PERTUNI Logo

PERTUNI
Persatuan Tunanetra Indonesia
Indonesian Blind Union

Kembali ke Melihat dengan Cara yang Berbeda

 

Glokoma teman karibku untuk ingat tuhan

Oleh Suryandaru, S.H

Disajikan dalam acara peringatan Hari Glaukoma Internasional tanggal 6 Naret 2008

 

A. Riwayat Kehilangan Penglihatan

Saya dilahirkan tahun 1972 sebagai bayi premature delapan bulan. Saat kelahiran tidak ada tanda kelainan dan tidak perlu masuk incubator karena suhu udara Semarang saat itu sangat panas.

Dalam perjalanan saya dikenal sebagai anak yang ceria, criwis, dan pemberani. Jika ada mainan yang dibawa teman tanpa izin, maka tidak segan meminta kembali tanpa takut siapa pun teman itu.

Salah satu kebiasaan semasa kecilku  adalah tiap Minggu pagi berjalan-jalan dengan orang tua keliling kampung. Tiap jalan-jalan, saya tidak mau digandeng dan selalu berlari mendahului orang tua. Namun suatu saat saya tidak mau berlari di depan dan minta gandeng bapak. Orang tua tentu saja heran dan keheranan mereka bertambah saat saya sedang bermain, dan mainan tidak terlihat saat mainan berada di arah depan  mata tetapi akan terlihat jika berada di arah ekor mata. Keheranan dan kebingingan mereka bertambah lagi saat saya tidak mau menonton pesawat TV yang baru mereka beli.

Orang tua menyikapi hal itu dengan membawaku ke dokter anak. Mereka menceritakan semua kejadian tersebut, termasuk tanda-tanda fisik mata yang saat itu nampak yaitu bola mata memerah dan banyak mengeluarkan kotoran. Dokter anak meminta pemeriksaan lebih lanjut oleh seorang dokter ahli mata.
 
Pemeriksaan dilakukan dokter mata secara teliti. Beliau menyatakan semua organ mata normal. Beliau selanjutnya mendiagnosa bahwa saya alergi ikan laut dan memberi obat tetes Cendo Xitrol. Kebetulan saya gemar ikan laut, sehingga orang tua menerima diagnosa dokter.

Pemberian tetes Cendo Xitrol dilakukan selama dua tahun hingga usiaku empat tahun. Selama itu pula kondisi penglihatanku tidak membaik.  Dua tahun itu tiap kami control dokter selalu menyatakan organ mata normal dan baik.

Kondisi itu berubah saat tahun kedua. Ibuku yang tidak tahan melihat penglihatan mataku yang tidak membaik memohon dokter lebih teliti dalam memeriksa. Pemeriksaan kali ini membuat dokter kaget karena saraf mataku sudah memucat. Beliau meminta orang tuaku membawaku ke ahli Glokoma di Jakarta atau Surabaya, tetapi beliau lebih condong ke dr.Sri Nagar di Jakarta.

Di Jakarta kami menemui dr.Sri Nagar di rumah prakteknya. Beliau menyatakan saya terkena Glokoma dan harus segera dioperasi untuk menyelamatkan sisa penglihatanku.

Operasi berjalan lancer dan berhasil menurunkan tekanan bola mata tetapi tidak mampu memulihkan penglihatanku. Saat itu penglihatanku masih dapat melihat objek walupun dalam jarak dekat.

Dokter berpesan agar control sering dilakukan, tetapi kkarena mengingat jarak Semarang-Jakarta yang jauh maka beliau mempersilahkan control ke Jakarta dilakukan selama setahun sekali dan control di Semarang yang lebih dirutinkan. Beliau juga memintaku tidak mengangkat barang yang berat dan melakukan gerakan yang menghentak.    

 

B. Perjalanan Penanganan Medis

Sejak dilakukan operasi pada tahun 1976 (usiaku empat tahun), tekanan bola mata normal. Kontrol kami lakukan rutin di Semarang dan setahun sekali ke Jakarta. Oleh karena kondisi normal maka saya tidak mengkonsumsi obat sama sekali.

Kondisi mulai berubah saat tahun 1984, saat itu tekanan bola mataku naik tidak terkendali. Apa sebab tekanan itu naik kami tidak tahu, tetapi mungkin karena beban sekolahku yang meningkat karena saat itu saya duduk di kelaslima SD. Sejak saat itu obat mulai kukonsumsi dan setelah obat tersebut rutin dikonsumsi, tekanan menjadi terkendali walupun tidak normal. Larangan beberapa jenis makanan pun mulai diterapkan seperti coklat, kopi, buah durian, daging kambing, dan minuman dan makan berakohol dan bercola.

Tahun 1986 operasi kedua dilakukan. Hal ini karena tekanan bola mata meningkat walaupun obat dan tetes kukonsumsi. Operasi berikutnya makin sering kujalani, yaitu tahun 1992 dan antara 1996-1998 operasi dilakukan dua bulan sekali.

Tiap kali operasi penglihatanku mengalami penurunan yang tajam. Ada pun operasi terakhirku adalah tanggal 18 Agustus 1998 karena sejak operasi itu dunia tunanetra total mulai kujalani.   

Berbagai penanganan untuk menurunkan tekanan bola mata kujalani mulai dari mengkonsumsi obat minum dan tetes, operasi membuka saluran cairan bola mata dengan bius total maupun bius local, penggunaan sinar laser, dan penerapan operasi dengan mematikan sel saluran cairan bola mata dengan Mitomicin maupun pemroduksi cairan bola mata dengan memakai es. Satu metoda yang belum kujalani, yaitu metoda Ahmad yang membuat saluran pembuangan cairan bola mata denganmenanam semacam pipa. Alasan dokter saat itu tidak menerapkan metoda Ahmad adalah karena takut tubuhku tidak menerima fisik pipa sebagai benda asing.

 

C. Perjalanan Studi Sebelum dan Sesudah Buta Total

Setelah operasi yang pertama pada tahun 1976 saya tumbuh menjadi anak seprti anak-anak pada umumnya. Saya bermain dan bersosialisasi normal. Perbedaannya hanyalah ketidakmampuanku melihat objek dari jarak jauh. Hal itu berkat orang tuaku berusaha memperlakukan secara wajar tanpa berusaha memanjakan.

Pendidikan kutempuh di sekolah umum mulai TK hingga Perguruan Tinggi dengan lancer tanpa “nunggak”. Sekolah-sekolah yang pernah kujalani merupakan sekolah favorit, mulai SD PL Bernardus Semarang, SMP PL Domenico Savio Semarang, SMA Negeri 3 Semarang, S1 Fakultas Hukum Undip, dan sekarang sedang belajar di S1 Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Apakah perjalanan studiku tanpa hambatan dan kendala? Tentu ada kendala dan hambatan. Kendala dan hambatan itu antara lain :

  1. saat di TK, orang tuaku lupa memberi tahu kepada guru bahwa saya mempunyai keterbatasan penglihatan. Tiap kali harus membaca tulisan di papan tulis, saya tidak bisa. Hal itu dikira oleh guru, bahwa saya malas dan efeknya saya menjadi trauma dan tidak mau sekolah. Orang tua melihat gejala itu dan membicarakan dengan guru. Dalam pembicaraan itu diutarakan bahwa saya mempunyai keterbatasan penglihatan. Orang tua meminta izin agar saya diizinkan maju ke papan tulis untuk membaca dari jarak yang lebih dekat. Solusi ini cukup mengatasi masalah dan melancarkan perjalanan studiku.
  2. Pada saat skripsi di Fakultas Hukum Undip, seorang dosen pembimbingku menolak membimbing. Alasan beliau saat itu adalah saya mempunyai keterbatasan penglihatan sehingga tidak mampu membaca buku sebagai bahan skripsi dalam jumlah banyak. Solusi waktu itu adalah saya ganti dosen pembimbing dan skripsiku lancar.

 

D. Alat-alat Bantu

Alat-alat Bantu yang pernah dan sedang kugunakan dalam aktivitas membaca antara lain :

  1. kaca pembesar, baik dalam bentuk sigar penjalin maupun lup
  2. teropong medan dalam ukuran kecil
  3. CCTV
  4. computer bicara
  5. scanner

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Sumendar, drs. Wardoyo, MBA (pamanku sediri), Prof. Dr. Sigit Muryono (PR 1 Undip waktu itu), dan Prof. Pramutadi (Direktur Prasarana Akademis Departemen P dan K waktu itu) yang telah memberi kaca pembesar sehingga membantu proses belajarku dan Udinus yang telah melatih mengoperasikan computer bicara sehingga melancarkan aktivitas belajar dan kegiatan-kegiatan lain dalam proses kehidupan.

 

E. Pemberontakan Terhadap Proteksi

Pada hari Jumat setelah solat Jumat (maaf lupa tanggal, bulan, dan tahunnya), saya bicara kepada bapak untuk meminta izin beraktivitas sesuai kemampuan sebagai tunanetra tanpa harus sibuk menjawab :seluruh” pertanyaan beliau. Perlu diketahui, bahwa sebagai wujud perhatian orang tua, tiap kali akan melakukan kegiatan perlu menjawab banyak sekali pertanyaan dari mereka. Pertanyaan itu sebetulnya untuk menggali informasi agar mereka tahu persis kegiatan yang akan saya lakukan.

Mengapa menjawab petanyaan saja menggangguku? Pertanyaan itu bernada cemas sehingga wujud pertanyaan itu “kurasakan sebagai belenggu”. Saya sebagai tunanetra yang sedang mencoba bangkit merasa lelah jika tenaga yang akan dipakai untuk bangkit terkuras untuk menjawab pertanyaan yang menyelimuti tiap gerak.

Lalu di manakah posisi orang tua yang kuharap? Sungguh saya harap mereka cukup mengamati gerakku saja tanpa terlibat di dalamnya. Mereka kuharap terlibat saat kuminta bantuannya yaitu saat kemampuanku terbentur pada kondisi sudah tidak bisa lagi.

 

F. Titik Balik Pencerahan

Kebingungan menghadapi kondisi tunanetra mencapai titik puncaknya. Kondisi putus asa mulai menyelimuti jiwa. Ketidaktahuan harus menyikapi keadaan tunanetra membuatku makin terpuruk.   
 
Kondisi ini kuadukan kepada Allah SWT dalam doa-doaku. Saat itu ada ilham yang kuterima dan masuk dalam alam pikiranku, “Mengapa sedih? Dalam Kondisimu yang buta itu justru kamu dapat melihat keagungan Tuhanmu yang tidak cacat dan Maha Sempurna”.

Ilham itu merupakan titik balik semangatku untuk bangkit. Oleh karena itu judul tulisan ini adalah “Glokoma teman Karibku Untuk Ingat Tuhan” karena tiap sadar bahwa saya buta, maka ddi saat itulah ingat kepada Tuhan. Ingat kepada Tuhan itulah yang mengobarkan semangatku.

 

G. Organisasi Sebagai Terapi Sosial

Pada kondisi sudah tunanetra total, timbul pertanyaan Lalu harus bagaimana? Pertanyaan ini bermaksud bahwa hidup masih harus dijalani, apakah harus diam saja padahal hidup terus berjalan? Tentu tidak. Hidup harus dijalani dengan menyikapi sesuai kondisi apa pun yang terjadi.

Di posisi inilah teman seperjuangan sangat diperlukan. Di manakah teman yang seperjuangan bisa diperoleh? Mereka bisa kita peroleh jika mendatangi komunitasnya.

Maka aku bergabung dengan Pertuni Cabang Semarang. Sesama penyandang tunanetra dapat memberi kontribusi berupa pengalaman-pengalaman selama mereka menjalani hidup sebagai tunanetra. Berbagai pengalaman dengan alat Bantu khusus bagi tunanetra dan cara menggunakannya, peluang mata pencaharian, cara berkomunikasi baik sesama tunanetra maupun dengan non tunanetra (biasa disebut orang awas), cara mencari pasangan hidup, dan lain-lain. Bergaul dengan sesama penyandang cacat juga memberi dukungan psikis untuk melanjutkan hidup dan berinteraksi dengan mereka yang bukan penyandang cacat.

 

H. Proses Pacaran dan Pernikahan

Salah satu proses dalam hidupku yang penting adalah menemukan pasangan hidup. Dalam perjalanan hidupku mengalami dua kali proses pacaran.

Pada tiap kali berpacaran saya selalu berusaha membuka semua informasi tentang keterbatasan penglihatanku. Perlu diketahui pacaran yang pertama kujalani saat penglihatanku masih cukup mampu untuk memandang objek dalam jarak dekat walaupun proses menuju tunanetra total sangat terasa (tahun 1995-1996). Ada pun pacaran kedua kujalani dalam kurun waktu sejak masih dapat melihat dan mulai tunanetra total (tahun 1996-2001).  

Saya pernah datang berkunjung ke rumah pacar dalam keadaan mata masih terbungkus perban karena habis operasi. Saya juga pernah menunjukkan keadaan bola mata yang kotor dan merah setelah operasi. Mengapa hal itu kulakukan? Ini merupakan sarana mencapai suatu keterbukaan bahwa mereka harus tahu dari awal keadaanku tanpa kedok sedikit pun. Cara ini ternyata efetif untuk modal membangun kesamaan pola piker untuk menuju kesamaan pola tindak dalam jenjang kehidupan berikutnya.

 

I. Mata Pencaharian

Salah satu kesulitan besar dalam hidup sebagai tunanetra adalah dalam menjemput rejeki dari Allah SWT. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa lapangan kerja tunanetra di Indonesia sangat terbatas.

Pada umumnya tunanetra di Indonesia bekerja sebagai pemijat. Ada juga yang menjadi pengajar dan pekerjaan lain seperti pemusik, penyanyi, dan sekarang mulai ada sebagai operator telepon. Pekerjaan apa yang dapat kulakukan untuk menjemput rejeki Tuhan? Pemijat tidak bisa karena saya tidak biasa melakukan pekerjaan berat. Pengajar tidak dapat kulakukan karena tidak mampu membaca literatur, lagi pula lowongan ke sana tidak ada. Pemusik atau penyanyi tidak dapat sebab tidak punya kemampuan musik. Sedangkan untuk belajar menjadi operator telepon saat itu tidak dapat kulakukan karena untuk menuju ke tempat pelatihan tidak dapat kujalani. Pelatihan menjadi operator dilakukan di Jakarta, saya tidak dapat mobilitas sendiri secara mandiri di tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.   

Pada saat itu saya bingung harus melangkah ke mana untuk bekerja. Saat itulah pertolongan Allah SWT datang. Calon ibu mertuaku usul mendirikan usaha Warung Telkom (Wartel). Usaha inilah yang mulanya kujalani. Modal pendirian berasal dariku, sedangkan yang mengoperasikan calon istriku bersama keluarganya. Usaha ini berkembang sehingga sekarang saya punya dua wartel dengan macam produk yang dijual beraneka macam tidak hanya jasa telekomunikasi saja.

 

J. Anakku Hampir Jadi Korban Salah Obat Seperti Bapaknya

Pada saat kelahiran anakku, RS Telogorejo mengambil langkah yang luar biasa. Mereka meminta dokter mata melalui dokter anak untuk memriksa  apakah anakku ada kemungkinan menurun Glokoma dari bapaknya.

Hasil pemeriksaan dokter mata yang diberitahukan kepadaku melalui dokter anak adalah anakku dikatakan mempunyai kemungkinan berlensa silindris dan kapiler saluran cairan bola matanya kecil.

Pada usia 40 hari, bola mata anakku memerah dan banyak mengeluarkan air mata. Kami memeriksakannya ke dokter mata yang memriksanya saat baru lahir. Beliau kaget saat tahu bahwa anakku mempunyai bapak penderita Glokoma. Beliau memintaku memeriksakan anakku ke dokter mata yang khusus Glokoma.

Permintaan itu kuterima sebagai saran tetapi belum kujalankan karena konsentrasi kami masih pada penyembuhan bola mata anakku yang memerah, lagi pula sepengetahuanku dokter Glokoma saat itu di kota Semarang tidak ada karena dr.Siti Cahyono telah meninggal. Satu-satunya jalan adalah membawanya ke dr.Sri Nagar di Jakarta karena beliau dokter yang telah kukenal dan tahu riwayat penyakitku. Sedangkan untuk membawa ke Jakarta bayi usia 40 hari adalah sangat berisiko tinggi.

Oleh karena kami tidak segera membawa Gadang anakku ke Jakarta, dokter mata Semarang itu akan memberi obat Glokoma. Saya menolak dengan tegas karena menurutku tindakan pemberian obat Glokoma itu adalah berdasar kekhawatiran saja dan bukan diagnosa setelah pemeriksaan.   

Oleh karena bingung harus berbuat apa, saya menelpon dr.Sri Nagar. Beliau menyatakan, bahwa Glokoma yang kusandang adalah karena kkesalahan pemberian obat, maka kemungkinan menurun insya Allah tidak ada. Berkaitan dengan Gadang, beliau menyarankan pemeriksaan kepada drVivin Lutfia Rahmi di Semarang karena saat ini sedang menekuni Glokoma.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Gadang tidak ada tanda-tanda Glokoma. Bola mata yang merah dan banyak mengeluarkan air mata karena saluran pembuangan air matanya belum sempurna. Langkah untuk memastikan adanya Glokoma atau gangguan penglihatan lainnya adalah jika bayi telah berumur enam bulan. Jika pada umur itu bayi belum respon terhadap objek di sekitarnya, maka harus diperiksa kesehatan penglihatannya. Syukurlah mulai sejak sebelum enam bulan Gadang merespon objek di sekitarnya dengan baik sehingga insya Allah Glokomaku tidak menurun kepada Gadang.

 

 

Updated February 2013 © PERTUNI 2013