan, dan lain sebagainya; dan dengan “memberi” aku pasti akan “mendapat”; jadi, makin banyak memberi, pasti akan makin banyak mendapat.
  1. Aku percaya, dilahirkan menjadi seorang tunanetra bukanlah sebuah “kebetulan”, tapi ini adalah “rencana Tuhan” untukku. Dan jika sesuatu itu merupakan “keputusan Tuhan”, aku percaya itu pasti yang “terbaik”. Olehkarenanya, meski sempat “marah” kepada Tuhan karena aku dijadikan seorang tunanetra, saat ini aku sangat “bersyukur dan bahagia” karena dipilih menjadi tunanetra, karena ini adalah “jalan” yang Tuhan berikan untuk mencapai kesuksesan dalam hidupku.
  1. Sebagai tunanetra, aku tidak mau terjebak dalam “stigma” bahwa tunanetra identik dengan “tukang pijit”, olehkarenanya aku berupaya merebut kesempatan belajar hingga ke perguruan tinggi. Dengan berpendidikan tinggi, aku belajar membangun dan membentuk pola piker yang lebih sistematis, lebih kritis, dan lebih konseptual; kedua kemampuan itu sangat berguna kemudian saat aku bekerja, meski saat ini pekerjaanku tak berkaitan langsung dengan bidang studi yang kupelajari.
  1. Aku adalah seseorang yang memiliki hobi membaca; dengan membaca aku bisa “menguasai informasi”, yang berarti juga “menguasai dunia”; di samping itu, aku juga suka “jalan-jalan”, itu sebabnya aku memilih pekerjaan yang mengharuskan aku banyak melakukan perjalanan.

 

Pekerja Sosial Profesional

Saat aku bersekolah, pemahamanku tentang pekerjaan sama dengan orang-orang pada umumnya; dokter, insinyur, guru atau dosen, pegawai negeri, bekerja di bank atau BUMN besar seperti Pertamina, telkom dll.

Sebagai sarjana hukum tunanetra saat itu, pilihanku tentu tak sebanyak teman-temanku yang tidak tunanetra. Jadi, aku mencoba pekerjaan yang waktu itu kurasa bisa kukerjakan, dan saat itu aku juga menyukainya, yaitu “menjadi dosen di universitas tempatku belajar”. Hal ini dipermudah, meski aku tunanetra, karena saat lulus sebagai sarjana hukum, aku berhasil meraih indeks prestasi tertinggi di antara sesama wisudawan yang satu jurusan denganku.

Secara teknis, Bekerja sebagai dosen tanpa dukungan alat bantu teknologi kala itu cukup menyita energiku, termasuk sempat membuat penglihatanku menurun. Namun, Secara akademis, tidak sulit bagiku menguasai bahan-bahan yang harus kupelajari.

Entah mengapa, ada kegelisahan tiba-tiba muncul di hatiku, setelah beberapa tahun mengajar. Ada sesuatu yang kurang, saat itu aku tak tahu apa. Lalu kudatangi Pertuni, Jawa Tengah, dan, ada sesuatu yang kudapatkan di sana. Beberapa tahun kemudian, aku baru mengetahuinya. “Impian masa kecilku, yang maasih tersimpan dengan sangat baik di pikiran bawah sadarku, bangkit kembali”, saat bertemu Pertuni.

Saat ditolak sekolah, aku bermimpi “jika tunanetra dapat mudah bersekolah di sekolah umum tanpa ditolak dan dihina, sehingga tunanetra juga bisa berpendidikan setinggi mungkin”. Saat tidak ada buku Braille untukku sehingga aku harus membuat buku sendiri, aku bermimpi, “aku mau bikin perpustakaan sendiri untuk tunanetra, sehingga tunanetra juga bisa berlimpah buku seperti mereka yang tidak tunanetra”.

Begitu bergabung dengan DPD Pertuni jateng, aku langsung diminta jadi pengurus, yaitu wakil ketua I yang antara lain bertugas membina relasi dengan lembaga lain. Agak bingung pada awalnya, tapi, kujalani saja, dengan ikhlas, atau belajar ikhlas lebih tepatnya. Dan, tanpa kusadari, aku belajar banyak dari kiprah awalku di DPD Pertuni Jateng selama lima tahun.

Dari kiprahku di Pertuni Jateng, aku mengenal Mitra Netra, tempatku bekerja sekarang. Dan dari Mitra Netralah aku belajar menjadi seorang “pekerja sosial profesional”, profesi yang di Indonesia masih “dipandang sebelah mata”, bahkan oleh keluargaku sendiri pada awalnya. Mereka meragukan, apakah dengan hanya bekerja di sebuah “yayasan” aku bisa hidup di Jakarta, dengan biaya hidup yang tidak murah.

Kujawab keraguan mereka tidak dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan dan bukti; aku tetap “hidup dan survive” hingga saat ini, dan “tidak merepotkan keluarga”, alhamdulillah, aku sangat mensyukuri karunia Tuhan yang tak terhingga ini.

Mitra Netra menawari aku posisi sebagai “Kepala Bagian Hubungan Masyarakat”, dan, tanpa pikir panjang, langsung aku terima, meski pekerjaan ini sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikanku. Namun, aku percaya, jika aku mau belajar, dan memang aku orang yang senang belajar, tak ada yang tak mungkin untukku, selagi pekerjaan itu adalah pekerjaan yang lebih membutuhkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi.

Hingga kini sudah sepuluh tahun aku bekerja bersama Mitra Netra, secara terus-menerus kubangun komitmen, konsistensi, ketrampilanku, penampilan diriku, dan segala hal yang diperlukan untuk menjadi seorang praktisi hubungan masyarakat, dan aku mulai menikmati hasilnya sekarang.

Aku telah memiliki reputasi, tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat menjadi salah satu pilar penting keberhasilan hidupku.

Ini salah satu contohnya. Sebagai Kabag Humas, salah satu tugasku adalah “menulis”. Untuk itu secara berkesinambungan dan konsisten aku belajar menulis. Dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi, contohnya Yahoo dan Google, kedua penyedia informasi terbesar di dunia ini juga mencatat prestasi serta karya-karya tulisku. Ini sangat memudahkanku dalam membangun reputasi. Siapa pun dia, jika ingin mengetahui lebih jauh prestasi seorang Aria Indrawati, dapat mencarinya melalui kedua mesin penyedia informasi tersebut.

Melalui teknologi informasi dan komunikasi kemudian aku juga merintis karir internasionalku.

Meski tingkat kesibukanku di Mitra Netra terbilang cukup tinggi atau kadang-kadang bahkan sangat tinggi, aku tetap tidak menolak saat Pak didi Tarsidi memintaku duduk sebagai Ketua III DPP Pertuni tahun 2004 lalu, dan tugas itu tetap kulanjutkan saat beliau terpilih kembali dalam Munas ke VII Pertuni tahun 2009. Dan, teknologi informasi dan komunikasi menjadi solusi yang sangat efektif dan efisien untuk mengatasi kesibukanku di Mitra Netra, sehingga tetap bisa menjalankan tugas sebagai Ketua III DPP Pertuni.

Ketua III DPP Pertuni adalah salah satu Ketua yang membidangi pengembangan program. Dan, dalam kapasitasku itu, sejak tahun 2006 Ketua Umum memintaku mengkoordinatori kerja sama antara Pertuni dan International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) serta The Nippon Foundation (TNF) dalam gerakan kampanye global bertajuk “higher education for student with visual impairment”; pendidikan tinggi untuk siswa tunanetra. Gerakan ini memperjuangkan kemudahan bagi tunanetra agar mereka dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin; kemudahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kemudahan fasilitas. Sasaran utama gerakan ini adalah “perguruan tinggi di seluruh Indonesia”. Namun, dalam implementasinya, DPP Pertuni juga bekerja sama dengan pemangku peran terkait, termasuk Pertuni Daerah yang dipandang mampu melakukannya, satu di antaranya adalah DPD Pertuni Jawa Tengah.

Tidak hanya di Pertuni, di Mitra Netra pun aku juga berkesempatan merintis dan mengembangkan karir internasionalku.

Beberapa kali Mitra Netra menugasi aku mewakilinya di pertemuan-pertemuan di tingkat regional. Di antaranya Asia Pacific Development Center on Disability, Asean Blind Leader Dialog, ON-serta NET. Sebenarnya, bulan Agustus mendatang, baik Mitra Netra dan Pertuni juga menugasi aku mewakili kedua lembaga ini melakukan presentasi di konferensi dunia ICEVI, yang rencananya akan diselenggarakan di Bangkok. Namun, karena kondisi politik Bangkok yang sempat memanas tiga bulan terakhir, konferensi tersebut ditunda.

 

Membangun Pola Pikir yang Positif

Jika kutelusuri kembali perjalanan hidupku, keberhasilanku selama ini dimulai, dan didorong dengan lebih cepat, saat aku mulai dapat “memaknai secara positif segala sesuatu yang terjadi pada diriku”.

Dipilih untuk Dilahirkan sebagai tunanetra; ditakdirkan hidup di Indonesia di mana pemerintah sangat lemah; dengan situasi yang masih sangat diskriminatif; ini memberi kesempatan pada diriku untuk berperan lebih banyak, mengupayakan peningkatan kualitas hidup tunanetra. Di sinilah selama sepuluh tahun terakhir aku membangun reputasiku, sebagai seorang pekerja sosial profesional, seorang advokator, pembela hak-hak kaum tunanetra, terutama di bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.

Meluruskan niat saat memulai sesuatu – dengan disertai doa pada Tuhan --, mengoptimalkan usaha dalam mewujudkan niat itu, Berusaha tidak mengeluh saat menghadapi kesulitan, memaknai hambatan sebagai tantangan yang harus dilewati; dan menerima bagaimana pun hasilnya dengan “tawakal”, dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah yang terbaik untukku saat itu.

 

Konsisten Mengupayakan Perubahan

Saat ini aku sedang belajar menjadi seorang “wira usahawan sosial”. Strategi yang mulai tumbuh subur di Indonesia, agar organisasi non pemerintah seperti Mitra netra dan Pertuni dapat terus berkesinambungan, karena bisa membiayai dirinya sendiri, dan tidak tergantung pada donasi dan subsidi pemerintah yang jumlahnya sangat terbatas. Caranya adalah, dengan merintis usaha ekonomi produktif, yang memberikan keuntungan, dan semua keuntungan yang dihasilkan akan digunakan untuk membiayai perjuangan dan kegiatan organisasi non pemerintah tersebut.

“Hodupku adalah tanggungjawabku”. Meski aku tunanetra, tak pernah sedikit pun terbersit di pikiranku, akan menggantungkan hidupku pada orang lain, termasuk saudara sendiri – kakak, adik, dan siapa pun. Apa pun yang terjadi, akulah orang yang paling bertanggungjawab pada kehidupanku sendiri. Jika aku ingin berhasil, akulah yang harus mengupayakannya. Jika aku tak berupaya, jangan harap akan mencapai keberhasilan dalam hidupku.

Dalam usahaku mencapai perubahan, aku sangat percaya pada “pendidikan”. Aku menempuhnya mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Aku berkesimpulan, pendidikan dasar dan menengah memang penting, - wajib ditempuh -, sedangkan “pendidikan tinggi” adalah jalan strategis menuju “perubahan”.

Menyadari hal tersebut, dalam kapasitasku sebagai Ketua III DPP Pertuni, yang mendapatkan tugas mengkampanyekan “Higher education” untuk tunanetra, aku melakukannya dengan penuh semangat, dengan segenap hati serta pikiranku. Semua itu kulakukan, karena aku memimpikan ada lebih banyak tunanetra di Indonesia berhasil menempuh dan menyelesaikan pendidikan tinggi; S1, S2, dan bahkan S3. Dengan cara inilah aku ingin mempercepat terjadinya “perubahan” di tanah air yang sangat kucintai ini.

Sebagai mahluk yang meyakini keberadan Tuhan, aku menjadikan Dzat yang Maha Besar itu sebagai “rujukan utama”. Jadi, apa pun yang kuhadapi, rujukanku adalah Tuhanku.

Kiranya apa yang kutulis ini bisa sedikit memberikan informasi dan inspirasi pada peserta workshop, yang dihadiri oleh siswa-siswa tunanetra, dalam tahap persiapan memasuki pendidikan tinggi di Jawa Tengah.

Jakarta, 22 Juni 2010.

 

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013